Selasa, 18 Oktober 2011

Pengertian Thoriqot

THORIQOT

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).

Sedangkan menurut istilah, Tarekat berasal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada
Hakikat atau dengan kata lain pengalaman Syari'at, yang disebut "Al-
Jaraa" atau "Al-Amal", sehingga Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy
mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:

1) Tarekat adalah pengamalan syari'at, melaksanakan beban ibadah
(dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah
(ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.

2) Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan
sesuai dengan kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata,
maupun yang tidak (batin).

3) Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan
hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal
yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan
(pelaksanaan) di bawah bimbingan seorang Arif (Syekh) dari (Shufi)
yang mencita-citakan suatu tujuan.

Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap
kehidupan Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan
bahwa istilah Tarekat mempunyai dua macam pengertian.

a) Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering
dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk
mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut "Al-Maqamaat"
dan "Al-Ahwaal".

b) Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut
ajaran yang telah dibuat seorang Syekh yang menganut suatu aliran
Tarekat tertentu.
Maka dalam perkumpulan itulah seorang Syekh mengajarkan Ilmu Tasawuf
menurut aliran Tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan
murid-muridnya.

Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi;
yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan
latihan kejiwaan (kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang,
maupun secara bersama-sama, dengan melalui aturan-aturan tertentu
untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut "Al-Maqaamaat"
dan "Al-Akhwaal", meskipun kedua istilah ini ada segi prbedaannya.
Latihan kerohanian itu, sering juga disebut "Suluk", maka pengertian
Tarekat dan Suluk adalah sama, bila dilihat dari sisi amalannya
(prakteknya). Tetapi kalau dilihat dari sisi organisasinya
(perkumpulannya), tentu saja pengertian Tarekat dan Suluk
tidak sama.

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.
Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.
Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.
Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada al-Thariqah al-Mu'tabarah al-Ahadiyyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naksibandiyah, Tarekat Rifa'iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.
Thoriqoh atau tarekat adalah suatu ilmu untuk mengetahui hal ihwal nafsu dan sifat-sifatnya yang ada pada diri manusia, mana yang tercela kemudian di jauhi dan ditinggalkan, dan mana yang terpuji kemudian diamalkan.

Tarekat ini sendiri tergolong menjadi dua golongan, yaitu tarekat muktabaroh dan tarekat yang tidak muktabaroh.
Tarekat muktabaroh adalah aliran tarekat yang memiliki sanad yang muttashil (bersambung) sampai kepada Rosuluwllah Saw. Sedang beliau sendiri menerimanya dari malaikat jibril dan malaikat jibril dari Aowllah SWT.
Sedangkan tarekat yang tidak muktabaroh adalah aliran tarekat yang tidak memiliki sanad dan tidak muttashil sampi kepada Rosuluwllah. Tetapi pada pelaksanaan dan prakteknya sama.
Tariqah Pada Bahasa
Kalimah Thariq berasal dari kekata “tharaqa” yang bererti
memukul/memanjangkan, menyisir, mengetuk, melalui,
mengucapkan, serta datang di malam hari. Thariq bererti tempat
berlalu yang luas dan panjang, melebihi luas jalan. Ia juga bererti
jalan yang ditempuh oleh kelompok sufi, dijamakkan menjadi
thuruq.
Erti Thariq sama dengan tariqah yang bererti jalan, haluan
atau mazhab. Tariqah juga mempunyai erti yang menunjuk pada
segolongan orang-orang yang dipandang mulia. Iaitu orang-orang
yang dihormati dan diikuti oleh masyarakat kerana keluhuran
jiwanya. Pada masyarakat Arab biasanya digunakan kata-kata
‘tariqah al-qaum’ yang bererti suri tauladan dan pilihan mereka
iaitu orang-orang yang dijadikan oleh sesuatu masyarakat sebagai
ikutan. Maka masyarakat tersebut mengikuti jalan mereka.
Tariqah Pada Istilah
Dalam Ilmu Tasawuf, Tariqah merupakan satu jalan atau
kaedah yang ditempuh menuju keridhaan Allah swt dengan
amaliah zahir dan bathin sepertimana yang terkandung dalam
keluasan Ilmu Tasawuf. Adapun ikhtiar menempuh jalan itu lebih
dikenali dengan istilah Suluk. Sedangkan orang bersuluk itu pula
dipanggil Salik.
Dalam keterangan yang lain, dapat difahami bahwa tariqah
itu adalah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah
sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dan
dikerjakan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw, Tabi’in, Tab’i

Tabi’in turun temurun sehingga sampai kepada para ulama dan
guru-guru. Guru-Guru yang memberikan petunjuk dan bimbingan
ini dinamakan Mursyid. Mursyid peranannya membimbing dan
mengajar muridnya setelah memperolehi ijazah dari gurunya pula
sebagai tersebut dalam silsilahnya. Dengan demikian ahli
Tasawuf berkeyakinan bahwa hukum-hakam serta peraturan-
peraturan dalam ilmu Syariah dapat dilaksanakan dengan sebaik-
baik perlaksanaan melalui jalan Tariqah.
PENGGUNAAN KATA “TARIQAH” DALAM AL-QURAN
Di dalam Al-Quranul Karim, perkataan Tariqah digunakan
sebanyak 9 kali di dalam 5 surah. Pengertian tariqah di dalam Al-
Quran mempunyai beberapa pengertian. Antaranya ialah:-
1. Surah An-Nisa’ : 168
‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan
kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa)
mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada
mereka.’
2. Surah An-Nisa’ : 169
‘Melainkan jalan ke Neraka Jahannam; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah
mudah bagi Allah.’
3. Surah Thoha : 63
‘Mereka berkata : Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-
benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu
dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu
yang utama.’
4. Surah Thoha : 77
‘Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa:
Pergilah kamu dengan hambaKu (Bani Israil) di malam hari,
maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu,
kamu tidak usah khuatir akan tersusul dan tidak usah takut
(akan tenggelam).’
5. Surah Thoha : 104
‘Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan ketika
berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka:
Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari
sahaja.’
6. Surah Al-Ahqaf : 30
‘Mereka berkata : Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah
mendengarkan kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan
sesudah Musa yang membenarkan kitab - kitab yang sebelumnya
lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang
lurus.’
7. Surah Al-Mukminin : 17
‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu
tujuh buah jalan (tujuh buah langit) dan Kami tidaklah
lengah terhadap ciptaan (Kami).’
8. Surah Al-Jinn : 11
‘Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang
soleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian
halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeza-beza.’
9. Surah Al-Jinn : 16
‘Dan bahawasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas
jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi
minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).’
Jika diperhatikan 3 bentuk kekata tharaqa digunakan di
dalam Al-Quran. Bentuk tersebut adalah:
1) Thariq – Jalan yang ditetapkan atau jalan yang dilalui oleh
manusia
2) Thariqah – Keutamaan atau kebenaran
3) Tharaiq – Berbentuk jamak dari perkataan thariq dan
thariqah. Mempunyai dua makna iaitu :
О Jalan yang nampak
О Aliran atau keadaan

ASAL USUL TARIQAH
Nabi Muhammad saw sebagai guru pertama umat Islam telah
membuka jalan (tariqah) yang pertama dan telah menyem-
purnakan tablighnya (penyampaiannya). Maka dengan ini tariqah
kaum muslimin keseluruhannya berpokok pangkal dari tariqah
Nabi Muhammad saw. Segala amal ibadah yang kita lakukan atau
tariqah yang kita amalkan adalah petunjuk yang kita terima dari
guru-guru kita. Mereka sebelumnya menerima dari para ulama.
Para ulama sebelumnya menerima dari para Tabi’ Tabi’in. Mereka
pula telah menerima dari para tabi’in yang telah menerima dari
sahabat yang langsung menerima dari Rasulullah saw. Rasulullah
saw telah menerima segala ajaran pula dari Jibril as dan Jibril pula
menerimanya dari Allah swt.
Perlaksanaan sunnah Nabi Muhammad saw yang terkandung
dalam Ilmu Fiqeh harus dilaksanakan melalui tariqah. Tidak
mencukupi hanya dari keterangan hadis–hadis Nabi Muhammad
sawsahaja tanpa ada sahabat yang melihat cara perlaksanaan Nabi
saw dalam sesuatu ibadah. Kemudian mereka pula menceritakan
kembali caranya kepada murid-muridnya iaitu para tabi’in dan
seterusnya. Apabila seseorang mempelajari ilmu Fiqehsebenarnya
ia sudah melakukan satu tariqah.
Apabila seorang guru mengajarkan ilmu sembahyang
misalnya, ia pasti mengajar, membimbing dan menunjukkan cara
perlaksanaan yang betul, dengan niat yang sah, segala rukun
sembahyang sehingga dapat sembahyang itu akhirnya
dilaksanakan dengan sempurna. Semua bimbingan gurunya itu
dinamakan tariqah. Maka apabila perlaksanaan ibadah itu
meninggalkan kesan pada jiwanya dan dikerjakan secara
maksimal, maka ia akan menjadi Haqiqah, sedangkan hasilnya,
sebagai tujuan terakhir daripada semua perlaksanaan ibadah itu
ialah mengenal Tuhan sebaik-baiknya, atau dalam istilah Tasawuf
disebut mencapai Makrifatullah.
Syariah dan Tariqah adalah tidak lain daripada mewujudkan
perlaksanaan ibadah dan amal, sedangkan Haqiqah itu
memperlihatkan ahwal dan rahsia tujuannya.
Dalam Ilmu Tasawuf penjelasan ini disebut: Syariah itu
merupakan peraturan. Tariqah itu merupakan perlaksanaan.
Haqiqah itu merupakan keadaan dan Makrifah itu adalah tujuan
yang terakhir iaitu mengenal Allah swt.
Imam As-Syeikh An-Naqsyabandi mengatakan:
“Syariah itu segala apa yang diwajibkan, dan Haqiqah itu segala
apa yang diketahui. Syariah itu tidak boleh terlepas dari Haqiqah dan
Haqiqah pula itu tidak boleh terlepas dari Syariah.”
Imam Malik pula berkata:
“Barangsiapa mempelajari Fiqeh sahaja dengan tidak mempelajari
Tasawuf, maka ia fasik. Barangsiapa mempelajari Tasawuf sahaja
dengan tidak mengenal Fiqeh, maka dia itu zindiq. Barangsiapa
mempelajari serta mengamalkan kedua-duanya itu, maka dia itulah
Mutahaqqiq, iaitu ahli Haqiqah yang sebenarnya.”
PANDANGAN PARA ULAMA MENGENAI TARIQAH
Disini kami sertakan beberapa pengertian Tariqah yang diusulkan
oleh para ulama.
Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latiff di dalam kitabnya
Al-Ayatul Baiyinat :
“Jalan kepada Allah dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fiqh dan
Tasawuf”.
Tuan Hj Abdullah Ujong Rimba di dalam kitabnya Ilmu
Thariqat dan Hakikat:
“Cara atau kaifiat mengerjakan sesuatu amalan untuk mencapai
sesuatu tujuan’.
Dr Ahmad Tafsir di dalam artikelnya bertajuk Tarekat dan
Hubungannya Dengan Tasawuf mengatakan :
“Sufi-sufi besar seperti Al-Junaid, Al-Qusyairi, dan Al-Ghazali telah
merintis jalan-jalan yang berisi kaedah-kaedah dalam usaha mereka
masing-masing mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Kaedah-kaedah
itu…disebut maqamat, yang jumlah dan urutannya berbeda antara sufi
yang satu dengan sufi yang lain. Jalan itu sendiri oleh kaum sufi di
sebut Tariqah.”

