Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Desember 2012

Nasehat Solihin mengenai Hati


"Hati dan jasad adalah seperti seorang tuna netra ( orang buta ) dan seorang lumpuh memasuki sebuah kebun. Si lumpuh berkata kepada sang tuna netra, "Aku bisa melihat buah-buahan yang ada di kebun ini tetapi tidak dapat memetiknya, karena aku lumpuh. Kau tidak dapat melihatnya, tetapi kau tidak lumpuh. Gendonglah aku." Sang tuna netra menggendong si lumpuh, dan memetik buah-buahan tersebut, kemudian mereka memakannya.
Ruh dan jasad bekerja sama untuk berbuat maksiat kepada Allah swt, maka keduanya layak mendapat siksa."
( Sayyidina Salman Al-Farisi )

 “Orang yang berhati hasud (dengki) tidak akan meraih kemuliaan dan orang yang suka dendam, akan mati merana. Sejelek-jeleknya saudara adalah yang selalu memperhatikan dirimu ketika kamu kaya dan ia menjauhi kamu, ketika kamu dalam keadaan melarat. Bersikap rela terhadap taqdir Allah swt yang tidak menyenangkan adalah merupakan martabat yang tinggi.” ( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Jika telah ada akar yang tertanam dalam kalbu, maka lidah akan berperan sebagai pemberi kabar cabangnya.”
( Imam Syafi’i )

"Doa' kalian tidak terkabul karena hati kalian telah mati, dan penyebab matinya hati kalian adalah sepuluh Hal : 1. Kalian mengenal Allah swt, tetapi tidak memenuhi hak-haknya.
2. Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah saw, tetapi tidak mengikuti sunah-sunahnya.
3. Kalian membaca Al-Qur'an , tetapi tidak mengamalkan isinya.
4. Kalian menikmati berbagai karunia Allah swt, tetapi tidak bersyukur kepadanya.
5. Kalian nyatakan setan sebagai musuh, tetapi tidak menentangnya.
6. Kalian nyatakan surga itu benar-benar ada, tetapi tidak beramal untuk memperolehnya.
7. Kalian nyatakan neraka itu ada, tetapi tidak berusaha untuk menghindarinya.
8. Kalian nyatakan kematian itu pasti datang, tetapi tidak bersiap-siap untuk menyambutnya.
9. Sejak bangun tidur kalian sibuk meneliti dan memperbincangkan aib ( keburukan ) orang lain dan melupakan aib ( keburukan ) kalian sendiri.
10. Kalian kuburkan mereka yang meninggal di antara kalian, tetapi tidak pernah memetik pelajaran darinya.
( Syekh Ibrahim bin Adham )

“Sedikit amal dari hati menyamai amal seluruh manusia dan jin.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Hendaknya kalian senantiasa menghadirkan hati kalian kepada Allah SWT dan hendaknya kalian bertawakal kepadanya sepenuh hati, sebab Allah SWT mengetahui di manapun kalian berada.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

"Orang yang menggunakan masa sehatnya untuk bermaksiat kepada Allah swt adalah seperti seorang anak yang mendapat warisan dari ayahnya sebesar seribu dinar, kemudian ia gunakan semua uang itu untuk membeli ular dan kalajengking yang sangat berbisa yang kemudian mengelilingi dan menggigitnya. Bukankah ular dan kalajengking tersebut akan membunuhnya?
Kamu gunakan masa sehatmu untuk bermaksiat kepada Allah swt, maka nilaimu adalah seperti burung pemakan bangkai yang terbang berkeliling mencari bangkai, dimana pun ia dapatkan, maka ia segera mendarat.
Jadilah seperti tawon, kecil tetapi memiliki cita-cita yang mulia. Ia hisap wewangian dan ia produksi madu yang enak.
Engkau sudah terlalu lama bergelimang kemaksiatan, kini terjunlah ke dalam hal-hal yang dicintai Allah 'Azza wa Jalla.
Telah kujelaskan hakikat permasahan ini kepadamu, tetapi orang yang lalai tidak akan sadar meskipun memperoleh berbagai rencana. Sebab wanita yang kurang waras akalnya ketika putranya mati, ia justru tertawa. Begitu pula dirimu, engkau tinggalkan shalat malam, puasa sunah dan berbagai amal shaleh lain yang dapat kau kerjakan dengan seluruh anggota tubuhmu, tetapi tidak sedikitpun engkau merasa sakit. Kelalaian telah membunuh hatimu. Orang hidup akan merasa sakit ketika tertusuk jarum, akan tetapi, sesosok mayat tidak akan merasa sakit meskipun tubuhnya di potong-potong dengan sebilah pedang. Saat ini hatimu sedang mati, karena itu duduklah di majelis yang penuh hikmah,sebab, di dalamnya terdapat hembusan karunia dari surga. Hembusan karunia itu dapat kamu temukan di rumahmu, di perjalananmu. Jangan tinggalkan majelis hikmah ( majelis ilmu ), andaikata dirimu masih melakukan banyak maksiat, jangan berkata : Apa manfaatnya aku datang ke majelis ilmu, sedangkan aku senantiasa bermaksiat dan tidak mampu meninggalkannya.
Akan tetapi, lepaskan busur panahmu selalu, jika hari ini tidak tepat sasaran, bisa jadi besok tepat sasaran."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

"Jika ingin membersihkan air maka akan kau singkirkan segala hal yang dapat mengotorinya. Anggota tubuhmu ini seperti selokan-selokan yang bermuara ke hati. Karena itu jangan kau alirkan kotoran ke dalam hatimu, seperti pergunjingan, pengadu dombaan, ucapan yang buruk, pandangan yang haram dan lain sebagainya. Hati akan bercahaya dengan memakan makanan halal, berdzikir, membaca Al-Qur'an dan menjaga mata dari pandangan yang tidak mendatangkan pahala, pandangan yang kurang disukai agama dan pandangan yang haram. Jangan biarkan matamu memandang sesuatu, kecuali jika pandangan itu menambah ilmu dan hikmahmu."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

“Jika seorang hamba memedulikan penyakit hati seperti penyakit badan, niscaya mereka akan mendapatkan tabib di hadapan mereka. Tetapi, sedikit sekali yang membahas masalah ini, karena mereka telah dikuasai nafsu dan akal.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )

“Hati yang bersih siap menerima karunia-karunia Allah swt. Sedang hati yang kotor tidak dapat menampung karunia Allah swt.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Hati manusia seperti Baitul Ma’mur. Setiap hari ada 70.000 malaikat yang thawaf mengelilinginya hingga hari kiamat. Dalam 24 jam hati 70.000 bisikan dan setiap bisikan dipegang oleh seorang malaikat.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

