Senin, 01 Februari 2016

DAHSYATNYA DOA DIANTARA DUA SUJUD


DAHSYATNYA DOA DIANTARA DUA SUJUD



Inilah Ternyata Dahsyatnya Doa Diantara Dua Sujud yang Banyak Tidak Diketahui Oleh Umat Islam Allah SWT tidak akan pernah menyuruh umatNya mengerjakan sesuatu yang tak memiliki makna, begitu juga dengan doa yang dibaca diantara dua sujud ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah shalat. Bayangkan saja, shalat sendiri memiliki amat banyak fungsi untuk kesehatan tubuh dan mental, hal yang sama juga pasti dimiliki oleh bacaan yang harus dilafalkan ketika melakukan kegiatan shalat tersebut. Jika kita nilai sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT tidak ada artinya, itu berarti kita tidak lagi percaya kepada hitungan yang sudah dilakukan Allah SWT terhadap makhluk-makhluk yang sudah memutuskan untuk menjadi umatNya. Jika ada pertanyaan doa apa yang paling sering dibaca oleh umat Islam, pasti akan banyak orang yang salah jawab, karena sesungguhnya doa terbanyak dibaca adalah doa antara dua sujud. Jika kita hanya melakukan shalat lima waktu, kita paling tidak sudah membaca doa tersebut sebanyak 17 kali setiap harinya. Itu hanyalah hitungan setiap harinya, dan jika kita kalikan seminggu saja maka kita paling tidak sudah membaca doa tersebut sebanyak 119 kali. Ulangi sebanyak 1 bulan, maka kita sudah membacanya sebanyak hampir 500 kali, tepatnya 476 kali. Bayangkan dengan doa-doa lain yang mungkin bahkan hanya kita panjatkan satu kali tiap harinya. Apa yang Membuat Doa Diantara Dua Sujud Amat Istimewa? Dahsyatnya doa diantara dua sujud mungkin sering terlewatkan oleh banyak umat Islam di dunia ini karena mereka terlalu sering membacanya hingga tidak tahu bahwa yang dibaca adalah sebuah doa yang manfaatnya akan diberikan kepada orang yang membacanya. Terlebih lagi dengan betapa seringnya doa ini dibacakan maka akan memberikan kemungkinan untuk dikabulkan jauh lebih besar dibandingkan doa-doa lainnya yang hanya dibaca hanya satu kali sehari. Adapula efek positif yang diberikan oleh doa ini, antara lain adalah sebagai berikut ini: • Robighfirlii Robighfirli bisa diartikan sebagai kita yang meminta kepada Allah SWT untuk mengampuni dosa-dosa yang dimiliki. Dosa merupakan beban hidup yang bisa menjadi penghalang kita masuk ke dalam surga milik Allah SWT.
• Warhamnii Khasiat doa diantara dua sujud yang kedua adalah warhamnii bermakna meminta kasih sayang dari Allah. • Wajburnii Wajburnii menyatakan kita minta tolong kepada Allah SWT untuk menutup kekurangan yang kita miliki sebagai manusia. • Warfa’ni Bagian ini adalah bagian kita yang meminta bantuan Allah untuk meninggikan derajat kita agar tak ada manusia yang sanggup menghina. • Warzuqni Ini adalah permintaan akan rezeki dari Allah SWT. • Wahdini Ini adalah doa yang dipanjatkan ketika kita butuh petunjuk dan bimbingan mengenai hidup. • Wa’afinii Adalah doa peminta kesehatan. • Wa’fuannii Bagian terakhir adalah bagian yang menyempurnakan segalanya. Di sini kita meminta seluruh catatan negatif kita dihapuskan. Sungguh, betapa dahsyatnya doa diantara dua sujud.

Subhanallah Walhamdullilah walailaahaillallah Allahhuakbar walahaulawalaaquatailabillahi aliyyil adhiim Maa Alimallahu Waziinata Maa Aalimallahu Wamil-amaa Alimallah Allahumma salli ala sayidiina muhammadin Waala alihi wasabbihii wasaliim,,اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ 
(Astaghfirullah).