SEJARAH TARIQAH
Islam merupakan agama lengkap yang menjangkau segala aspek
hidup, sama ada dalam menyediakan keperluan rohani dan
jasmani manusia. Tujuan hidup manusia sesuai dengan fungsinya
sebagai khalifah Allah swt di muka bumi ini adalah untuk
mencurahkan pengabdian yang sepenuhnya kepada Allah swt.
Amanah dan risalah agama tauhid telah berkembang turun
temurun sejak Nabi Adam sehingga ke junjungan kita Nabi
Muhammad saw. Rasulullah saw telah mempamerkan qudwa
yang baik menerusi ibadahnya, musyahadahnya, muraqabahnya
dan segala tindak tanduknya. Ini jelas dapat dilihat dalam sejarah
kehidupan Nabi Muhammad saw apabila diteliti.
Rasulullah saw telah membawa Islam ke suatu tahap yang
sempurna dan menerapkan ajaran dasar iaitu tauhid ke dalam
setiap manusia yang mengesakan Allah swt. Diikuti pula dengan
perlaksanaan penghambaan melalui peraturan-peraturan agama
dan syariat yang tercangkup dalam rukun Islam. Melalui contoh
hidup beliau, Rasulullah saw menjadi petunjuk terbaik dalam
perlaksanaan ajaran-ajaran tuhan yang diwahyukan itu.
Contoh kezuhudan Rasulullah saw adalah satu tarikan pula
buat sebahagian besar para sahabat terutama Sayyidina Abu
Bakar ra, Sayyidina Omar ra, Sayyidina Uthman ra, Sayyidina Ali
ra, Abu Zar Al-Ghiffari ra, Abu Hurairah ra dan ramai lagi untuk
mengikuti.
Para sahabat dan mereka yang mengikut ajaran Rasulullah
saw telah memperjuangkan Islam secara zahir dan batin. Semasa
pemerintahan Khulafa’ Ar-Rashidin, Islam telah tersebar luas
sehingga ke Mesir, Palestine, Syria, Iraq, Parsi, Byzantium dan
juga ke setiap pelusuk negara yang lain.
Setelah berlalu zaman Khulafa’ Ar-Rashidin dan kerajaan Bani
Umaiyyah, hampir semua para Khalifah yang menduduki takhta
telah meninggalkan kezuhudan dan kehidupan sederhana.
Mereka telah terpesona dengan kehidupan mewah dan kekuasaan
sehingga mereka berani melakukan perbuatan-perbuatan yang
tidak mengikut sunnah dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw.
Perubahan sosio ekonomik dan politik pada zaman
pemerintahan Bani Umaiyyah adalah titik tolak pelancaran suatu
aliran zuhud dan mengutamakan pembinaan rohani dalam Islam.
Sebenarnya aliran itu, tidak berniat untuk mengemukakan sesuatu
yang baru atau di luar lingkungan agama Islam. Mereka
sebenarnya rasa terharu dengan perpecahan umat yang berlaku
ketika itu dan merindukan suasana kehidupan yang murni seperti
di zaman Rasulullah saw.
Maka pada kebelakangan era pemerintahan Bani Umaiyyah,
para zuhud tampil kehadapan terutama di Basrah dan Kufah.
Disanalah Hassan Al-Basri dikenali sebagai penggerak Sufi yang
terulung. Masa pemerintahan Abasiyyah pula bangkitlah
golongan-golongan Sufi yang menggerakkan konsep-konsep
kerohanian. Pada zaman inilah sempadan Sufi mula melebar dari
perlakuan zuhud ke peringkat ma’rifat ke lebih dalam. Ahli
sejarah menetapkan Sheikh Ma’ruf Al-Karkhi sebagai ulama Sufi
yang mengemukan aliran ini. Konsep Sufi ini diteruskan oleh
mereka seperti Abu Sulaiman Ad-Darani dan Zunnun Al-Masri
dan yang lainnya.
Kemunculan Imam Al-Ghazali pula menguatkan dan
mendokong usaha pemikir-pemikir Sufi. Beliau bertang-
gungjawab menerapkan ilmu Tasauf dalam pemikiran dasar ilmu
Tafsir dan seterusnya menguatkan pengamalannya dalam Tariqah.
Tren yang berdasar luas dalam pergerakkan Tariqah di masa
pemerintahan Bani Abassiyah telah menarik ramai pengikut
yang mempunyai latar belakang yang berbeza. Kemudian
perkembangan Tariqah begitu cepat sekali. Di masa Al-Ghazali,
Tariqah mencapai ekspresi yang lebih sistematik sebagai alat
penyampaian Sufi. Dua faktor bertanggungjawab mempelopori
fenomena itu adalah Sheikh Tariqah dan para pengikutnya
sehinggalah Tariqah itu tersebar luas dan diamalkan di setiap
pelusuk bumi sehingga ke hari ini.
TUJUAN DAN POKOK TARIQAH
Tariqah sebagai organisasi para salik dan sufi, pada dasarnya
memiliki tujuan yang satu, iaitu Taqarrub (mendekatkan diri)
kepada Allah swt. Akan tetapi sebagai organisasi, para salik yang
kebanyakan diikuti masyarakat awam merupakan para
Mubtadi’in, maka dalam tariqah terdapat tujuan-tujuan yang lain
yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pertama
dan utama tersebut. Sehingga secara garis besar, dalam Tariqah
terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tatacara dan
jenis-jenis amalan kesufian. Ketiga tujuan pokok tersebut adalah:

1. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)
Ia merupakan satu proses penyucian jiwa yang akan
menghasilkan ketenteraman, ketenangan dan rasa dekat
dengan Allah swt dengan menyucikan hati dari segala
kekotoran dan penyakit hati atau penyakit jiwa. Tujuan ini
merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang salik atau
ahli tariqah. Bahkan dalam tradisi tariqah, Tazkiyatun Nafs
ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan bersihnya jiwa
dari berbagai macam penyakit, akan secara langsung
menjadikan seseorang dekat kepada Allah swt.
Zikrullah (Mengingati Dan Menyebut Allah)
Adapun jalan atau cara menjalani proses Tazkiyatun Nafs
ini adalah dengan Zikrullah (mengingat Allah). Zikrullah
merupakan amalan khas yang mesti ada dalam setiap Tariqah.
Yang dimaksudkan dengan Zikir dalam sesuatu tariqah
adalah mengingati Allah swt dan menyebut nama Allah swt,
baik secara Jahar (lisan) atau secara Sirr (rahsia). Di dalam
Tariqah, zikrullah diyakini sebagai cara yang paling efektif
untuk membersihkan jiwa dari segala macam kekotoran dan
penyakit-penyakitnya sehingga hampir semua tariqah
menggunakan cara ini.
Selain zikrullah, Tazkiyatun Nafs ini juga diperolehi dengan:
О Mengamalkan Syariat
О Melaksanakan amalan-amalan sunnah
О Berperilaku zuhud dan wara’
2. Taqarrub (Mendekatkan Diri Kepada Allah swt)
Taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah swt merupakan
antara tujuan utama para sufi dan ahli tariqah. Ini diupayakan
dengan beberapa cara yang tersendiri. Cara-cara tersebut
dilaksanakan di samping perlaksanaan dan upaya mengingat
Allah (zikir) secara terus-menerus, sehingga sampai tidak
sedetik pun seorang salik itu lupa kepada Allah swt. Antara
cara yang biasanya dilakukan oleh para pengikut tariqah
untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih berkesan
ialah :

Tawassul & Wasilah
Tawassul dan Wasilah dalam upaya mendekatkan diri
kepada Allah yang biasa dilakukan di dalam tariqah adalah
suatu cara (wasilah) agar pendekatan diri kepada Allah swt
dapat dilakukan dengan mudah dan ringan. Di antara bentuk-
bentuk Tawassul yang biasa dilakukan adalah meng-
hadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada Syeikh yang memiliki
silsilah tariqah yang diikutinya sejak Nabi Muhammad saw
sampai kepada mursyid yang mengajar zikir kepadanya.
Muraqabah (Pengawasan)
Muraqabah ialah duduk bertafakkur atau mengheningkan
perbuatan dengan penuh kesungguhan hati, dengan seolah-
olah berhadapan dengan Allah swt. Meyakinkan diri bahawa
Allah swt senantiasa mengawasi dan memerhatikannya.
Sehingga dengan latihan Muraqabah ini, seorang salik akan
memiliki nilai Ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan
kehadiran Allah swt di mana sahaja dan pada setiap masa.
Khalwat & Uzlah (Mengasingkan Diri)
Khalwat atau uzlah adalah mengasingkan diri dari hiruk
pikuk urusan duniawi. Sebahagian tariqah tidak mengajarkan
Khalwat ini dalam keadaan fizikal, kerana mengikut golongan
ini khalwat cukup dilakukan menerusi kehadiran hati
(Khalwat Qalb). Sedangkan sebahagian tariqah yang lain,
mengajarkan Khalwat atau Uzlah secara fizikal, sebagai
pengajaran untuk membawa penuntutnya dapat melakukan
Khalwat Qalb. Ajaran tentang khalwat ini dilaksanakan
dengan mengambil iktibar dari amalan Rasulullah saw pada
menjelang masa pengangkatan kenabiannya. Dalam
perlaksanaan Khalwat ini diisi dengan berbagai Mujahadah
demi mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam tradisi
sebahagian tariqah di rantau Nusantara ini, Khalwat ini lebih
dikenali dengan Suluk.
3. Tujuan-Tujuan Lain
Tariqah sebagai kumpulan yang menghimpunkan para calon
sufi atau Salik, yang kebanyakannya terdiri dari masyarakat
awam dan kedudukan mereka itu berperingkat Mubtadi’in
(permulaan), maka dalam tariqah terdapat amalan-amalan
yang menyesuaikan kepada keadaan masyarakat awam.
Amalan-amalan tersebut bertujuan mengharapkan sesuatu
imbalan ataupun pertolongan dalam melaksanakan tujuan
pengamalan tersebut. Kadang kalanya amalan-amalan inilah
yang biasanya memenuhi masa ruang para Salik. Di antara
amalan-amalan tersebut ialah :

Wirid
Wirid adalah suatu amalan yang harus dilaksanakan secara
istiqamah (berterusan), pada waktu-waktu yang khusus
seperti setiap selesai mengerjakan sembahyang atau pada
waktu-waktu tertentu yang lain. Wirid ini biasanya berupa
potongan-potongan ayat, selawat atau pun nama-nama Allah.
Perbezaannya dengan zikir adalah kalau zikir itu
diijazahkan oleh seorang Mursyid dalam proses Bai’ah atau
Talqin atau Hirqah. Sedangkan wirid tidak semestinya harus
diijazahkan oleh seorang Mursyid dan tidak diberikan dalam
suatu proses perjanjian (bai’ah). Sedangkan dari sudut tujuan
juga memiliki perbezaan antara keduanya. Zikir hanya
dilakukan satu-satunya untuk mendekatkan diri kepada Allah
swt, sedangkan wirid biasa dikerjakan untuk kepentingan-
kepentingan tertentu yang lain, umpama memohon
keberkahan rezeki, pertolongan dan sebagainya.
Ratib
Ratib adalah amalan yang harus diwiridkan oleh para
pengamalnya. Tetapi Ratib ini merupakan kumpulan dari
beberapa potongan ayat atau surah-surah pendek yang
digabungkan dengan bacaan-bacaan lain seperti Istighfar,
Tasbih, Selawat, Asmaul Husna, Kalimah Thayyibah dalam
suatu jumlah yang telah ditentukan dalam pengamalan yang
khusus.
Ratib ini biasanya disusun oleh seorang mursyid besar
dan diberikan secara ijazah kepada para muridnya. Ratib ini
juga biasa diamalkan oleh seorang dengan tujuan untuk
meningkatkan kekuatan rohani dan merupakan wasilah
(perantaraan) dalam doa untuk kepentingan hajat-hajat yang
khusus.
Hizib
Hizib pula adalah suatu doa yang panjang, dengan
susunan perkataan dan bahasa yang indah disusun oleh
seorang sufi besar. Hizib ini biasanya merupakan doa
pelindung bagi seorang sufi yang juga diberikan kepada
muridnya secara ijazah. Hizib diyakini oleh kebanyakan
masyarakat Islam sebagai amalan yang dimiliki daya yang
sangat besar terutama jika diperhadapkan dengan ilmu-ilmu
ghaib dan kesaktian.