"Ketahuilah bahwa Allah swt akan memberikan kepada hambanya segala apa yang dipanjatkan sesuai dengan niatnya. Menurut saya Allah swt niscaya akan mendatangkan segala nikmat-Nya di muka dunia, dengan cara terlebih dahulu Dia titipkan di dalam hati hamba-Nya yang berhati bersih. Untuk itu kemudian dibagi-bagikan kepada hamba-Nya yang lain. Amal seorang hamba tidak akan naik dan diterima Allah swt kecuali dari hati yang bersih. Ketahuilah wahai saudaraku, seorang hamba belum dikatakan sebagai hamba Allah swt yang sejati jika belum membersihkan hatinya!“
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

"Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, hati yang ada di dalam ini ( sambil menunjuk ke dada beliau ) seperti rumah, jika dihuni oleh orang yang pandai merawatnya dengan baik, maka akan nampak nyaman dan hidup; namun jika tidak dihuni atau dihuni oleh orang yang tidak dapat merawatnya, maka rumah itu akan rusak dan tak terawat. Dzikir dan ketaatan kepada Allah swt merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati.“
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

Sumber: http://wasiatnasehat.blogspot.com

Jumat, 14 Desember 2012

Hakikat Permusuhan Dengan Siapakah?


Kerosakan demi kerosakan berlaku di dunia dan di dalam masyarakat manusia adalah suatu yang pasti akan berlaku. Lihatlah darah umat Islam tidak lagi berharga bahkan darah seekor harimau lebih berharga dan penting bagi manusia. Pembunuhan demi pembunuhan berlaku di atas tujuan keamanan dan kebebasan yang dianjurkan oleh kuasa barat atau kuasa kafir. Keruntuhan akhlak dan budaya Islam juga berlaku satu persatu adalah lambang permusuhan yang akan berlaku sehingga kiamat di antara azazil dan manusia.


Tahukah kita siapa sebenar musuh kita? Tahukah kita siapa yang menyusun atur pembunuhan umat manusia dari segi fizikal, mental dan akidah? Tahukah kita siapa yang menjadi ‘tok dalang’ untuk konspirasi membawa semua manusia (keturunan Adam) kembali kepada alam akhirat bersamanya dalam neraka Jahanam? Tahukah kita siapa proksi-proksi yang dijadikan azazil untuk membawa mesej dan ‘menyihirkan’ umat manusia agar bersamanya ke dalam neraka?

Keimanan vs kekufuran, cahaya vs kegelapan, mahmudah vs mazmumah dan haq vs batil adalah perkara yang akan berterusan berlaku ke atas umat manusia. Siapa memilih keimanan maka ia telah memilih cahaya Allah melalui Nabi-nabi dan Rasul-rasul dan sesiapa yang memilih kekufuran maka ia telah memilih kegelapan melalui jalan iblis atau syaitan.

Permusuhan awal yang berlaku adalah di antara Azazil dan Nabi Adam A.S. Kita wajib memahami bahawa ‘permusuhan’ ini akan berlaku sehingga ke hari kiamat. Renungi dan fahami akan
Firman Allah swt yang bermaksud;
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya".[Al-Baqarah 30]

Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: "Tunduklah (beri hormat) kepada Nabi Adam". Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur, dan menjadilah ia dari golongan yang kafir. [Al-Baqarah 34]

Dan kami berfirman: "Wahai Adam! Tinggalah engkau dan isterimu dalam syurga, dan makanlah dari makanannya sepuas-puasnya apa sahaja kamu berdua sukai, dan janganlah kamu hampiri pokok ini; (jika kamu menghampirinya) maka akan menjadilah kamu dari golongan orang-orang yang zalim". [Al-Baqarah 35]

Setelah itu maka Syaitan menggelincirkan mereka berdua dari syurga itu dan menyebabkan mereka dikeluarkan dari nikmat yang mereka telah berada di dalamnya dan Kami berfirman:
"Turunlah kamu! Sebahagian dari kamu menjadi musuh kepada sebahagian yang lain dan bagi kamu semua disediakan tempat kediaman di bumi, serta mendapat kesenangan hingga ke suatu masa (mati)".
 [Al-Baqarah 36]
Kami berfirman lagi: "Turunlah kamu semuanya dari syurga itu! Kemudian jika datang kepada kamu petunjuk dariKu (melalui Rasul-rasul dan Kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka), maka sesiapa yang mengikuti petunjukKu itu nescaya tidak ada kebimbangan (dari sesuatu yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacita".[Al-Baqarah 38]
Kenali siapa musuh
Sebenarnya makhluk yang bernama Azazil inilah musuh kita yang sebenarnya. Diberi nama Iblis kerana keingkaran dia untuk mematuhi perintah Allah. Permusuhan dan kedengkian Iblis bermula setelah Allah mengkafirkan dan menghalau dia dari Syurga. Semua makhluk ciptaan Allah adalah berasal dari Syurga. Lantaran keangkuhan dan kesombongan Iblis maka dikeluarkan Iblis dari syurga dan begitu juga terkeluarnya Nabi Adam AS bersama Hawa dari syurga disebabkan terpengaruhnya baginda dan isteri dengan bisikan Iblis yang penuh tipu daya.

Setelah nabi Adam as dan Hawa terkeluar dari Syurga, maka hiduplah mereka berdua di bumi. Setelah itu, bermulalah kelahiran zuriat dan keturunan nabi Adam. Iblis juga telah berjanji dan meminta izin di hadapan Allah akan mengajak dan menyesatkan keturunan Adam as sehingga ke hari kiamat. Allah membenarkan janji Iblis dan memberi tempoh kepada Iblis serta juga memberi peringatan bahawa Iblis tidak akan dapat mengajak hamba-Nya yang ikhlas dalam mentaati Allah.
Oleh yang demikian, pembunuhan pertama yang berlaku di dunia ini adalah di antara Habil dan Qabil. Perbalahan adalah disebabkan nafsu yang mencintai wanita. Wanita telah menjadi ‘asset’ untuk Iblis membuat Qabil membunuh saudaranya iaitu Habil. Ini adalah sejarah dan fakta yang perlu kita fahami dan ketahui. Pembunuhan bermula di sini dan ianya akan berlaku sehingga ke hari kiamat. Apakah punca pembunuhan ini berlaku sehingga ke hari kiamat? Iblis menjadikan dunia ini seperti ‘syurga’ melalui proksi-proksi yang telah disusun atur dengan cara yang amat berstrategi dan rapi. Kerosakan dan pembunuhan ini terus berlaku dari umat nabi terdahulu sampai munculnya Nabi Muhammad saw.
Peperangan yang dijalankan