Minggu, 17 Januari 2016

SYA'IR YANG MEMBUAT IMAM AHMAD MENANGIS


SYA'IR YANG MEMBUAT IMAM AHMAD MENANGIS

Berikut ini adalah sebuah kutipan syair yang diriwayatkan di dalam buku karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah membuat Imam Ahmad menangis tersedu-sedu hingga hampir pingsan. Hal ini menunjukkan betapa lembut dan pekanya hati Imam Ahmad terhadap hal-hal yang mengingatkan manusia kepada Rabbnya, dosa-dosanya, dan kehidupan akhirat.

إذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أمَا استحييتَ تَعصينِي … وتُخفي الذَّنبَ عن خَلْقي وبالعصيان تأتيني
فكيف أجيب يا ويحي ومن ذا سوف يحميني … أسلي النفس بالآمال من حين إلى حينِ
وأنسى ما وراء الموتِ ماذا بعدُ تكفيني … كأني قد ضمِنْتُ العيشَ ليس الموت يأتيني
وجاءت سكرة الموتِ الشديدةُ من سيَحْميني … نظرتُ إلى الوجوهِ أليسَ منهم من سيفديني
سأُسْأَل ما الذي قدَّمتُ في دنيايَ يُنجيني … فكيف إجابتي من بعدُ ما فرَّطتُ في ديني
ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني … ألم أسمع بما قد جاء في قافٍ وياسينِ
ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع والديني … ألم أسمع منادي الموتِ يدعوني يناديني
فيَا ربَّاه عبدٌ تائبٌ من ذا سيأويني … سوى ربٍّ غفورٍ واسعٍ للحقِّ يهديني
أتيتُ إليك فارحمني وثقِّل فِي موازينِي … وخفف في جزائي أنت أرجى من يُجازيني

Jika Rabb-ku mengatakan kepadaku: “Tidak malukah kau bermaksiat kepada-Ku?!
Engkau menutupi dosa dari para makhluk-Ku, tapi malah dengan kemaksiatan kau mendatangi-Ku!”
 
Maka bagaimana aku menjawabnya, dan siapa yang mampu melindungiku…
Aku terus menghibur diri dengan angan-angan (dunia) dari waktu ke waktu…
 
Tetapi aku lalai dengan perihal setelah kematian, tentang apa yang dapat mencukupiku setelah itu…
Seolah aku akan hidup terus, dan maut tidak akan menghampiriku…

Saat sakaratulmaut yang dahsyat itu benar-benar datang, siapakah yang mampu melindungiku…
Aku melihat wajah orang-orang… Tidakkah ada diantara mereka yang mau menebusku?!

Aku akan ditanya, tentang apa -yang kukerjakan di dunia ini- yang dapat menyelamatkanku…
Maka bagaimanakah jawabanku setelah aku lupakan agamaku…

Sungguh celaka aku… Tidakkah ku dengar firman Alloh yang menyeruku?!
Tidakkah pula kudengar ayat-ayat yang ada di Surat Qoof dan Yasin itu?!
 
Bukankah kudengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkan, dan hari pembalasan itu?!
Bukankah kudengar pula panggilan kematian yang terus melayangkan panggilan dan seruan kepadaku?!

Maka ya Robb… akulah hambamu yang bertaubat… Tidak ada yang dapat melindungiku,
Melainkan Robb yang Maha Pengampun, lagi Maha Luas Karunianya… Dia-lah yang menunjukkan hidayah kepadaku

Aku telah datang kepada-Mu… maka rahmatilah aku, dan beratkanlah timbanganku…
Ringankanlah hukumanku… Sungguh Engkaulah yang paling kuharapkan pahalanya untukku
http://sufismenews.blogspot.co.id/

Jumat, 15 Januari 2016

Dianggap Orang Gila

Dianggap Orang Gila


Rasulullah Saw dalam suatu hadits menyebutkan,

إِنَّ الْإسْلَامَ بَدَأَ غَرِيْبًـا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا, فَطُوْبَا لِلْغُرَبَآءِ. قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْغُرَبَآءُ؟ قَالَ: الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ.{رواه مسلم}

 “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka berbahagialah bagi mereka yang dianggap asing itu. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah! Siapakah al-Guraba (yakni orang yang dianggap asing) itu? Rasul menjawab: Merekalah yang berbuat baik di kala orang-orang sedang rusak.”

Disebut asing (aneh) karena melakukan perubahan terhadap tradisi jahiliyyah yang telah berkembang sejak lama. Kaum jahiliyyah yang mayoritas bertahan atas keyakinannya itu, alias tidak mau berubah.