MANAQIB
Manaqib sebenarnya adalah biografi seorang sufi besar
atau wali Allah seperti As-Syeikh Abdul Qadir Jailani dan
Syeikh Bahauddin An-Naqsyabandi. Diyakini oleh para
pengamal tariqah sebagai mempunyai suatu kekuatan rohani
dan barakah. Bacaan manaqib ini seringkali dijadikan sebagai
amalan, terutama untuk mengingati sejarah dan perjuangan
para waliyullah dan untuk tujuan terkabulnya segala hajat-
hajat yang baik dan khusus.
Secara rumusan, pokok dari semua Tariqah itu ada lima :
Pertama – Mempelajari ilmu pengetahuan yang bersangkut
paut dengan perlaksanaan segala perintah-perintah syara’.
Kedua – Mendampingi guru-guru dan teman setariqah untuk
melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah.
Ketiga – Meninggalkan segala Rukhsah dan Ta’wil untuk
menjaga dan memelihara kesempurnaan amal.
Keempat – Menjaga dan mempergunakan waktu serta
mengisikannya dengan segala wirid dan doa guna kekhusyukan
dan kehadiran jiwa.
Kelima – Mengekang diri, jangan sampai keluar melakukan
hawa nafsu dan supaya diri itu terjaga daripada kesalahan.

INTISARI DALAM TARIQAH
1. Guru atau Mursyid
Syeikh atau guru mempunyai kedudukan yang penting dalam
Tariqah. Ia juga sering dikenali dengan panggilan Mursyid (yang
memberi petunjuk). Seorang guru tidak sahaja merupakan seorang
pemimpin yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan
zahir dan pergaulan sehari-hari, agar tidak menyimpang daripada
ajaran-ajaran Islam dan terjerumus kepada perbuatan maksiat,
berbuat dosa besar atau kecil, yang segera harus ditegurinya.
Akan tetapi peranannya juga lebih dari itu, adalah sebagai
pemimpin kerohanian yang tinggi sekali kedudukannya dalam
Tariqah. Ia merupakan perantaraan dalam ibadah antara murid
dan Tuhannya. Ini dikaitkan dengan peranan Rasulullah saw
didalam membimbing para sahabat menuju kepada penghambaan
kepada Allah.
Seorang syeikh dalam Tariqah membimbing muridnya dengan
memberikan pengajaran zikrullah melalui proses Bai’ah (perjanjian).
Dan kedudukan syeikh itu haruslah bersilsilah dengan para gurunya
pula di mana dia memperolehi ajaran Tariqah tersebut.
Oleh kerana itu jabatan ini tidaklah dapat dipangku oleh or-
ang sembarangan walaupun ia mempunyai pengetahuan yang
lengkap tentang Tariqah. Di samping menerima ijazah dari guru
sebelumnya sebagai penerus pemimpin tariqah, seorang syeikh itu
haruslah mempunyai kebersihan rohani dan kehidupan bathin
yang murni. Berbagai-bagai jolokan nama yang tinggi diberikan
kepadanya menurut kedudukannya. Antaranya:
a. Mursyid : Orang yang memberikan petunjuk (Irsyad)Sheikh Nama yang sering dikaitkan sebagai guru, ketua atau pemimpin
b. Murabbi : Orang yang mengajarkan ilmu pendidikan (tarbiah) Maulana Gelaran ‘tuan’ guru yang sudah mencapai darjat tinggi
c. Mua’allim : Guru yang memberikan ilmu Mudarris Pengajar atau pengurus satu pengajian
d. Muaddib : Guru yang mengajar adab atau tatasusila.Manusia dipanggil ‘adib’ dalam hubungan dengan Khaliq (Penciptanya)
e. Ustaz : Gelaran biasa bagi seorang guru. Ia lazim sekali digunakan dalam rantau sebelah sini, terutama di Singapura, Malaysia dan Brunei. Tetapi di Indone-
sia sering ustaz itu dipanggil kiyai.
f. Nussak : Orang yang mengerjakan segala amal dan perintah agama
g. Ubbad : Orang yang ahli dan ikhlas mengerjakan segala ibadah
h. Imam : Pemimpin bukan sahaja dalam soal ibadah, bahkan juga dalam sesuatu aliran keyakinan
i. Sadah : Bererti Penghulu. Gelaran ini juga kadangkala diberikan kepada seorang guru sebagai penghormatan atau orang yang dihormati dandiberi kuasa yang penuh.

2. Murid atau Salik
Pengikut sesuatu tariqah itu dinamakan murid, iaitu orang
yang menghendaki pengetahuan dalam segala amal ibadahnya.
Murid itu terdiri dari lelaki dan perempuan, tua mahupun muda.
Dalam tariqah, seorang murid itu tidak hanya berkewajipan
mempelajari segala sesuatu yang diajarkan atau melakukan segala
sesuatu yang dilatihkan guru kepadanya yang merupakan pokok
asal dari ajaran-ajaran sesuatu Tariqah. Bahkan ia harus patuh
dan beradab kepada syeikhnya, dirinya sendiri mahupun terhadap
saudara-saudaranya setariqah serta orang Islam yang lain. Segala
sesuatu yang bertalian dengan itu, diperhatikan dengan sungguh-
sungguh oleh Mursyid sesuatu tariqah, kerana kepada
keperibadian murid-muridnya itulah bergantung yang terutama
berhasil atau tidak perjalanan suluk tariqah yang ditempuhnya.
Pelajaran-pelajaran kesufian dan latihan-latihan tariqah itu akan
kurang faedahnya, jika ianya tidak meninggalkan perubahan budi
pekerti dan peningkatan amaliah murid-murid itu.

3. Talqin dan Bai’ah
Talqin dalam istilah Tasawuf adalah pengajaran dan
peringatan yang diberikan oleh seorang Mursyid kepada muridnya
yang hendak mempelajari beramal mengikut perjalanan
tariqahnya. Manakala Bai’ah pula bererti perjanjian (‘ahad)
kesanggupan kesetiaan seorang murid di hadapan gurunya untuk
mengamal dan mengerjakan segala amalan dan kebajikan yang
diperintahkan oleh gurunya.
Talqin dan bai’ah dalam perlaksanaan adalah sesuatu yang
asas dan menjadi pokok pengamalan dalam tariqah. Seorang
murid sebelum mengamal, terlebih dahulu harus mendapatkan
Bai’ah dan berjanji dengan gurunya dengan penuh kesetiaan.
Dengan menjalani proses perjanjian ini, ia akan dapat
memberi kesan yang mendalam kepada orang yang menerima
pengajaran itu dan dapat menguatkan tali ikatan perguruan dan
persaudaraan kukuh yang tidak akan putus antara seorang murid
dan gurunya juga meninggalkan pengertian yang sangat mendalam
dan cara-cara serta adab yang akan ditinggalkan dalam ingatan
kedua belah pihak.
Kebiasaannya, seorang Syeikh atau Mursyid akan
memberikan pengajaran Zikrullah kepada muridnya sebagai
amalan pokok dalam tariqah. Zikrullah yang diajarkan berupa
kalimah Tauhid ‘La Ilaha Illallah’ diajarkan kepada murid dengan
cara pengamalan yang khusus, terutama melafazkan kalimah ini
dengan lafaz yang bersuara dan juga di dalam hati.
Inilah cara yang pernah dipelajari dan diambil oleh Sayidina
Abu Bakar As Siddiq ra dan Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra
daripada Rasulullah saw sehingga melaksanakan zikir dengan
kalimah ini dapat meresap teguh sampai ke dalam hati. Terdapat
banyak hadis yang menerangkan peristiwa Nabi Muhammad saw
mengambil ‘ahad (perjanjian) pada waktu membai’atkan para
sahabatnya, secara perseorangan dan berjamaah.
Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tabrani dari Syaddad Bin Aus
bahawa Rasulullah saw pernah mentalkin sahabat-sahabat beliau
secara berjamaah dan perseorangan. Pada suatu hari ketika kami berada
dekat Nabi saw dan beliau bersabda, “Adakah di antara kamu orang
asing?” (yakni Ahli kitab). Maka saya menjawab: ‘Tidak ada’. Lalu
Rasulullah saw berkata, “Angkatlah tanganmu dan ucapkanlah La
Ilaha Illallah”. Lantas beliau menyambung, “Segala puji bagi Allah
wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus aku dengan kalimah ini dan
Engkau menjadikan dengan ucapannya kurnia syurga kepadaku dan
bahawa Engkau tidak sekali-kali memungkiri janji”. Kemudian beliau
bertanya: “Ketahuilah, gembiralah. Sesungguhnya Allah swt telah
mengampuni kamu sekelian.”
Terdapat juga sesetengah kumpulan tariqah yang menjalankan
proses perjanjian dan talqin dengan cara yang berlainan iaitu
dengan Wasiat, Ijazah dan Khirqah.
Ijazah dan Wasiatmerupakan kekuasaan seorang guru dalam
bentuk surat keterangan yang memberi kekuasaan kepada seorang
murid untuk mengamalkan sesuatu atau selanjutnya mengajarkan
pengamalan tariqah itu kepada orang lain.
Manakala Khirqah pula berupa sepotong kain atau pakaian
yang pada kebiasaannya dari bekas pakaian seorang guru yang
diberikan kepada murid atau memakainya sebagai mengikat ikatan
perguruan dalam pengamalan tariqah. Ini akan menghasilkan
keberkahan dan dianggap suci dan menjadi kenang-kenangan bagi
seorang murid.