Kita dapat melihat keadaan dunia hari ini, kerosakan yang berlaku dari segi mental, fizikal dan rohani. Serangan berlaku di mana-mana ke atas umat manusia dan orang Islam. Mereka telah menguasai sistem hidup manusia. Dari segi mental, umat Islam dijajah pemikirannya dengan pelbagai fahaman yang bertentangan dengan pemikiran nabi saw. Dari segi kuasa ketenteraan, umat Islam dibunuh dengan begitu mudah lantaran kuasa politik hanya ada pada ‘nama’ tetapi hakikat tiada berkuasa sedikit pun. Pemerintahan pun mengikut acuan mereka. Penyembahan manusia hari ini adalah kepada dunia. Mereka mengajar dan mendidik manusia mencintai dunia dan tertipu dengan ilmu teknologi yang canggih dan hebat. Siapakah yang mencipta Piramid? Terfikirkah kita bagaimana mereka menciptakan? Apakah teknologi yang mereka gunakan?.Dari segi sosial, wanita dijadikan simbol seks dan diberi hak kebebasan dan kesamarataan seperti kaum lelaki sehingga mereka mudah bergaul dengan lelaki dan mudah melakukan seks di luar perkahwinan dan juga seks di luar tabii. Dari segi pendidikan, mereka membuat silibus yang menyebabkan umat manusia bergantung hidup dengan sekeping sijil. Tanpa sijil kita akan nampak hina dan rezeki kita akan tiada. Hilang dalam batin umat Islam bahawa rezeki itu adalah daripada Allah swt. Diwujudkan pangkat-pangkat tertentu supaya manusia terpesona dengan pangkat dan tahap sijil masing-masing. Dari segi ekonomi, mereka menyusun dan memperhebatkan sistem riba yang diharamkan oleh Allah swt dan juga sistem baru yang menindas kaum yang miskin dan lemah. Dengan sistem-sistem ini, orang kaya bertambah kaya dan orang miskin bertambah miskin. Hutang berterusan sampai ke mati. Dari segi sistem permakanan dan peniduran (rehat), mereka telah menyebarkan satu sistem pemakanan dan tidur yang berjadual sehinggakan umat Islam menghabiskan masa hanya untuk makan dan tidur. Sistem permakanan dan tidur yang bertentangan sama sekali dengan cara makan dan tidur Nabi saw. Dengan cara pemakanan dan tidur yang tidak mengikut sistem ajaran Nabi saw, maka kita tidak akan berbau untuk mengikut jejak langkah nabi saw yang dapat ‘bangun malam’ untuk berkhalwat dengan Allah. Dari segi tauhid, ini yang paling dahsyat sekali ialah pembunuhan dan pemyembelihan ‘akidah’ umat Islam. Mereka mengajak umat manusia mensyirikkan Allah swt. Syirik Akbar (besar) dan syirik Khofi (tersembunyi). Tiada siapa yang memahami akan pemyembelihan akidah umat Islam kecuali alim ulama yang haq. Mati dalam keadaan beriman atau pun tidak. Mati dalam mengenali Allah atau pun tidak. Mati dalam ketauhidan atau pun tidak. Inilah yang dibawa nabi-nabi dan rasul-rasul iaitu ketauhidan kepada Allah. Menyeru menyembah Allah bukan menyembah Iblis (syaitan).

Musuh umat Islam yang terkenal ialah Yahudi danNasrani. Sebenarnya mereka adalah proksi Iblis.Mereka dijadikan oleh Iblis sebagai alat untuk membunuh umat manusia dan orang-orang Islam. Mereka telah menandatangani perjanjian dengan Iblis untuk membantu menyesatkan Umat Islam yang bertauhidkan Allah swt. Iblis telah melantik secara rasminya manusia yang diberi gelaran ‘Dajjal’ untukmenguasai alam zahiri (sistem dunia) dan ‘Syaitan’atau Azazil menguasai alam batin (wilayah alam ghaib). Pusat pemerintahan (ibu pejabat) mereka adalah di ‘Segitiga Bermuda’.

Dajjal adalah manusia yang dilantik oleh Iblis semasa di zaman Nabi Musa as. Beliau bernama Musa Asamiri. Ketika itu, Pemerintah Firaun telah menjalani operasi membunuh anak-anak lelaki kerana beliau mendapat maklumat akan lahir lelaki yang akan menentang beliau. Musa asamiri dibela dan dibesarkan oleh Malaikat Jibril. Musa asamiri telah disusui oleh Malaikat Jibril melalui hujung jari tangan Jibril. Musa asamiri mempunyai beberapa kelebihan sehingga Azazil telah memperdaya dan mempengaruhi Musa Asamiri dengan mengajar ilmu yang hebat. Kelebihan beliau itu menyebabkan beliau hidup ke saat ini. Semasa Nabi Musa as beruzlah (berkhalwat dengan Allah), Musa Asamiri telah memperdayakan kaum Nabi Musa as dengan menjadikan anak lembu boleh bercakap. Anak lembu itu boleh bercakap dengan cara Musa Asamiri telah memasukkan debu-debu tapak kaki Jibril ke dalam badan anak lembu. Maka hasilnya, Musa Asamiri mengatakan anak lembu itu sebagai Tuhan. Maka sesat dan kufurlah pengikut nabi Musa ketika itu. Setelah Nabi Musa pulang dari beruzlah, maka terkejutlah baginda dengan umatnya dan pada masa yang sama Musa Asamiri telah lari dan menyembunyikan diri daripada Nabi Musa as.

Gerakan penyelamat 

Seterusnya berlakulah penyelewengan tauhid yang berterusan oleh Azazil dan Dajjal ke atas umat Nabi sehingga keluarnya penyudah Nabi Muhammad saw. Setelah kelahiran Nabi Muhammad saw, maka azazil dan bala tenteranya menjadi lemah. Cahaya Nabi saw telah menyebabkan umat manusia tidak lagi ditipu oleh cahaya kekufuran Azazil. Sehinggakan kelahiran Nabi saw juga telah dihidu oleh azazil tetapi Allah telah memelihara baginda Nabi saw daripada di bunuh oleh proksi azazil. Setelah umat Nabi saw telah bercahaya dengan cahaya yang dibawa oleh baginda Nabi saw, maka umat manusia menjadi umat yang bertauhid kepada Allah swt. Gerakan penyelamat oleh Nabi saw, para sahabat ra dan para khulafa Al rasyidin telah menjadikan umatnya menyembah hanya kepada Allah secara total dan Islam. Seterusnya sistem Islam berkembang ke seluruh dunia. Islam telah memerintah dunia. Perjuangan ini seterusnya disambung oleh para ulama salafusoleh serta pewarisnya di kalangan ulama akhirat sehingga kemunculan ‘Iman Al Mahdi’.

Kewafatan Nabi Muhammad saw telah menyebabkan kuasa Iblis/Azazil dan Dajjal telah kembali menjadi kuat sehingga umat Islam telah dikuasai dan diselewengkan kembali kepada ajaran Azazil. Setelah itu,umat manusia kembali menjadi kafir, munafik, fasiq dan zindiq sehingga ke hari ini.

Untuk kembali kepada ajaran Nabi Muhammad saw dan para salafusoleh, maka kita wajib bersama dengan para pewaris ilmu dan cahaya Nabi saw. Mereka ialah ulama akhirat, ulama yang haq. Mereka telah menyusun manhaj ilmu kepada masyarakat agar umat manusia tidak berterusan dalam jajahan azazil dan dajjal. Ulama telah mengajak kepada nilai asas iaitu ilmu pelajaran yang bersifat tradisional.

1) Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) aliran Asya’irah dan AL-Maturidiah
2) Fiqh berpegang kepada Mazhab Asy-Shafei (tanpa meninggalkan mazhab-mazhab yang lain dikalangan ASWJ)
3) Tasawwuf aliran Imam Al-Ghazali,Syeikh Junaid Al-Baghdadi dan Imam Abu Hassan Asy-Syazili
4) Sulukiah Rohaniah aliran tarekah-tarekah muktabar
5) Ketamadunan aliran ibnu Khaldun
6) Pengajian bersanad (ada salsilah ilmu dari guru ke guru sehingga ke Nabi saw) 


Mengikuti akhlak Nabi Muhammad saw




Tiada cara lain untuk kembalikan cahaya Nabi saw melainkan kita kembalikan diri kita kepada cara hidup Nabi saw. Sunnah Nabi saw adalah ubat paling mujarab untuk melawan musuh nombor satu kita. Siapa dapat mengamalkan sunnah nabi saw, maka ia berada di dalam cahaya Allah melalui sunnah Nabi saw. Siapa yang meninggalkan sunnah Nabi saw, maka ia berada dalam kegelapan, zulumat, dan kekufuran melalui amalan cara yang diajar oleh azazil/iblis/dajjal. Di antara Akhlak Nabi saw yang perlu kita amalkan ialah;

1) Akhlak Syariat : Wara’ dan Istiqomah2) Akhlak Batin : Tawaduk, Redha, Cinta Akhirat3) Akhlak Tauhid: Tawakal, Yakin4) Akhlak Ihsan : Asyik Muraqabah dan Musyahadah

Inilah akhlak Nabi saw yang telah ditunjukkan oleh baginda Nabi saw kepada umatnya. Manusia manakah lagi yang perlu kita ikuti dan sanjungi? Nabi saw atau Azazil? Cahaya atau kegelapan? Iman atau kafir? Renung dan muhasabahlah diri masing-masing.

5 Dasar-Dasar Untuk Keluar Daripada ‘KEGELAPAN’

Di sini ulama yang haq telah mengariskan beberapa dasar sebagai tambahan untuk kita keluar daripada ‘kegelapan’ atau menjadi pengikut atau pendokong Azazil dan Dajjal.

1) Gabungan Tradisi dan Moden (dari segi cara/method/keilmuan)
2) Mahabbah (cinta) pada Rasulullah saw dengan mengikut akhlak Nabi saw
3) Menghormati perbezaan pendapat, menjauhi mengkritik dan berlapang dada
4) Mencintai Kebahagiaan Akhirat yang lebih baik dan kekal tanpa melupai kebahagian dunia
5) Tafakur fil Quran (baca, faham dan fikir akan isi Quran)

Wasilah (Jalan) Menuju Cahaya

1) Ilmu fardu’ain (tauhid ,fekah dan tasawwuf)
2) Mengubah taiat buruk zahir dan batin
3) Mengubah tabiat makan
4) Mengamalkan zikir lisan, hati, lathaif dan seluruh jasad
5) Mematikan diri dalam solat
6) Cinta dengan perbanyakkan selawat kepada Nabi saw
7) Berdakwah
8) Mengamalkan muraqabah dan musyahadah
9) Bersama dengan ulama akhirat
10) Bergantung diri dengan Allah secara penuh dan bulat
11) Menenangkan akal dan hati dengan ikhlas, sabar, redha, syukur dan bersangka baik

InsyaAllah, melalui jalan dan petunjuk dari ulama yang haq di mana garis-garis dasar dan panduan yang telah dibentangkan kepada kita ini, membolehkan kita dapat pegang dan mengamalkanya sehingga kemunculan pimpinan Agung kita iaitu Imam Al-Mahdi. Siapakah yang akan mengenali Al Imam ini? Hanya guru mursyid yang diberi ilmu oleh Allah sahaja akan mengetahuinya. Guru ini akan menceritakan ciri-ciri atau karakter al-Imam ini kepada murid-muridnya. Bagi mereka yang tiada guru, berusahalah mencarinya agar aqidah kita mantap dengan tipudaya Azazil dan Dajjal.

Semoga dengan berkat amalan-amalan ini, maka kita semua berada di dalam cahaya Nabi saw. Siapa berada bersama cahaya Nabi saw maka dia bersama cahaya Allah swt. Siapa mengambil sebaliknya maka dia akan menjadi teman bersama Iblis untuk ke neraka. Wanauzubillah. Tujuan Iblis adalah untuk mengajak seramai mungkin umat manusia (keturunan Adam as) bersama-samanya di dalam neraka. Justeru itu, berhati-hatilah kita, kenali siapa musuh sebenar kita, jangan kita membuang masa dengan perkara yang kecil yang tiada memberi manfaat sedikit pun untuk diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, umat Islam keseluruhannya.....
Wallahu'alam>>>sumber

Kepentingan Ilmu Tasawwuf

Pengenalan tentang Tuhan diatas landasan ilmu semata-mata belum menjamin keselamatan (dalam) kesempurnaan makrifat. Ia bagaikan pengenalan tentang Kaabah tetapi diri belum sampai kepada Kaabah yang sebenarnya. Apa yang ada ditangan hanya maklumat dan gambar bukannya hakikatnya. Bicara KeTuhanan tidak boleh hanya pada lisan dan akal. Demi untuk keselamatan akhirat, seharusnya kita terjun dan menyelami lautan KeTuhanan yang dalam melalui jalan para ahli sufi, jalan ahli tasawuf.



Berkata Imam al-Ghazali :
“Aku menyeberangi lautan fekah, aku sampai ke seberang, aku menyelami lautan tauhid, aku sampai ke seberang, aku menyeberangi lautan falsafah, aku sampai ke seberangnya, (tetapi) apabila aku menyeberangi lautan tasawuf, aku tenggelam dalam lautannya tanpa penghujung. 

Sesungguhnya kepentingan mendalami lautan tauhid melalui jalan tasawuf amatlah ditekan oleh para ulama yang telah mengecapi hasilnya.



Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : “
Wahai Rasululah, apakah amal yang lebih afdhal?”
Rasulullah SAW menjawab : ”
Mengenal Allah azza Wa Jalla…”.
Mereka bertanya lagi : “
Apakah segala amal yang lebih pahalanya…?”
Rasulullah SAW menjawab : ”
Mengenal Allah Azza Wa Jalla…”.
Sahabat tersebut bertanya lagi : ”
Ya Rasulullah, kami bertanya tentang amal, mengapa tuan menjawab dengan ilmu…?” 
Rasululah SAW bersabda : ”
Bahawa sedikit amal dengan mengenal Allah adalah lebih baik daripada banyak amal tetapi tidak mengenal Allah. Kerana amal yang seperti itu tidak bermanfaat”.

Imam al-Ghazali menyatakan dalam kitab beliau ‘Jawahir al-Quran’ : “
Bahawasanya ilmu tariqah dan suluk yang dinamakan dengan ilmu tasawuf itu adalah lebih tinggi dan lebih mulia daripada ilmu fiqh dan ilmu kalam, dan yang lebih tinggi daripada semuanya itu adalah ilmu makrifat yang dinamakan juga ilmu hakikat”.

Ilmu tariqah dan suluk itu adalah jalan bagi mengetahui ilmu hakikat, yang dinamakan dengan “ilm al-Nafi’, yakni ilmu yang memberi manfaat di akhirat kelak. Selain itu juga dinamakan dengan ilmu tasawuf sebagaimana yang akan dihuraikan kelak pada bahagian lain dalam kitab ini.

Al-‘Arif Billah al-Sayid ‘Abd Allah ibn ‘Alawi al-Haddad, di dalam kitab beliau yang berjudul ‘Kitab al-Ilmiah wa Usul al-Hikmah’, menyatakan sebagai berikut :
“Kemudian daripada itu, apabila engkau tilik kepada karangan Aimmat al-Din, yakni ulama ahli tasawuf daripada segala kitab yang memberi manfaat pada agama dia akhirat kelak, nescaya tiada engkau lihat sebuah kitab pun yang lebih menghimpunkan sebagai ilmu yang memberi manfaat itu daripada segala kitab yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, seperti ‘Ihya ‘Ulum al-Din’, ‘Arba’in al-Ushul’, ‘Minhaj al-‘Abidin’, ‘Bidayat al-Hidayah’.”

“Semua kitab ini telah dikenal oleh orang-orang al-Haqq dan al-Inshaf, yakni orang yang adil dan mempunyai mata hati di dalam agama, tidak ada yang akan mengingkarinya melainkan orang-orang yang dungu lagi jahil, atau orang yang tergolong kepada ulama zahir yang telah memperdayakan dirinya dan lalai daripada kembali kepada jalan kebenaran. Mudah-mudahan Allah Taala memberi ilham akan kami dengan petunjukNya dan memelihara kami daripada kejahatan diri kami sendiri dan kejahatan amal kami. Sesungguhnya tiada daya menjauhi maksiat dan tiada upaya melakukan ketaatan melainkan dengan pertolongan Allah Taala”.

Syaikh Ibn ‘Ibad menukilkan di dalam kitab beliau Syarah Hikam daripada Ibn ‘Athaillah, katanya :
Ketahuilah olehmu, bahawasanya yang dimaksudkan dengan kelebihan ilmu yang dinyatakan secara berulang-ulang di dalam al-Quran dan As-Sunnah ialah ilmu yang memberi manfaat yang disertai dengan perasaan takut kepada Allah, serta dilengkapi dengan kegerunan kepada Allah dan firmanNya. Adapun yang takut kepada Allah itu hanyalah dari kalangan ulama, takut itu melazimkan akan ilmu”.

Dalam kitab Sirras Salikin disebut :
 “Adapun yang dimaksudkan dengan ilmu itu sebagaimana yang diutarakan di atas, yakni ilmu yang tersebut di dalam al-Quran dan As-Sunnah ialah ilmu yang memberi manfaat pada agama akhirat kelak, ilmu-ilmu tersebut telah dinukilkan oleh Imam al-Ghazali di dalam kitab-kitab beliau seperti Minhajul ‘Abidin dan lain-lainnya. Demikian juga segala ilmu tasawuf itu adalah ilmu yang memberi manfaat di dunia dan akhirat kerana ilmu tasawuf sekarang terhimpun di dalam ilmu usuluddin, ilmu fiqh dan ilmu tariqah sebagaimana yang tersebut di dalam kitab ini dan kitab mukhtashar ihya’ ulum al-Din dan lain-lainnya daripada beberapa kitab ilmu tasawuf yang memperkatakan ilmu suluk dan ilmu tariqah.”

Oleh yang demikian, al-Sayid Syaikh Abu al-Hassan al- Syadzili mengatakan :
“Barangsiapa yang tiada masuk dan mengetahui akan ilmu ini, yakni ilmu tasawuf nescaya ia mati dalam keadaan mengekalkan dosa-dosa tanpa diketahuinya”.

Sehubungan dengan itu, Syaikh Ibn ‘Ibad menyatakan di dalam kitab beliau Syarah Hikam sebagai tersebut :
“Dan segala ilmu ini, yakni ilmu tasawuf, sepatutnya manusia meleburkan diri di dalam menuntutnya sepanjang usianya, dan janganlah ia memadai dengan banyak atau sedikitnya. Manakala ilmu yang lain daripada ilmu tasawuf, adakalanya tidak diperlukan di dalam kehidupan dan adakalanya ia memberi mudharat kepada orang yang memilikinya, jika ia berterusan mendalami ilmu itu. Rasulullah SAW telah bermohon kepada Allah agar dijauhkan daripada ilmu yang tidak bermanfaat, baginda bersabda : ‘Kami berlindung kepada Allah daripada ilmu yang tidak bermanfaat’.”

Selanjutnya Syaikh Ibnu ‘Ibad mengatakan :
“Ketahuilah olehmu, bahawasanya telah termaktub dengan banyaknya di dalam al-Quran dan As-Sunnah yang menyatakan kelebihan ilmu dan ulama dengan tidak terhingga. Dan tidaklah diharapkan kelebihan yang demikian itu melainkan oleh orang-orang yang lurus niatnya. Dan tiada lain tujuannya menuntut ilmu selain daripada semata-mata mengharapkan keredhaan Ilahi, dan untuk mengamalkannya dan kerana hendak keluar daripada kejahilan kepada cahaya. Inilah yang dikatakan sebagai niat yang lurus, yang akan diberi penilaian oleh Allah di akhirat kelak dan memperolehi faedahnya di dunia dalam melakukan ibadah. Maksudnya disegerakan faedah ilmu di dunia dengan berbuat ibadah dan ditangguhkan faedahnya pada hari akhirat kelak dengan beberapa pahala”.