4. Silsilah
Silsilah bagi seorang Syeikh atau Mursyid merupakan sesuatu
yang penting untuk mengajar dan memimpin sesuatu tariqah.
Mereka yang menggabung diri kepada sesuatu tariqah, hendaklah
mengetahui benar-benar nisbah atau hubungan guru-gurunya yang
sambung-menyambung antara satu sama lain sampai kepada Nabi
Muhammad saw. Ini dianggap perlu dan sesuatu yang darurat
kerana ia memberikan petunjuk kepada seorang murid. Bantuan
kerohanian yang diambil guru-gurunya itu harus benar, dan jika
tidak berhubungan sampai kepada Nabi Muhammad saw, maka
bantuan itu dianggap terputus dan tidak merupakan warisan
daripada Nabi saw. Seorang murid dalam tariqah hanya membuat
perjanjian dengan gurunya dan tidak menerima Bai’ah, Talqin,
Ijazah, Wasiat atau Khirqah tanda kesanggupan dan kesetiaan,
kecuali kepada Mursyid yang mempunyai silsilah yang baik dan
benar.
Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang panjang
yang satu bertalian dengan yang lain, dari kedudukan Mursyid
hingga kepada Rasulullah saw. Barangsiapa yang tidak ada
hubungan dengan Nabi sawia dianggap terputus limpahan cahaya
dan tidak menjadi waris Rasulullah saw. Orang yang demikian
tidak dibolehkan mengambil Bai’ah daripadanya dan ia tidak boleh
memberi atau diberi Ijazah. Barangsiapa yang mengamalkan
tariqah tetapi tidak mengenal nenek moyangnya (silsilah) dari
para Masyaikh, ia ditolak dan tidak diakui.
Setiap orang yang tidak mempunyai syeikh (Mursyid) yang
memberi bimbingan kepada jalan keluar dari sifat sifat tercela,
maka dia dianggap maksiat kepada Allah dan RasulNya kerana
dia tidak dapat petunjuk mengenai jalan mengubatinya.
Walaupun ia mengamalkan segala perkara yang bersifat aktif
ataupun menghafal seribu buku tidaklah bermanfaat dengan tidak
berguru atau mempunyai Syeikh.

TARIQAH-TARIQAH YANG MU’TABARAH (YANGDIAKUI KEBENARANNYA)

Tariqah sebagaimana telah diakui dalam Ilmu Tasawuf sebagai
jalan yang memberi petunjuk dan membawa seseorang itu kepada
Tuhannya dengan pengabdian sebenarnya. Justru demikian, jalan
untuk menyampaikan kepada maksud dan tujuan itu terbentang
luas dan banyak sekali. Kepelbagaian tariqah yang wujud dan
bermacam jenis, warna dan caranya tetap kembali yang matlamat
yang satu iaitu Taqarrub kepada Allah swt dan akhirnya mancapai
Makrifatullah.
Tariqah-tariqah sejak awal kewujudannya telah berkembang
pesat dan diamalkan sehingga ke hari ini. Bilangannya banyak
sekali. Ada tariqah-tariqah yang merupakan tariqah asas yang
dibentuk oleh ahli-ahli Tasawuf, dan ada juga tariqah-tariqah yang
merupakan perpecahan daripada tariqah asas, telah dipengaruhi
oleh pendapat para masyaikh tariqah asas, telah dipengaruhi oleh
pendapat para masyaikh tariqah yang mengamalkannya di
belakangnya atau oleh keadaan setempat, keadaan bangsa yang
menganut tariqah-tariqah itu. Banyak diantara perpecahan tariqah-
tariqah itu disusun atau diberi istilah-istilah yang sesuai dengan
tempat perkembangannya.
Dr Syeikh H.Jalaluddin, seorang pakar ilmu Tasawuf dan
seorang ahli tariqah,telah banyak menulis tentang perkembangan
tariqah-tariqah, antara lain tariqah-tariqah yang telah diakui
kesahihannya. Beliau menerangkan tariqah-tariqah tersebut ialah:-
1 Tariqah Qadiriyah
2 Tariqah Naqsyabandiyyah
3 Tariqah Syaziliyyah
4 Tariqah Ahmadiyyah
5 Tariqah Rifaiyyah
6 Tariqah Dasukiyyah
7 Tariqah Akbariyyah
8 Tariqah Maulawiyyah
9 Tariqah Qurabiyyah
10 Tariqah Suhrawardiyyah
11 Tariqah Khalwatiyyah
12 Tariqah Jalutiyyah
13 Tariqah Bakdasiyyah
14 Tariqah Ghazaliyyah
15 Tariqah Rumiyyah
16 Tariqah Jastiyyah
17 Tariqah Sya’baniyyah
18 Tariqah Kaisaniyya
19 Tariqah Hamzawiyyah
20 Tariqah Sya’baniyya
21 Tariqah ‘Alawiyyah
22 Tariqah ‘Usyaqiyyah
23 Tariqah ‘Umariyyah
24 Tariqah ‘Uthmaniyyah
25 Tariqah ‘Aliyyah
26 Tariqah Bakriyyah
27 Tariqah ‘Abbasiyyah
28 Tariqah Haddadiyyah
29 Tariqah Maghribiyyah
30 Tariqah Ghaibiyyah
31 Tariqah Hadiriyyah
32 Tariqah Syattariyyah
33 Tariqah Bayumiyyah
34 Tariqah ‘Aidrusiyyah
35 Tariqah Sanbliyyah
36 Tariqah Malawiyyah
37 Tariqah Anfasiyyah
38 Tariqah Sammaniyyah
39 Tariqah Sanusiyyah
40 Tariqah Idrisiyyah
41 Tariqah Badawiyyah
42 Tariqah Tijaniyyah
Sebagai contoh, kami bawakan diantara sejarah dan
perkembangan ringkas beberapa tariqah yang tercatit di atas
berupa tariqah yang masih diamalkan sehingga ke hari ini dan
termasyhur di rantau nusantara ini.
Tariqah Syaziliyyah
Nama pendiri tariqah ini ialah Abul Hassan Ali As-Syadzili dalam sejarah keturunannya dihubungkan dengan keturunan
Sayidina Hassan putera Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra. Lahir di
Amman, salah sebuah desa kecil di Afrika, berdekatan desa
Mansiyyah, dimana hidup seorang wali Sufi besar, As-Syeikh
Abul Abbas Al-Mursi, seorang yang namanya tidak asing dalam
dunia Tasawuf. Kedua-dua desa itu terletak di daerah Maghribi.
As-syadili lahir pada tahun 573H. Beliau terkenal sebagai
seorang yang memiliki perwatakan yang baik, wajah yang
menunjukkan keimanan dan keikhlasan. Warna kulitnya sedang
serta badannya agak panjang dengan bentuk wajahnya yang agak
memanjang. Menurut Ibnu Sibagh, bentuk badannya itu
menunjukkan bentuk seorang yang penuh dengan rahsia-rahsia
hidup. Menurut Abdul ‘Aza’im pula, As-Syadzili adalah seorang
yang ringan lidahnya, baik segala ucapannya sehingga segala
ucapan yang keluar dari mulutnya mengandungi hikmah dan
pengertian yang besar dan mendalam.
Tariqah Syaziliyyah dibentuk dengan menisbah kepada nama
pengasasnya. Ia merupakan tariqah yang silsilahnya sambung-
menyambung sampai kepada Hassan Bin Ali Bin Abi Thalib ra
dan terus sampai kepada Rasulullah saw. Salah sebuah tariqah
yang dikatakan termudah mengenal ilmu dan amal, mengenal
ahwal dan maqam, ilham dan maqal dengan mudah dapat
membawa pengikut-pengikutnya kepada jazab, mujahadah,
hidayah, rahsia dan karamah.
Menurut kitab -kitabnya, Tariqah Syaziliyyah tidak
meletakkan syarat-syarat yang berat kepada Syeikh tariqah, kecuali
mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat,
memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir
kepada tuhan sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali
sehari semalam, istighfar sebanyak seratus kali sehari semalam,
serta beberapa zikir yang lain. kitab Syaziliyyah meringkaskan
sebanyak dua puluh adab, lima sebelum memulakan zikir. Dua
belas dalam mengucapkan zikir dan tiga sesudah selesai berzikir.

Tariqah Qadiriyyah
Tariqah ini didirikan oleh seorang wali sufi yang agung, As-
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani. Beliau seorang yang alim dan
zahid, diberi gelaran Qutbul Aqtab. Seorang ahli fiqeh Mazhab
Hambali yang terkenal, kemudian beralih kecenderungannya
kepada ilmu tariqah dan menyelami alam kesufian. Sejarah
tentang kehidupan As-Syeikh dengan segala macam karamahnya
banyak tercatit dalam kitab kitab Manaqib As-Syeikh Abdul
Qadir Al-Jailani.
Ibnu Batutah menceritakan bahawa dalam zamannya sudah
mulai dipergunakan orang tempat melakukan latihan-latihan suluk,
dan latihan-latihan yang dilakukan di Baghdad itu menurut ajaran-
ajaran As-Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani. Sehingga dengan
demikian, ajarannya itu lama kelamaan merupakan satu mazhab
Sufi dan setiap murid yang telah menamatkan ajarannya sudah
beroleh ijazah khirqah dan berjanji akan meneruskan dan
menyiarkan ajarannya itu. Demikianlah diceritakan As-
Suhrawardi dalam kitabnya ‘Awariful Ma’arif’ yang tertulis pada
hujung kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazzali.
Tariqah mula berkembang pada awalnya di tanah Arab. Ali
Bin Al-Haddad semasa waktu hidup As-Syeikh telah mula
menyebarkan tariqah ini di Yaman. Muhammad Batha’ berasal
dari Balbek, pula menyebarkan tariqah ini di Syria. Begitu juga
Muhammad Al-Yunani terkenal sebagai seorang penyair Tariqah
Qadiriyyah di Balbek dan juga Muhammad bin Abdus Samad
yang mewakli As-Syeikh Abdul Qadir sendiri untuk
mengembangkan tariqahnya di Mesir.
Demikianlah seterusnya ajaran Tariqah Qadiriyyah
disebarkan luas ke negara-negara lain. Ke Makkah, Turki, tersiar
juga ke Afrika Tengah, ke Asia sehingga membawa ke rantau
nusantara kita ini.
Tariqah Qadiriyyah mempunyai zikir-zikir, wirid dan hizib-
hizib yang tertentu. Wirid-wirid Tariqah Qadiriyyah termuat
dalam kitab ‘Al-Fuyudat Ar-Rabbaniyyah’ karangan Abdullah Bin
Muhammad Al-Ajami, juga seorang sufi yang alim yang telah
mencapai umur 183 tahun (527–721 H)
Pokok dasar Tariqah Qadiriyyah sama banyaknya dengan
Tariqah Syaziliyyah iaitu terdiri dari lima asas yang penting. Asas
Tariqah Syaziliyyah itu terdiri dari lima perkara:-
О Taqwa kepada Tuhan zahir dan bathin
О Mengikut sunnah dalam perkataan dan perbuatan
О Menjauhkan diri dari makhluk di depan dan di belakang.
О Rela terhadap Tuhan dalam pemberiannya yang sedikit
atau banyak
О Kembali kepada Tuhan dalam waktu susah dan senang
Manakala asas pengajaran Tariqah Qadiriyyah pula ada lima
perkara;
О Tinggi cita-cita
О Memelihara kehormatan
О Memelihara hikmah
О Melaksanakan maksud
О Mengagungkan nikmat dan keseluruhan ini semua
ditujukan hanya kepada Allah swt semata-mata
Barangsiapa yang cita-citanya tinggi, maka tinggilah
martabatnya. Barangsiapa yang memelihara kehormatan Allah,
maka Allah akan memelihara kehormatannya. Barangsiapa yang
memperbaiki khidmat, maka ianya wajib memperolehi rahmat.
Barangsiapa berusaha mencapai tujuan dan cita-citanya, maka
ianya akan selalu memperolehi hidayat. Barangsiapa yang
membesarkan nikmat Allah bererti bersyukur kepadaNya.
Barangsiapa bersyukur kepada Allah, akan memperolehi
tambahan nikmat yang dijanjikan Allah swt.

Tariqah Rifa’iyyah
Pengasas Tariqah Rifaiyyah adalah seorang sufi yang bernama
Rifa’I, pendiri tariqah ini. Tidak banyak lembaran sejarah yang
menulis tentang riwayat hidp As-Syeikh ini. Begitu juga Ibnu
Khalikan tidak banyak menulis tentang sejarah hidupnya. Lebih
banyak diutarakan beberapa catatan mengenai hidupnya dalam kitab tarikh Islam karangan Az-Zahabi, dalam Kitab Tanwirul
Absar dan juga Qiladatul Jawahir.
Dari sejarah hidupnya, dapat kita ketahui bahwa tatkala ia
berumur tujuh tahun, ayahnya meninggalkan Baghdad pada tahun
419H. Lalu ia diasuh oleh bapa saudaranya Mansur Al-Bathaihi
yang tinggal di Basrah. Menurut Imam Sya’rani dalam kitabnya
Lawaqihul Anwar, bapa saudaranya itu adalah seorang Syeikh
tariqah yang kemudian dinamakan menurut nama Ahmad
Rifa’iyyah. Ia pernah menuntut juga dari bapa saudaranya yang
lain, Abul Fadhl Ali Al-Wasithi mengenai hukum-hukum Islam
dalam mazhab Syafie. Ia belajar dengan giat dalam segala bidang
ilmu hingga ke umur 27 tahun. Ia mendapat ijazah dari Abul
Fadhl dan Khirqah dari Mansur, yang telah menetap di Umm
Abidah dan kemudian meninggal di sana pada tahun 540H.
Ahmad tidak melepaskan keluarga ini dan banyak bergaul dengan
anak-anak Mansur yang kesemuanya ahli tariqah.
Tariqah Rifaiyyah ini yang pada awal-awalnya bermula di Iraq,
kemudian tersiar luas ke Basrah, sampai ke Damshiq dan Istanbul
di Turki. Cabang-cabangnya yang terdapat di Syria ialah Hariyah,
Sa’diyah dan Sayyadiyah. Cabangnya yang terdapat di Mesir pula
ialah Baziyah, Malikiyah dan Habibiyah. Cabang Sa’diyah di
Syria didirikan oleh Sa’duddin Jibawi (wafat 1335H) yang
bercabang pula, masing-masing didirikan oleh Abdus Salamiyah
dan Abdul Wafaiyah, Hariri cabang di Syria (wafat 1247 H).

KESIMPULAN
Keperibadian manusia telah disemai sebagai sebaik-baik
penciptaan yang Allah swt mengutamakan atas segala penciptaan
yang lain. Kecemerlangan penciptaan yang dinamakan insan ini
memerlukan panduan yang sebaik-baiknya baik mengharungi
buaian gelora dunia. Tujuannya tiada lain melainkan supaya
insan ini akan pulang ke pangkuan Tuhannya dalam keadaan
sebaik-baiknya sepertimana keadaannya ketika dalam mula-mula
kejadian. Dengan motif mencapai kesempurnaan disisi Allah
inilah, ilmu Tasawuf dan jalan Tariqah, para sufi mengutamakan.
Tiada lain melainkan keredhaan Ilahi yang diharapkan, supaya
kepulangannya membawa kepada pengucapan salam dari
Penciptanya.
Dengan ini kami akhiri pembentangan suatu khazanah Islam
yang unggul ini dengan harapan ianya menjadi wasilah bagi
mencerminkan segelintir isi kandungan yang terkandung didalam
ilmu yang besar ini. Semoga ianya menjadi alat bagi
mendatangkan fahaman kepada ajaran Tasawuf dan Tariqah.
Dengannya kami mengharapkan maghfirah dan hasanah dari Sang
Pencipta, yang menjadi tujuan atas segala tujuan.


http://teosufi.multiply.com/journal/item/297

Pengertian Syari'at

SYARIAT
Syariat Islam adalah ajaran Islam yang membicarakan amal manusia baik sebagai makluk ciptaan Allah maupun hamba Allah.
Terkait dengan susunan tertib Syari'at, Al Quran Surat Al Ahzab ayat 36 mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan RasulNya sudah memutuskan suatu perkara, maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. Oleh sebab itu secara implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatu perkara yang Allah dan RasulNya belum menetapkan ketentuannya maka umat Islam dapat menentukan sendiri ketetapannya itu. Pemahaman makna ini didukung oleh ayat dalam Surat Al Maidah QS 5:101 yang menyatakan bahwa hal-hal yang tidak dijelaskan ketentuannya sudah dimaafkan Allah.
Dengan demikian perkara yang dihadapi umat Islam dalam menjalani hidup beribadahnya kepada Allah itu dapat disederhanakan dalam dua kategori, yaitu apa yang disebut sebagai perkara yang termasuk dalam kategori Asas Syara' dan perkara yang masuk dalam kategori Furu' Syara'.
Syari’at bisa disebut syir’ah. Artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “syara’a fiil maa’i” artinya datang ke sumber air mengalir atau datang pada syari’ah.
Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.
Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman, “Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peraturan (syari’at) dan jalan yang terang.” [QS. Al-Maidah (5): 48]
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Maidah (5): 18].
“Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa (42): 13].
Sedangkan arti syari’at menurut istilah adalah “maa anzalahullahu li ‘ibaadihi minal ahkaami ‘alaa lisaani rusulihil kiraami liyukhrijan naasa min dayaajiirizh zhalaami ilan nuril bi idznihi wa yahdiyahum ilash shiraathil mustaqiimi.” Artinya, hukum-hukum (peraturan) yang diturunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia, agar mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.
Jika ditambah kata “Islam” di belakangnya, sehingga menjadi frase Syari’at Islam (asy-syari’atul islaamiyatu), istilah bentukan ini berarti, ” maa anzalahullahu li ‘ibaadihi minal ahkaami ‘alaa lisaani sayyidinaa muhammadin ‘alaihi afdhalush shalaati was salaami sawaa-un akaana bil qur-ani am bisunnati rasuulillahi min qaulin au fi’lin au taqriirin.” Maksudnya, syari’at Islam adalah hukum-hukum peraturan-peraturan) yang diturunkan Allah swt. untuk umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.
Terkadang syari’ah Islam juga dimaksudkan untuk pengertian “Fiqh Islam”. Jadi, maknanya umum, tetapi maksudnya untuk suatu pengertian khusus. Ithlaaqul ‘aammi wa yuraadubihil khaashsh (disebut umum padahal dimaksudkan khusus).
Fiqh menurut bahasa adalah tahu atau paham sesuatu. Hal ini seperti yang bermaktub dalam surat An-Nisa (4) ayat 78, “Maka mengapa orang-orang itu (munafikin) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (pelajaran dan nasihat yang diberikan).”
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam perkara agama.”
Kata Faqiih adalah sebutan untuk seseorang yang mengetahui hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf, hukum-hukum tersebut diambil dari dalil-dalilnya secara terperinci.
Fiqh Islam menurut istilah adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum Allah atas perbuatan orang-orang mukallaf, hukum itu wajib atau haram dan sebagainya. Tujuannya supaya dapat dibedakan antara wajib, haram, atau boleh dikerjakan.
Ilmu Fiqh adalah diambil dengan jalan ijtihad. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menulis, Fiqh adalah pengetahuan tentang hukum-hukum Allah, di dalam perbuatan-perbuatan orang mukallaf (yang dibebani hukum) seperti wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Hukum-hukum itu diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah serta dari sumber-sumber dalil lain yang ditetapkan Allah swt. Apabila hukum-hukum tersebut dikeluarkan dari dali-dalil tersebut, maka disebut Fiqh.
Para ulama salaf (terdahulu) dalam mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil di atas hasilnya berbeda satu sama lain. Perbedaan ini adalah suatu keharusan. Sebab, pada umumnya dalil-dalil adalah dari nash (teks dasar) berbahasa Arab yang lafazh-lafazhnya (kata-katanya) menunjukkan kepada arti yang diperselisihkan di antara mereka.
Fiqh Islam terbagi menjadi enam bagian:
1. Bagian Ibadah, yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. dan untuk mengagungkan kebesaran-Nya, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.
2. Bagian Ahwal Syakhshiyah (al-ahwaalu asy-syakhsyiyyatu), yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang berhubungan dengan pembentukan dan pengaturan keluarga dan segala akibat-akibatnya, seperti perkawinan, mahar, nafkah, perceraian (talak-rujuk), iddah, hadhanah (pemeliharaan anak), radha’ah (menyusui), warisan, dan lain-lain. Oleh kebanyakan para mujtahidin, bagian kedua ini dimasukkan ke dalam bagian mu’amalah.
3. Bagian Mu’amalah (hukum perdata), yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur harta benda hak milik, akad (kontrak atau perjanjian), kerjasama sesama orang seperti jual-beli, sewa menyewa (ijarah), gadai (rahan), perkonsian (syirkah), dan lain-lain yang mengatur urusan harga benda seseorang, kelompok, dan segala sangkut-pautnya seperti hak dan kekuasaan.
4. Bagian Hudud dan Ta’zir (hukum pidana), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang berhubungan dengan kejahatan, pelanggaran, dan akibat-akibat hukumnya.
5. Bagian Murafa’at (hukum acara), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur cara mengajukan perkara, perselisihan, penuntutan, dan cara-cara penetapkan suatu tuntutan yang dapat diterima, dan cara-cara yang dapat melindungi hak-hak seseorang.
6. Bagian Sirra wa Maghazi (hukum perang), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur peperangan antar bangsa, mengatur perdamaian, piagam perjanjian, dokumen-dokumen dan hubungan-hubungan umat Islam dengan umat bukan Islam.
Jadi, Fiqh Islam adalah konsepsi-konsepsi yang diperlukan oleh umat Islam untuk mengatur kepentingan hidup mereka dalam segala segi, memberikan dasar-dasar terhadap tata administrasi, perdagangan, politik, dan peradaban. Artinya, Islam memang bukan hanya akidah keagamaan semata-mata, tapi akidah dan syariat, agama dan negara, yang berlaku sepanjang masa dan sembarang tempat.
Dalam Al-Qur’an ada 140 ayat yang secara khusus memuat hukum-hukum tentang ibadah, 70 ayat tentang ahwal syakhshiyah, 70 ayat tentang muamalah, 30 ayat tentang uqubah (hukuman), dan 20 ayat tentang murafa’at. Juga ada ayat-ayat yang membahas hubungan politik antara negara Islam dengan yang bukan Islam. Selain Al-Qur’an, keenam tema hukum tersebut di atas juga diterangkan lewat hadits-hadits Nabi. Sebagian hadits menguatkan peraturan-peraturan yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian ada yang memerinci karena Al-Qur’an hanya menyebutkan secara global, dan sebagian lagi menyebutkan suatu hukum yang tidak disebutkan dala mAl-Qur’an. Maka, fungsi hadits adalah sebagai keterangan dan penjelasan terhadap nash-nash (teks) Al-Qur’an yang dapat memenuhi kebutuhan (kepastian hukun) kaum muslimin