Demikian juga segala kitab Ilmu Tasawuf yang tertera di dalamnya adalah ilmu yang memberi manfaat, kerana dalam kitab tasawuf itu telah terkandung ilmu usuluddin dan ilmu fiqh yang fardhu ‘ain, yang perlu diketahui oleh orang yang suluk, yakni orang yang menjalani jalan akhirat yang menyampaikan ke dalam syurga dan meyampaikan kepada makrifat akan Allah dengan mengetahui sebenar-benarnya perkara yang mendatangkan perasaan takut kepada Allah.

Oleh yang demikian, Imam Malik rahimahuLlah pernah berkata :
“Barangsiapa yang menuntut ilmu tasawuf dan tiada mengetahui ilmu fiqh yang fardhu ‘ain, maka sesungguhnya jadi zindiqlah dia, dan barangsiapa yang menuntut ilmu fiqh tapi dia tidak menuntut ilmu tasawuf, maka sesungguhnya jadi fasiqlah dia dan barang siapa yang menghimpunkan kedua-duanya maka jadilah dia ulama yang muhaqqiq yang mengenal Allah, dan merekalah yang bernama ulama sufi yang menghimpunkan antara syariat, tariqah dan hakikat.”

Adapun segala kitab Imam al-Ghazali yang dinukilkan di atas, telah terhimpun di dalamnya ilmu usuluddin (I’tiqad) dan ilmu fiqah (ibadat) serta adat. Selanjutnya ilmu tasawuf itu dinamakan dengan ilmu batin yang keseluruhannya dinamakan dengan ilmu suluk dan ilmu tariqah seperti yang akan dihuraikan pada bahagian lain di dalam kitab ini. Insya Allah. Itulah yang dinamakan ilmu yang memberi manfaat di alam akhirat kelak. Ia juga dinamakan dengan ilmu taqwa yakni suatu ilmu yang diperintahkan oleh Allah untuk menuntutnya, untuk dijadikan bekalan menuju akhirat sebagaimana firmanNya yang berbunyi :
“Dan hendaklah kamu mencari perbekalan, maka sesungguhnya perbekalan yang paling baik adalah taqwa”. (Al-Baqarah : 107)

Seseorang itu tidak akan pernah takut kepada Allah melainkan dengan mengetahui segala ilmu, sebagaimana yang termaktub di dalam al-Quran bahawa Allah Taala berfirman :
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah itu dari kalangan hambaNya ialah para ulama”. (Faathir : 28)

Adapun yang dimaksudkan dengan ulama itu ialah ulama yang menjalani jalan tasawuf sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh ‘Ibad sebelum ini.

Adapun ilmu yang menghimpunkan segala cabang ilmu Islam itu dinamakan dengan ilmu tasawuf yang hakiki. Oleh yang demikian maka barangsiapa yang tiada menceburkan dirinya untuk menuntut ilmu tasawuf maka adalah sebagai pertanda bahawa orang tersebut adalah orang yang kurang imannya, kurang akalnya dan kurang agamanya”.

Demikianlah dijelaskan oleh Syaikh Husain ibn Abdullah di dalam kitabnya tersebut. Sehubungan dengan itu, sepatutnya orang yang mengingini kemenangan di akhirat itu menuntut ilmu tasawuf dan mengajarkannya seperti orang-orang yang menuntut dan mengajarkan ilmu-ilmu yang lainnya. Kerana barangsiapa yang menuntut ilmu tasawuf itu nescaya ia lebih kaya daripada ilmu-ilmu yang lainnya. Adapun ilmu-ilmu selain ilmu tasawuf itu tidaklah lebih utama daripada ilmu tasawuf walaupun orang tersebut dikenal sebesar-besar ulama.

Syaikh Waliyullah yang amat besar Sayyid al-Syaikh Ibrahim al-Dusuqi berkata :
 “Adapun menuntut ilmu tariqah, yakni ilmu tasawuf wajib hukumnya bagi tiap-tiap murid yakni setiap orang yang menjalani akan jalan akhirat yang mengingini kemenangan di alam akhirat, walaupun ia sebesar-besar ulama pada bidang pengetahuan yang lain daripada ilmu tasawuf ini”.

Sehubungan dengan itu, para ahli sufi mengatakan :
“Setiap ahli sufi itu adalah faqih dan bukanlah setiap faqih itu ahli sufi”.

Ini adalah kerana setiap ahli sufi (yang benar-benar ahli sufi) itu memiliki pengetahuan yang mendalam dalam bidang fiqh dan tidak semestinya setiap ulama yang mahir di bidang fiqh itu mengetahui ilmu tasawuf. Kerana ilmu fiqh itu diumpamakan oleh ulama seperti kulit kelapa bahagian luar, manakala ilmu tasawuf (tariqah) bagaikan kulit kelapa bahagian dalam (tempurung) manakala ilmu hakikat adalah bagaikan isinya. Bahkan lebih jauh lagi dapat dikatakan bahawa ilmu fiqh itu bagaikan kulit kelapa, ilmu tasawuf itu bagaikan isinya sedangkan ilmu hakikat itu adalah seumpama minyaknya.


Ilmu yang lain dari ilmu tauhid dan tasawuf adalah 
menjadi hujah kepada manusia sedangkan ilmu tauhid dan kebersihan jiwalah yang akan menjadi kebenaranmu disisi Tuhan.

Firman Allah :
“Dan (orang-orang yang beriman kepada Allah), kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukannya juga dengan yang lain.”(Yusuf :106)

Makrifat para ahli sufi atau Al-Khossah terhasil secara zauqi melalui Tajribah Al-Sufiyyah. Dalam perkataan lain zauqi atau kecapan terhadap pelbagai pengertian makrifat diperolehi secara langsung hasil tajalli di dalam hati (Qalbu) mereka. Mereka yang mengalaminya menjadi tenggelam dan fana’ daripada dirinya sendiri dan daripada segala sesuatu selain daripada Allah. Oleh itu apa yang tersyuhud kepadanya cumalah Allah sahaja. Kesedaran dan perasaannya dilimpahi dengan Qudrah Ilahi yang terlihat pada sesuatu, dengan Iradah Ilahi yang melaksana segala sesuatu; juga dengan perbuatan Ilahi yang kenyataannya dapat dilihat pada gerak dan diamnya segala yang wujud di alam ini. Inilah yang dinukilkan oleh Syaikh ibnu ‘Athaillah dalam Syarah Al-Hikam :
Bagaimanakah Ia dapat dihijab oleh sesuatu sedangkan Ia yang menzahirkan segala sesuatu.
Bagaimanakah akan mungkin akan dihijab oleh sesuatu padahal Ia lebih jelas dari sesuatu.
”Bagaimanakah mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Ia yang Esa yang tidak ada disampingNya sesuatu apapun.
“Bagaimanakah akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal andaikan tidak ada Allah, nescaya tidak akan ada segala sesuatu.