Hukum Syara’
Hukum syara’ adalah “maa tsabata bi khithaabillahil muwajjahi ilaal ‘ibaadi ‘alaa sabiilith thalabi awit takhyiiri awil wadh’i”. Maksudnya, sesuatu yang telah ditetapkan oleh titah Allah yang ditujukan kepada manusia, yang penetapannya dengan cara tuntutan (thalab), bukan pilihan (takhyir), atau wadha’.
Contoh hukum syara’, perintah langsung Allah swt., “Tegakkahlah shalat dan berikanlah zakat!” [QS. Al-Muzzamil (73): 20]. Ayat ini menetapkan suatu tuntutan berbuat, dengan cara tuntutan keharusan yang menunjukkan hukum wajib melakukan shalat dan zakat.
Firman Allah swt., “Dan janganlah kamu mendekati zina!” [QS. Al-Isra' (17): 32]. Ayat ini menetapkan suatu tuntutan meninggalkan, dengan cara keharusan yang menunjukkan hukum haram berbuat zina.
Firman Allah swt., “Dan apabila kamu telah bertahallul (bercukur), maka berburulah.” [QS. Al-Maidah (5): 2]. Ayat ini menunjukkan suatu hukum syara’ boleh berburu sesudah tahallul (lepas dari ihram dalam haji). Orang mukallaf boleh memilih antara berbuat berburu atau tidak.
Yang dimaksud dengan wadha’ adalah sesuatu yang diletakkan menjadi sebab atau menjadi syarat, atau menjadi pencegah terhadap yang lain. Misalnya, perintah Allah swt. “Pencuri lelaki dan wanita, potonglah tangan keduanya.” [QS. Al-Maidah (5): 38]. Ayat ini menunjukkan bahwa pencurian adalah dijadikan sebab terhadap hukum potong tangan.
Bersabda Rasulullah saw., “Allah swt. tidak menerima shalat yang tidak dengan bersuci.” Hadits ini menunjukkan bahwa bersuci adalah dijadikan syarat untuk shalat.
Contoh yang lain, sabda Rasulullah saw., “Pembunuh tidak bisa mewarisi sesuatu.” Hadits ini menunjukkan bahwa pembunuhan adalah pencegah seorang pembunuh mewarisi harta benda si terbunuh.
Dari keterangan-keterangan di atas, kita paham bahwa hukum syara’ dibagi menjadi dua, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.
Hukum taklifi adalah sesuatu yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat, atau tuntutan untuk meninggalkan, atau boleh pilih antara berbuat dan meninggalkan.
Contoh hukum yang menunjukkan tuntutan untuk berbuat: “Ambilah sedekah dari sebagian harta mereka!” [QS. At-Taubah (9): 103], “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.” [QS. Al-Imran (3): 97].
Contoh hukum yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan: “Janganlah di antara kamu mengolok-olok kaum yang lain.” [QS. Al-Hujurat (49): 11], “Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, dan daging babi.” [QS. Al-Maidah (5): 3].
Contoh hukum yang menunjukkan boleh pilih (mudah): “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi.” [QS. Al-Jumu'ah (62): 10], “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat.” [QS. An-Nisa' (4): 101].

Hukum wadh’i adalah yang menunjukkan bahwa sesutu telah dijadikan sebab, syarat, dan mani’ (pencegah) untuk suatu perkara.
Contoh sebab: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku-siku.” [QS. Al-Maidah (5): 6]. Kehendak melakukan shalat adalah yang menjadikan sebab diwajibkannya wudhu.
Contoh syarat: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.” [QS. Ali Imran (3): 97]. Kemampuan adalah menjadi syarat diwajibkannya haji.
Contoh mani’ (pencegah): Rasulullah saw. bersabda, “Pena diangkat (tidak ditulis dosa) dari tiga orang, yaitu dari orang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dan dari orang gila sampai ia sembuh (berakal).” Hadits ini menunjukkan bahwa gila adalah pencegah terhadap pembebanan suatu hukum dan menjadi pencegah terhadap perbuatan yang sah.
Hukum taklifi terbagi menjadi dua, yaitu azimah dan rukhshah. Azimah adalah suatu hukum asal yang tidak pernah berubah karena suatu sebab dan uzur. Seperti shalatnya orang yang ada di rumah, bukan musafir. Sedangkan rukhshah adalah suatu hukum asal yang menjadi berubah karena suatu halangan (uzur). Seperti shalatnya orang musafir.
Azimah meliputi berbagai macam hukum, yaitu:
1. Wajib. Suatu perbuatan yang telah dituntut oleh syara’ (Allah swt.) dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukum perbuatan ini harus dikerjakan. Bagi yang mengerjakan mendapat pahala dan bagi yang meninggalkan mendapat siksa. Contohnya, puasa Ramadhan adalah wajib. Sebab, nash yang dipakai untuk menuntut perbuatan ini adalah menunjukkan keharusan. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183]
2. Haram. Haram adalah sesutu yang telah dituntut oleh syara’ (Allah swt.) untuk ditinggalkan dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukumnya bila dikerjakan adalah batal dan yang mengerjakannya mendapat siksa. Contohnya, tuntutan meninggalkan berzina, tuntutan meninggalkan makan bangkai, darah, dan daging babi.
3. Mandub (sunnah). Mandub adalah mengutamakan untuk dikerjakan daripada ditinggalkan, tanpa ada keharusan. Yang mengerjakannya mendapat pahala, yang meninggalkannya tidak mendapat siksa, sekalipun ada celaan. Mandub biasa disebut sunnah, baik sunnah muakkadah (yang dikuatkan) atau ghairu (tidak) muakkadah (mustahab).
4. Makruh. Makruh adalah mengutamakan ditinggalkan daripada dikerjakan, dengan tidak ada unsur keharusan. Misalnya, terlarang shalat di tengah jalan. Yang melaksanakannya tidak mendapat dosa sekalipun terkadang mendapat celaan.
5. Mubah. Mubah adalah si mukallaf dibolehkan memilih (oleh Allah swt.) antara mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya, dalam arti salah satu tidak ada yang diutamakan. Misalnya, firman Allah swt. “Dan makan dan minumlah kamu sekalian.” Tegasnya, tidak ada pahala, tidak ada siksa, dan tidak ada celaan atas berbuat atau meninggalkan perbuatan yang dimubahkan.
Apabila Allah swt. menuntut kepada seorang mukallaf untuk melakukan sesuatu perbuatan lalu perbuatan tersebut dikerjakannya sesuai dengan yang dituntut darinya dengan terpenuhi syarat rukunnya, maka perbuatan tersebut disebut shahih. Tetapi apabila salah satu syarat atau rukunnya rusak, maka perbuatan tersebut disebut ghairush shahiih.

Ash-shahiih adalah sesuatu yang apabila dikerjakan mempunyai urutan akibatnya. Contohnya, bisa seorang mukallaf mengerjakan shalat dengan sempurna, terpenuhi syarat rukunnya, maka baginya telah gugur kewajiban dan tanggungannya.
Ghairush-shahiih adalah sesuatu yang dilakukannya tidak mempunya urutan akibat-akibat syara’. Contohnya, seorang mukallaf mengerjakan shalat tidak terpenuhi syarat rukunnya, seperti shalat tanpa rukuk. Kewajiban mukallaf mengerjakan shalat tersebut belum gugur. Demikian pula kalau shalat dikerjakan tidak pada waktunya atau mengerjakannya tanpa wudhu. Perbuatan-perbuatan yang dikerjakan tidak sesuai dengan tuntutan Allah swt. dianggap tidak ada atau tidak mengerjakan apa-apa

•ASAS-ASAS SYARA'
Yaitu perkara yang sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadits. Kedudukannya sebagai Pokok Syari'at Islam dimana Al Quran itu Asas Pertama Syara' dan Al Hadits itu Asas Kedua Syara'. Sifatnya, pada dasarnya mengikat umat Islam seluruh dunia dimanapun berada, sejak kerasulan Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman, kecuali dalam keadaan darurat.
Keadaan darurat dalam istilah agama Islam diartikan sebagai suatu keadaan yang memungkinkan umat Islam tidak mentaati syari'at Islam, ialah keadaan yang terpaksa atau dalam keadaan yang membahayakan diri secara lahir dan batin, dan keadaan tersebut tidak diduga sebelumnya atau tidak diinginkan sebelumnya, demikian pula dalam memanfaatkan keadaan tersebut tidak berlebihan. Jika keadaan darurat itu berakhir maka segera kembali kepada ketentuan syari'at yang berlaku.
• Furu' Syara'
Yaitu perkara yang tidak ada atau tidak jelas ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist. Kedudukannya sebaga Cabang Syari'at Islam. Sifatnya pada dasarnya tidak mengikat seluruh umat Islam di dunia kecuali diterima Ulil Amri setempat menerima sebagai peraturan / perundangan yang berlaku dalam wilayah kekuasaanya.
Perkara atau masalah yang masuk dalam furu' syara' ini juga disebut sebagai perkara ijtihadiyah.
Sumber Hukum Islam
AL-QUR’AN DAN HADITS
Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman (Saba' QS 34:28). Sebagai sumber Ajaran Islam juga disebut sumber pertama atau Asas Pertama Syara'.
Al-Quran merupakan kitab suci terakhir yang turun dari serangkaian kitab suci lainnya yang pernah diturunkan ke dunia
Dalam upaya memahami isi Al Quran dari waktu ke waktu telah berkembang tafsiran tentang isi-isi Al-Qur'an namun tidak ada yang saling bertentangan.
Hadits adalah perkataan dan perbuatan dan diamnya dari Nabi Muhammad. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum di bawah Al-Qur'an.
Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad. Namun pada saat ini kata hadits mengalami perluasan makna, sehingga disinonimkan dengan sunnah, maka bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.
Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da'if dan maudu'
•Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.Sanadnya bersambung;
2.Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
3.Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits .
•Hadits Hasan, bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
•Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
•Hadits Maudu', bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
Jenis-jenis lain
Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:
•Hadits Matruk, yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.
•Hadits Mungkar, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur.
•Hadits Mu'allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat)
•Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan
•Hadits Maqlub, yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi)
•Hadits gholia, yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah
•Hadits Mudraj, yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya
•Hadits Syadz, Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain.
•Hadits Mudallas, disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya

Ijtihad
Ijtihad adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis. Ijtihad dilakukan setelah Nabi Muhammad telah wafat sehingga tidak bisa langsung menanyakan pada beliau tentang suatu hukum namun hal-hal ibadah tidak bisa diijtihadkan. Beberapa macam ijtihad antara lain. Ijtihad merupakan sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ulama’ yang ahli agama Islam.
Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detil oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari.
Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist.

Jenis-jenis ijtihad
Ijma'
Ijma' artinya kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi. Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.
Qiyâs
Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalah sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Dalam Islam, Ijma dan Qiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya
•Beberapa definisi qiyâs (analogi)
1.Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik persamaan diantara keduanya.
2.Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu persamaan diantaranya.
3.Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam [Al-Qur'an] atau [Hadis] dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (iladh).
Istihsân
•Beberapa definisi Istihsân
1.Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih), hanya karena dia merasa hal itu adalah benar.
2.Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya
3.Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat orang banyak.
4.Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan.
5.Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya...
Maslahah murshalah
Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskhnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan.
Sududz Dzariah
Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentinagn umat.
Istishab
Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya.
Urf
Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis.

source:http://teosufi.multiply.com/journal/item/273

Tasawuf Menurut Para Ulama

Berikut beberapa pendapat Ulama tentang Tasawuf.

Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)
Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq.
Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)
Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195
Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)
Imam Shafi’i :  ”Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.
2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf
[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.]
Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 :
“Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah satunya Demi Allah Aku menasehatimu”.
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)
Imam Ahmad (r) : “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)
Imam Haris Al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)
Imam Haris Al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawuf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.
Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)
Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]
Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)
Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf : “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].
Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)
Dalam suratnya al-Maqasid :  “Ciri jalan sufi ada 5 :  menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi :  “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]
Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)
Ibn Khaldun :  “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]
Tajuddin as-Subki
Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata: “Mereka dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.
Jalaluddin as-Suyuti
Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”
Ibn Taimiya (661-728 H./1263-1328 CE)
Majmu Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita. Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa’i, and Shaikh Bayazid al- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume 10: “…Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:” Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?”. Dan Allah menjawab: “Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”. Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, ” Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya”. Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd (pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid al-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul Saw.
Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasawuf
Berikut adalah pendapat Ibn Taimiah tentang definisi Tasauf dari strained, Whether you are gold or gold-plated copper.” Sanai. Following is what Ibn Taymiyya said about the definition of Tasawwuf, from Volume 11, At-Tasawwuf, of Majmu’a Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah, Cairo: “Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikan secara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yang berhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan).” “Tasauf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya. Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkan Allah: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)” Dia melanjutkan mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan kanan (ashabus-syimal).”
Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)
Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh Sufyan ath-Tsawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen) Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh” ‘
Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab (1115-1201 H./1703-1787 CE)
Dari Mu ammad Man ar Nu’mani’s book (p. 85), Ad- ia’at al-Mukaththafa Didd ash-Shaikh Mu ammad ibn c’Abdul Wahhab: “Shaikh ‘Abdullah, anak shaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf: ‘Anakku dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasauf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya tasauf diperlukan.” Dalam volume 5 dari Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab entitled ar-Rasa’il ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal. 12, 61, and 64 dia menyatakan: “Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn ‘Arabi atau Ibn al-Farid karena interpretasi sufinya”
Ibn ‘Abidin
Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].
Shaikh Rashid Rida
Dia berkata,”tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].
Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi
Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah” “Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasauf” “Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”
Abul ‘Ala Mawdudi
Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.” Ringkasnya, tasauf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.

sumber:http://ahmadfaruq.blogdetik.com/tasawuf/

ILMU TASAWUF

Bab 1 : Pengenalan
1. Pengertian Ilmu Tasawwuf :

Ilmu tasauf ialah ilmu yang menyuluh perjalanan seseorang mukmin di dalam membersihkan hati dengan sifat-sifat mahmudah atau sifat-sifat yang mulia dan menghindari atau menjauhkan diri daripada sifat-sifat mazmumah iaitu yang keji dan tercela .
2. Ilmu tasawwuf bertujuan mendidik nafsu dan akal supaya sentiasa berada di dalam landasan dan peraturan hukum syariat Islam yang sebenar sehingga mencapai taraf nafsu mutmainnah .
3. Syarat-syarat untuk mencapai taraf nafsu mutmainah:
a) Banyak bersabar .
b) Banyak menderita yang di alami oleh jiwa .
4. Imam Al-Ghazali r.a. telah menggariskan sepuluh sifat Mahmudah / terpuji di dalam kitab Arbain Fi Usuluddin iaitu :
1) Taubat .
2) Khauf ( Takut )
3) Zuhud
4) Sabar.
5) Syukur.
6) Ikhlas.
7) Tawakkal.
8) Mahabbah ( Kasih Sayang )
9) Redha.
10) Zikrul Maut ( Mengingati Mati )
5. Dan Imam Al-Ghazali juga telah menggariskan sepuluh sifat Mazmumah / tercela / sifat keji di dalam kitab tersebut iaitu :
1) Banyak Makan
2) Banyak bercakap.
3) Marah.
4) Hasad.
5) Bakhil.
6) Cintakan kemegahan.
7) Cintakan dunia .
8) Bangga Diri.
9) Ujub ( Hairan Diri ).
10) Riya' ( Menunjuk-nunjuk ).
Bab 2: Khauf
1. Khauf bererti takut akan Allah s.w.t., iaitu rasa gementar dan rasa gerun akan kekuatan dan kebesaran Allah s.w.t. serta takutkan kemurkaanNya dengan mengerjakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.
2. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : "Dan kepada Akulah ( Allah ) sahaja hendaklah kamu merasa gerun dan takut bukan kepada sesuatu yang lain".
( Surah Al-Baqarah - Ayat 40 )
3. Seseorang itu tidak akan merasai takut kepada Allah s.w.t. jika tidak mengenalNya. Mengenal Allah s.w.t. ialah dengan mengetahui akan sifat-sifat ketuhanan dan sifat -sifat kesempurnaan bagi zatNya.
4. Seseorang itu juga hendaklah mengetahui segala perkara yang disuruh dan segala perkara yang ditegah oleh agama.
5. Dengan mengenal Allah s.w.t. dan mengetahui segala perintah dan laranganNya, maka seseorang itu akan dapat merasai takut kepada Allah s.w.t.
6. Rasa takut dan gerun kepada Allah s.w.t. akan menghindarkan seseorang itu daripada melakukan perkara yang ditegah oleh Allah s.w.t. dan seterusnya patuh dan tekun mengerjakan perkara yang disuruhnya dengan hati yang khusyuk dan ikhlas.
Rujukan : Tasauf di Dalam Islam - Datuk Hj.Md.Yunus bin Hj. Md. Yatim.
( Bekas Mufti Negeri Melaka )
Bab 3 : Sifat Ridha
1) Sifat redha adalah daripada sifat makrifah dan mahabbah kepada Allah s.w.t.
2) Pengertian redha ialah menerima dengan rasa senang dengan apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) mahupun qada' atau sesuatu ketentuan daripada Allah s.w.t.
3) Redha terhadap Allah s.w.t terbahagi kepada dua :
· Redha menerima peraturan ( hukum ) Allah s.w.t. yang dibebankan kepada manusia.
· Redha menerima ketentuan Allah s.w.t. tentang nasib yang mengenai diri.
Redha Menerima hukum Allah s.w.t. :
Redha menerima hukum-hukum Allah s.w.t. adalah merupakan manifestasi daripada kesempurnaan iman, kemuliaan taqwa dan kepatuhan kepada Allah s.w.t. kerana menerima peraturan-peraturan itu dengan segala senang hati dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa.
Merasa tunduk dan patuh dengan segala kelapangan dada bahkan dengan gembira dan senang menerima syariat yang digariskan oleh Allah s.w.t. dan Rasulnya adalah memancar dari mahabbah kerana cinta kepada Allah s.w.t. dan inilah tanda keimanan yang murni serta tulus ikhlas kepadaNya.
Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
" Tetapi tidak ! Demi Tuhanmu, mereka tidak dipandang beriman hingga mereka menjadikanmu ( Muhammad ) hakim dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam hati mereka tentang apa yang engkau putuskan serta mereka menyerah dengan bersungguh - sungguh ". ( Surah An-Nisaa' : Ayat 65 )
Dan firman Allah s.w.t yang bermaksud :
" Dan alangkah baiknya jika mereka redha dengan apa yang Allah dan Rasulnya berikan kepada mereka sambil mereka berkata : ' Cukuplah Allah bagi kami , Ia dan Rasulnya akan berikan pada kami kurnianya ,Sesungguhnya pada Allah kami menuju ".
( Surah At Taubah : Ayat 59 )
Pada dasarnya segala perintah-perintah Allah s.w.t. baik yang wajib mahupun yang Sunnah ,hendaklah dikerjakan dengan senang hati dan redha. Demikian juga dengan larangan-larangan Allah s.w.t. hendaklah dijauhi dengan lapang dada .
Itulah sifat redha dengan hukum-hukum Allah s.w.t. Redha itu bertentangan dengan sifat dan sikap orang-orang munafik atau kafir yang benci dan sempit dadanya menerima hukum-hukum Allah s.w.t.
Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
" Yang demikian itu kerana sesungguhnya mereka ( yang munafik ) berkata kepada orang-orang yang di benci terhadap apa-apa yang diturunkan oleh Allah s.w.t. 'Kami akan tuntut kamu dalam sebahagian urusan kamu ',Tetapi Allah mengetahui rahsia mereka ". ( Surah Muhammad : Ayat 26 )
Andaikata mereka ikut beribadah, bersedekah atau mengerjakan sembahyang maka ibadah itu mereka melakukannya dengan tidak redha dan bersifat pura-pura. Demikianlah gambaran perbandingan antara hati yang penuh redha dan yang tidak redha menerima hukum Allah s.w.t. , yang mana hati yang redha itu adalah buah daripada kemurnian iman dan yang tidak redha itu adalah gejala nifaq.
Redha Dengan Qada' :
Redha dengan qada' iaitu merasa menerima ketentuan nasib yang telah ditentukan Allah s.w.t baik berupa nikmat mahupun berupa musibah ( malapetaka ). Didalam hadis diungkapkan bahawa di antara orang yang pertama memasuki syurga ialah mereka yang suka memuji Allah s.w.t. . iaitu mereka memuji Allah ( bertahmid ) baik dalam keadaan yang susah mahupun di dalam keadaan senang.
Diberitakan Rasulullah s.a.w. apabila memperolehi kegembiraan Baginda berkata :
" Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi sempurnalah kebaikan ".
Dan apabila kedatangan perkara yang tidak menyenangkan , Baginda mengucapkan :
" Segala puji bagi Allah atas segala perkara ".
Perintah redha menerima ketentuan nasib daripada Allah s.w.t. dijelaskan didalam hadis Baginda yang lain yang bermaksud :

" Dan jika sesuatu kesusahan mengenaimu janganlah engkau berkata : jika aku telah berbuat begini dan begitu, begini dan begitulah jadinya. Melainkan hendakalah kamu katakan : Allah telah mentaqdirkan dan apa yang ia suka , ia perbuat ! " Kerana sesungguhnya perkataan : andaikata... itu memberi peluang pada syaitan " . (Riwayat Muslim)
Sikap redha dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah s.w.t. Ketika mendapat kesenangan atau sesuatu yang tidak menyenangkan bersandar kepada dua pengertian :
Pertama : Bertitik tolak dari pengertian bahawa sesungguhnya Allah s.w.t. memastikan terjadinya hal itu sebagai yang layak bagi Dirinya kerana bagi Dialah sebaik-baik Pencipta. Dialah Yang Maha Bijaksana atas segala sesuatu.
Kedua : Bersandar kepada pengertian bahawa ketentuan dan pilihan Allah s.w.t. itulah yang paling baik , dibandingkan dengan pilihan dan kehendak peribadi yang berkaitan dengan diri sendiri.
Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :
" Demi Allah yang jiwaku ditangannya !Tidaklah Allah memutuskan sesuatu ketentuan bagi seorang mukmin melainkan mengandungi kebaikan baginya. Dan tiadalah kebaikan itu kecuali bagi mukmin . Jika ia memperolehi kegembiraan dia berterima kasih bererti kebaikan baginya , dan jika ia ditimpa kesulitan dia bersabar bererti kebaikan baginya ".
( Riwayat Muslim )
Bab 4 : Ikhlas

1. Sifat ikhlas ialah menumpukan niat bagi setiap ibadah atau kerja yang dilakukan semata-mata kerana Allah s.w.t. dan diqasadkan ( niat ) untuk menjunjung perintah semata-mata serta membersihkan hati dari dosa riya’ , ujub atau inginkan pujian manusia.
2. Firman Allah s.w.t. di dalam Al-Quran yang bermaksud :
“ Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah s.w.t. dengan mengikhlaskan ibadah kepadanya , lagi tetap teguh di atas tauhid dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat dan yang demikian itulah agama yang benar “.
( Surah Al-Bayyinah – Ayat 5 )
3. Setiap pekerjaan yang dilakukan hendaklah dibersihkan daripada sesuatu tujuan yang lain daripada taat kepada perintah Allah s.w.t.
4. Hendaklah dibersihkan niat daripada sebab-sebab yang lain dari sifat-sifat yang keji ( sifat mazmumah ) seperti riya’ , ujub , inginkan kemasyhuran dan lain-lain lagi.
5. Dalam meninggalkan larangan Allah s.w.t. hendaklah diniatkan untuk taat semata-mata bukan kerana malu kepada makhluk atau sebagainya.