Inilah lautan makrifat Ahli Sufi, makrifat yang ada didalam qalbu mereka tidak boleh difahami oleh kebanyakan orang awam, oleh para ahli ilmu kalam. Makrifat mereka adalah melalui penghayatan jiwa yang berjelira, memperkayakan pengalaman keruhanian mereka sehinggakan membuahkan makrifat yang kehalusannya sukar difahami oleh pandangan biasa yang tumpul.

Inilah apa yang dikatakan oleh Al-Tahanawi bahawa orang yang mengalami makrifat melalui jalan kesufian, mereka melihat setiap zat, pelbagai sifat dan pelbagai perbuatan, tenggelam hapus dalam pancaran cahaya Zat Allah, pelbagai Sifat KesempurnaanNya dan PerbuatanNya.

Syaikh Al-Junaid mengatakan :
"... daripada makrifat ahli sufi, ia wujud tanpa kemahuan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan melihat tadbiran Allah terus atas dirinya, ia melihat Allah dalam QudrahNya menentukannya. Dan dia menjadi tenggelam dalam lautan kesatuan Allah, benar-benar fana’ daripada dirinya dan daripada seruan Allah kepadanya serta daripada jawapannya kepada Allah, iaitu merupakan satu kenyataan yang sejati terhadap Wahdaniyyah Allah dalam kehampirannya yang sejati dengan Allah. Lalu kesedaran dan aksinya menjadi hilang kerana Allah melaksanakan di dalam dirinya apa yang diKehendaki olehNya. Ilmu tentang hal yang demikian diperolehi apabila telah kembalilah seseorang hamba dari akhir ke awalnya, supaya ianya menjadi sebagaimana semula; iaitu sebelum ia menjadi seperti sekarang. Dalil dalam hal ini ialah firman Allah :
"Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan Zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil Ia bertanya dengan firmanya-Nya): ‘Bukankah Aku Tuhan kamu?’ Mereka semua menjawab, ‘Benar …’." (al-‘Araf :172)

Mendalami lautan Ilmu KeTuhanan melalui jalan ahli sufi adalah yang bersih dan sempurna, ia mempelajari tentang Tuhannya dengan Tuhannya sendiri. Ia memperolehi melalui jalan tajalli ke dalam qalbinya.

Dalam kitab Siraj Tholibin Syaikh Al-Junaid berkata :
“Tidak ada yang (dapat) mengenal Allah kecuali Allah sendiri.”

Telah berkata Abu Bakar r.a, pada sebahagian khutbah beliau di atas mimbar :
“Segala puja-puji hanya untuk Allah yang tidak pernah menciptakan jalan apapun bagi makhluk untuk makrifat kepadaNya kecuali (makhluk itu sendiri) dapat merasakan kelemahan untuk makrifat kepadaNya.”

Siapakah yang lebih mengetahui tentang diriNya melainkan diriNya. Akal amat terbatas dalam mengenal Tuhannya, namun disana dalam diri insan, insan memiliki ruh yang memiliki kekuatan untuk menangkap rahsia Tuhannya yang tak mampu difahami oleh akal. Ia sudah makrifat dengan Tuhannya sebelum ia berada dalam jasad ini, ia memiliki keistimewaan yang hebat mengatasi makhlukNya lain. Namun kebanyakan ruh ini telah lupa akan asalnya apabila berada di alam ini, sehingga ia diselaputi hijab-hijab yang tebal antara ia dengan Tuhannya. Ini disebabkan dosa-dosa yang dilakukan, terhijab dengan jasad kasar yang dicipta dari tanah, terhijab dengan dunia yang diperlihat indah, terhijab dengan makhluk disekelilingnya. Ia menjadi lupa asalnya, ia menjadi jahil, menjadi buta, menjadi pekak, menjadi bisu, ia tidak kenal dirinya siapa, ia hidup bertuhankan hawa nafsu dan syaitan, syaitan membawa ia kepada neraka kegelapan ketuhanan.

Berkata syaikh Al Junaid :
“Ruhnya perlu dikembalikan kembali ke alam asalnya, kepada sifat kesucian asalnya…” 

dan tiada jalan lain untuk mengembalikan kesedaran ruh ini melainkan melalui jalan tariqah para ahli sufi. Apabila ruhnya suci, ia akan mengenal Tuhannya kembali dengan jalan limpahan yang berlaku kedalam qalbinya.

Mempelajari ilmu makrifat adalah amat penting. Ulama Tasawuf menghukumkan “
fardu ain” untuk setiap mukallaf mempelajari atau menuntut secara “ijmali” (global/pokok) dan “fardu kifayah” mempelajarinya secara “tafsili” (terperinci).

Syed Amin Al-Kurdi menegaskan :
“Ketahuilah bahawa pengenalan diri adalah suatu urusan yang penting untuk setiap peribadi. Kerana sesungguhnya siapa yang mengenal dirinya, nescaya ia dapat mengenal Tuhannya. Yaitu mengenal dirinya yang hina, lemah serta fana’. Dengan itu, dia dapat mengenal Tuhannya yang bersifat mulia, kuasa dan kekal abadi. Siapa yang jahil terhadap dirinya bererti dia jahil terhadap Tuhannya”. (Tanw. Qulub : ms 464)

“Amal soleh yang dilakukan tanpa makrifat kepada Allah akan berkesudahan pada kesia-siaan, gugur tidak bernilai, laksana abu yang ditiup angin di Hari Angin Badai”.

“Makrifat itu memastikan datangnya tenteram pada hati seperti juga ilmu membawa ketenteraman pada akal. Siapa yang bertambah nilai makrifatnya, bertambah pulalah rasa tenteram pada hatinya.” (ucapan Ad-Daqqaq : Risalah Qusyairaiyah).

“Maka sayogianya bagi orang yang berakal agar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menuntut Ilmu Makrifat para ahli sufi dan tidak menunda-nunda dalam hal itu. Janganlah terjadi, bila maut datang menjelang, kebutaan kerana kebodohan datang menimpa (akhirnya) tidak ada lagi jalan untuk melihat cerah.

Allah berfirman :
“Dan sesiapa yang buta di dunia (nescaya) ia buta di akhirat.” (Al-Isra’ : 72)

Imam al-Ghazali rahimahuLlah belum merasakan nikmatnya ilmu ini meskipun sudah menjadi ulama ikutan para zamannya sebagai seorang Pembesar Negeri. Beliau mendapat kepuasan batin setelah beliau menyediakan sebahagian umurnya untuk 
beruzlah sambil beliau menyusun beberapa kitab dimana sebuah kitab beliau yang terkenal ialah Ihya ‘Ulumuddin.