( Rujukan Kitab - Mengenal Ilmu Tasawwuf – Mohd Sulaiman bin Hj. Yasin )
Bab 5 : Taubat
1. Iaitu kembali daripada keburukan kepada kebaikan dengan beberapa syarat yang tertentu.
2. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud :
” Dan mohonlah ampun kepada Allah , sesungguhnya ia Maha
Pengampun lagi Maha Mengasihani ”.
( Surah Al – Muzammil - Ayat 20 )
3. Syarat-syarat taubat adalah seperti berikut :
· Meninggalkan maksiat atau perkara dosa tersebut.
· Menyesal atas maksiat atau dosa yang telah dilakukan.
· Bercita-cita tidak akan mengulanginya lagi.
· Mengembalikan hak-hak makhluk yang dizalimi.
· Mengerjakan perkara-perkara fardhu yang telah luput.
4. Setiap manusia tidak dapat mengelakkan dirinya daripada tersalah dan terlupa, melainkan manusia yang Ma’asum ( terpelihara daripada dosa ) seperti rasul-rasul dan nabi-nabi.
5. Seseorang itu hendaklah bersungguh-sungguh memelihara diri daripada dosa iaitu dengan memelihara seluruh anggota daripada melakukan perkara-perkara yang ditegah oleh agama.
6. Beberapa faedah dan hikmah taubat iaitu:
· Menghidupkan jiwa yang resah kerana dosa.
· Mendekatkan diri kepada Allah S.W.T .
· Meningkatkan ketaqwaan diri.
· Membenteras tipu-daya syaitan yang selama ini memerangkap manusia
dengan berbuat dosa dan maksiat.
· Memperolehi kemuliaan dan anugerah Allah S.W.T. dalam hidup di dunia
dan akhirat.
( Dipetik daripada - Hidup Bertaqwa Oleh Dato’ Hj. Ismail bin Hj. Kamus
M / S 269 - 273 )
Bab 6 : Zuhud
1. Ertinya meninggalkan dunia melainkan kadar yang patut daripadanya.
2. Zuhud yang sempurna ialah meninggalkan perkara lain selain Allah S.W.T.
3. Dunia ialah tiap-tiap perkara yang tidak dituntut oleh syarak dan ianya sebagai tempat bercucuk-tanam ( berbuat kebaikan dan amalan soleh ) untuk akhirat yang kekal abadi selama-lamanya.
4. Setiap manusia berkehendak kepada beberapa perkara bagi meneruskan hidup yang mana manusia berkehendak kepada makanan , pakaian , tempat tinggal dan lain-lain lagi.
5. Oleh yang demikian, sifat zuhud itu adalah mencari keperluan hidup sekadar yang boleh membantu ia untuk beribadah kepada Allah S.W.T.
( zuhud orang awam ).
( Dipetik daripada - Hidup Bertaqwa Oleh Dato’ Hj. Ismail bin Hj. Kamus
M / S 274 - 276 )
Bab 7 : Sabar
  • Iaitu menahan diri daripada keluh kesah pada sesuatu yang tidak disukai.
  • Sifat sabar perlu ketika menghadapi tiga perkara berikut:
1. Menahan diri daripada keluh kesah dan menahan diri daripada mengadu kepada yang lain daripada Allah subhanahu wata‘ala ketika berlaku sesuatu bala atau bencana.
2. Menahan diri dalam mengerjakan segala perintah Allah.
3. Menahan diri dalam meninggalkan segala larangan Allah.
  • Sifat sabar itu dipuji pada syara‘ kerana seseorang yang bersifat sabar menunjukkan ia beriman dengan sempurna kepada Allah, dan menunjukkan ia taat dan menjunjung segala perintah agama.
  • Orang yang beriman kepada Allah mengetahui bahawa segala perkara yang berlaku ke atas drinya adalah kehendak Allah yang tidak dapat dielak lagi. Begitulah juga orang yang taat, tidak akan merasa susah dalam mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.
Bab 8 : Syukur
  • Iaitu mengaku dan memuji Allah atas nikmat yang diberi dan menggunakan segala nikmat itu untuk berbuat taat kepada Allah subhanahu wata‘ala.
  • Tiap-tiap nikmat yang diberi oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada makhlukNya adalah dengan limpah kurniaNya semata-mata, seperti nikmat kesihatan, kekayaan, kepandaian dan sebagainya. Oleh yang demikian, bersyukur dan berterima kasih atas nikmat-nikmat tersebut merupakan suatu kewajipan kepada Allah subhanahu wata‘ala.
  • Setiap nikmat juga hendaklah disyukuri kerana orang yang tidak berterima kasih adalah orang yang tidak mengenang budi. Oleh itu, hendaklah digunakan nikmat-nikmat Allah itu untuk menambahkan ibadah kepada Allah dan sangatlah keji dan hina menggunakan nikmat-nikmat itu untuk menderhakai Tuhan yang memberi nikmat.
Bab 9 : Tawakkal
  • Iaitu menetapkan hati dan berserah kepada Allah pada segala perkara yang berlaku serta jazam (putus) pada i`tiqad bahawa Allah subhanahu wata‘ala yang mengadakan dan memerintahkan tiap-tiap sesuatu.
  • Berserah kepada Allah pada segala perkara itu hendaklah disertakan dengan ikhtiar dan usaha kerana Allah menjadikan sesuatu mengikut sebab-sebabnya, seperti dijadikan pandai kerana belajar, dijadikan kaya kerana rajin berusaha atau berjimat cermat dan sebagainya.
Bab 10 : Mahabbah
  • Iaitu kasihkan Allah subhanahu wata‘ala dengan mengingatiNya pada setiap masa dan keadaan.
  • Kasihkan Allah ialah dengan segera melakukan segala perintahNya dan berusaha mendampingkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunat dan bersungguh-sungguh menghindari maksiat serta perkara-perkara yang membawa kemarahanNya.
Bab 11 : Dzikrulmaut
  • Iaitu sentiasa mengingati mati dan sentiasa bersedia dengan amalan-amalan yang baik.
  • Oleh kerana seseorang itu akan mati, maka hendaklah ia bersedia dengan amalan-amalan yang baik dan hendaklah ia memenuhkan tiap-tiap saat daripada umurnya itu dengan perkara yang berfaedah bagi akhiratnya kerana tiap-tiap perkara yang telah lalu tidak akan kembali lagi.
Bab 12 : Sifat-sifat Madzmumah
1. Syarrut tha‘amشرّطعام) ((banyak makan)
· Iaitu terlampau banyak makan atau minum ataupun gelojoh ketika makan atau minum.
· Makan dan minum yang berlebih-lebihan itu menyebabkan seseorang itu malas dan lemah serta membawa kepada banyak tidur. Ini menyebabkan kita lalai daripada menunaikan ibadah dan zikrullah.
· Makan dan minum yang berlebih-lebihan adalah ditegah walaupun tidak membawa kepada lali daripada menunaikan ibadah kerana termasuk di dalam amalan membazir.
2. Syarrul kalam(شرّ الكلام) (banyak bercakap)
· Iaitu banyak berkata-kata atau banyak bercakap.
· Banyak berkata-kata itu boleh membawa kepada banyak salah, dan banyak salah itu membawa kepada banyak dosa serta menyebabkan orang yang mendengar itu mudah merasa jemu.
3. Ghadhab (غضب)(pemarah)
· Ia bererti sifat pemarah, iaitu marah yang bukan pada menyeru kebaikan atau menegah daripada kejahatan.
· Sifat pemarah adalah senjata bagi menjaga hak dan kebenaran. Oleh kerana itu, seseorang yang tidak mempunyai sifat pemarah akan dizalimi dan akan dicerobohi hak-haknya.
· Sifat pemarah yang dicela ialah marah yang bukan pada tempatnya dan tidak dengan sesuatu sebab yang benar.
4. Hasadحسد) (dengki)
· Iaitu menginginkan nikmat yang diperolehi oleh orang lain hilang atau berpindah kepadanya.
· Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripadanya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala kerana mengurniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.
· Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerosakan.
5. Bakhil (بخيل)(kedekut)
· Iaitu menahan haknya daripada dibelanjakan atau digunakan kepada jalan yang dituntut oleh agama.
· Nikmat yang dikurniakan oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada seseorang itu merupakan sebagai alat untuk membantu dirinya dan juga membantu orang lain. Oleh yang demikian, nikmat dan pemberian Allah menjadi sia-sia sekiranya tidak digunakan dan dibelanjakan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata‘ala.
· Lebih-lebih lagi dalam perkara-perkara yang menyempurnakan agama seperti zakat, mengerjakan haji dan memberi nafkah kepada tanggungan, maka menahan hak atau harta tersebut adalah suatu kesalahan besar di sisi agama.
6. Hubbul jah (حبّ الجاه) (kasihkan kemegahan)
· Iaitu kasihkan kemegahan, kebesaran dan pangkat.
· Perasaan inginkan kemegahan dan pangkat kebesaran menjadikan perbuatan seseorang itu tidak ikhlas kerana Allah.
· Akibat daripada sifat tersebut boleh membawa kepada tipu helah sesama manusia dan boleh menyebabkan seseorang itu membelakangkan kebenaran kerana menjaga pangkat dan kebesaran.
7. Hubbud dunya (حبّ الدنيا) (kasihkan dunia)
· Ia bermaksud kasihkan dunia, iaitu mencintai perkara-perkara yang berbentuk keduniaan yang tidak membawa sebarang kebajikan di akhirat.
· Banyak perkara yang diingini oleh manusia yang terdiri daripada kesenangan dan kemewahan. Di antara perkara-perkara tersebut ada perkara-perkara yang tidak dituntut oleh agama dan tidak menjadi kebajikan di akhirat.
· Oleh yang demikian, kasihkan dunia itu adalah mengutamakan perkara-perkara tersebut sehingga membawa kepada lalai hatinya daripada menunaikan kewajipan-kewajipan kepada Allah.
· Namun begitu, menjadikan dunia sebagai jalan untuk menuju keredhaan Allah bukanlah suatu kesalahan.
8. Takabbur (تكبّر)(sombong)
· Iaitu membesarkan diri atau berkelakuan sombong dan bongkak.
· Orang yang takabbur itu memandang dirinya lebih mulia dan lebih tinggi pangkatnya daripada orang lain serta memandang orang lain itu hina dan rendah pangkat.
· Sifat takabbur ini tiada sebarang faedah malah membawa kepada kebencian Allah dan juga manusia dan kadangkala membawa kepada keluar daripada agama kerana enggan tunduk kepada kebenaran.
9. ‘Ujub (عجب)(bangga diri)
· Iaitu merasai atau menyangkakan dirinya lebih sempurna.
· Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam hatinya sangkaan bahaw

dinukil dari: http://www.al-azim.com/masjid/infoislam/tasawwuf/