Sebahagian para ‘ArifbiLlah mengatakan (termasuk Imam al-Ghazali) :
“Siapa yang tidak kebagian ilmu ini (ilmu batin), saya khawatir atasnya akan menemukan “
su-ul khatimah” dan tidak ada jalan yang dapat mengenalNya kecuali dengan perasaan murni”. (Sirajut Tholibin)

Yang dimaksudkan mengenal diri ialah dengan menegakkan sifat kehambaan (Ubudiyah) rasa hina (di hadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah. Mengenal Allah yang bersifat Kemuliaan, Keagungan dan Kuasa. Dan mengenal diri sebagai seorang yang asing di alam dunia ini hanya sebagai seorang musafir dari dunia menuju akhirat”. (Sirajut Tholibin)

“Hanya sanya, mereka yang telah mencapai tingkat MAKRIFAT adalah mereka yang (dalam batin) tidak menghiraukan sesuatu yang ada pada mereka dan bertahan pada apa yang ada pada Allah SWT”. (Risalah Al-Qusyairiyah)

Dunia para ‘ArifbiLlah adalah dunia kebatinan dengan ‘ asyik wal ma’syuk. Mereka tenggelam dalam dunianya yang mereka rasa lebih nikmat dan suci berbanding dengan dunia material yang sedang dihadapinya. Demikian pula ungkapan oleh Syaikh Junaid yang sama sekali tidak menghiraukan apapun jua kecuali yang mereka cintai. Kalau dunia material itu ada pada mereka, sama sekali tidak tersangkut di dalam hatinya – meskipun hanya selembar sapu tangan. Hati hanyalah tempat zikrullah. Akal dan nafsu melaksanakan tugasnya tetapi jangan membawa hati yang berperasaan murni ke dalam kancah dunia yang menggiurkan.

“Demikianlah, sesungguhnya terdapat perbedaan tingkat makhluk dalam hal makrifat kepada Allah Taala, menurut ukuran apa yang terbuka buat mereka dari pemberian-pemberian Allah (ilmu-ilmu yang halus), keajaiban-keajaiban segala yang dikuasaiNya, dan keindahan-keindahan ayat-ayatNya di dunia dan akhirat, di alam nyata maupun di alam ghaib (malakut). Bertambah makrifat mereka dengan Allah dan bertambah dekat pula tingkat makrifat mereka menuju makrifat yang sebenarnya / hakiki”. (Siraj Tholibin)

rujukan: 
Kitab Liku-Liku Jalan KeTuhanan dan Kebenaran - oleh Syeikh Tokku

Posted by 

Kenali Pecahan Sifat 20

Mari sama-sama kita pelajari ilmu tauhid sifat 20 yang dipegang oleh Imam Abu Hassan al-Asya’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi (Ahli sunnah wal jamaah) agar kita mempunyai asas mengenali Tuhan yang kita sembah dan taati.


Takrifan:

1. Sifat Nafsiah – diri zat Allah swt, wujudNya tidak disebabkan oleh sesuatu sebab

2. Sifat Salbiah – menafikan perkara-perkara yang tidak layak bagi Zat Allah swt atau hujah-hujah sifat yang membesarkan kelebihan zat yang Maha Agung itu daripada sekalian yang baharu

3. Sifat Ma’ani – sifat yang berdiri pada zat Allah swt, yakni sifat khusus yang dimiliki oleh Allah swt dan lazim melazimi pula ia dengan sifat ma’anawiyah

4. Sifat Ma’anawiyah – zat yang disebabkan suatu sebab akan wujudnya, yakni kelakuan zat atau fungsi zat yang mempunyai sifat ma’ani atau kelakuan sifat ma’ani yang digerakkan oleh zatNya.


Takrifan:

ISTAGHNA
 – Sifat KEKAYAAN Allah swt

IFTIQAR - Sifat berhajat, berkehendak sekalian makhluk kepada Allah swt

Berjuang dan bermujahadahlah kita agar hati kita dibuka pintu makrifat kepada Allah swt dari segi Zat, Sifat, Afa'al dan Asma'-Nya. Sekurang-kurangnya makrifat afa'alnya agar amal ibadat dan amal kebaikan yang kita lakukan tiada "syirik khafi" (yang tersembunyi) yang kesannya ialah amalan itu umpama debu-debu yang berterbangan yang mana tidak bernilai sedikit pun di sisi Allah swt. Fakir dan berhajatnya kita dengan Allah swt dan Maha Kaya dan Hebatnya Allah swt......Astaghfirullahalazim.....laahaulawalaquwwataillabillah.....(sumber Artikel)

Ilmu Ketuhanan Bukan Ilmu Akal Tapi Ilmu Rasa


Belajar ilmu hisab atau ilmu kedoktoran
Tidak terasa bertuhan, tidaklah hairan
Belajar ilmu yang disebut dan lain-lain ilmu tidak terasa bertuhan
Perkara biasa di setiap zaman
Bahkan adakalanya belajar ilmu secular
Langsung tidak percaya adanya
Tuhan yang Maha Esa

Tapi yang lebih aneh
Orang yang belajar ilmu ketuhanan
hingga jadi ulama, tidak rasa bertuhan
Bahkan pakar ilmu Tauhid atau ilmu ketuhanan pun tidak bertuhan

Kerana belajar ilmu aqidah dengan akal semata-mata
Sedangkan jiwanya tidak menghayati ilmu itu
Akalnya percaya adanya Tuhan
Jiwanya tidak terasa bertuhan

Disegi ilmu, pakar dengan Tuhan
Disegi jiwa, kosong dari Tuhan
Kerana itulah rasa takutnya dengan Tuhan tidak berlaku atau tiada

Syariat Tuhan tidak dijadikan pakaian
Apabila mendapat ujian
Dia tidak dapat kembalikan kepada Tuhan
atau tidak merujuk kepada Tuhan

Akibatnya jiwanya menderita
Menerima ujian itu dia tidak tahan
Akhlaknya kasar, tidak melambangkan orang bertuhan
kehidupannya tidak mempedulikan masyarakat
Sekalipun boleh memperkatakan AL-Quran
Atas alas an ilmu semata-mata

Padahal ilmu ketuhanan hendaklah dirasa oleh jiwa
Ilmu ketuhanan bukan ilmu akal tapi ilmu rasa
Orang yang percaya Tuhan, hidup macam tidak bertuhan
Orang ‘terasa’ bertuhan, orang yang takut dengan Tuhan
sekalipun ilmunya kurang

Mereka yang rasa bertuhan menghormati syariat Tuhan
Kerana rasa bertuhan itu
Lantaran itulah rasa bertuhan
Kenalah suburkan di dalam setiap jiwa manusia
Tidak cukup setakat akalnya percaya adanya Tuhan.