Di kemudian hari orang-orang yang menjalankan Islam dengan sesungguhnya akan dianggap asing kembali. Rasulullah Saw mengapresiasi kemunculan mereka, ‘Beruntunglah mereka yang dianggap asing!’ [Dianggap asing itu bukan berarti asing sebenarnya]

Dianggap asingnya ajaran Islam disebabkan sudah banyaknya kezhaliman dan kemungkaran. Sehingga kejahatan yang dilakukan oleh banyak pelaku menjadi suatu perbuatan yang biasa saja. Merokok di tempat umum jika sudah menjadi biasa tidak akan dianggap kesalahan. Padahal telah menzhalimi diri sendiri dan orang lain. Jika kebanyakan orang berbuat kejahatan di suatu tempat maka orang yang berbuat kebaikan dianggap salah. Ini adalah suatu resiko dalam menyampaikan kebenaran.

Para Nabi dan Rasul seperti yang diutarakan dalam Al-Quran disebut sebagai ‘orang gila’ [majnun] oleh kaumnya.[1]  Karena mereka hendak melakukan perubahan di tengah kehidupan yang sudah statis dan dianggap tidak akan berubah meskipun satu orang. Meskipun minoritas, tapi mereka tidak takut menyampaikan kebenaran dan berani ‘tampil beda’.

Dalam istilah tasawuf disebut Jununul Uqala’ yakni orang-orang yang berakal (menjalankan agama dengan benar) tapi dianggap tidak waras. Kebanyakan manusia di setiap masa memilih menjadi orang gila tapi dianggap waras. Sedikit yang memilih sebaliknya. Hal demikian terjadi di setiap generasi.

Rasulullah Saw memerintahkan,

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ حَتىّ يَقُوْلُوْا مَجْنُوْنَ
“Hendaklah kalian berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya sehingga orang-orang mengatakan gila”. (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Hakim)

Berdzikir itu tidak sebatas menyebut. Berdzikir yang komprehensif (menyeluruh) adalah jiwanya selalu menghadap kepada Allah. Jika jiwa sudah menghadap kepada Allah, segala pekerjaan akan dijalankan dengan baik. Usahanya mencari rizki dilakukan dengan cara yang halal walaupun kebanyakan orang sudah tidak mempedulikan cara mendapatkannya, apakah halal atau haram. Inilah yang disebut banyak dzikir kepada Allah (dzikron katsiiroo).

Tandanya adalah banyak latihan dzikir di masjid, mendapatkan dampak psikologis jiwanya terus menghadap kepada Allah, memilih pekerjaan yang halal, ia bersikap jujur sementara banyak orang menyuarakan ketidakjujuran, ia tidak melakukan korupsi ketika banyak orang telah melakukannya. Resikonya adalah disebut gila.

Jabatan yang tidak naik-naik jika tidak kong kali kong (menyuap), ditekan bos agar mark-up anggaran, adalah resiko kehidupan. Semuanya memiliki konssekuensi yang mesti ditanggung. Pilihannya hanya 2 saja, menjadi orang gila dianggap waras atau menjadi orang waras tapi dianggap gila. Dan kebanyakan manusia memilih menjadi orang gila yang dianggap waras oleh kebanyakan manusia. Walaakinna aktsaron naasi laa ya’lamuun.[2] Manusia kebanyakan mengikuti aturan yang ada dan tidak mau mengambil resiko.

Agama bukan sekedar jargon dan platform. Agama adalah pengusung perubahan mikro dan makro. Perubahan sikap individu dan sosial. Perubahan dari skala kecil hingga kepada skala besar menuju cahaya Allah (An-Nur). Oleh karenanya mesti siap menanggung resiko. Bagi para Kekasih Allah menghadapi resiko adalah merupakan kebahagiaan tersendiri, lebih baik dianggap orang gila daripada gila sebenarnya (jununul ’uqala).

Inilah kelompok yang ditunggu-tunggu oleh Bangsa dan Negara ini sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa (founding fathers) dalam Undang-Undang ’45. Yakni mencapai bangsa yang penuh keadilan dan kesejahteraan. Melalui figur orang-orang yang berani ‘tampil beda’ (meski dianggap gila) inilah Bangsa dan Negara ini bisa terselamatkan.

Tanda (indikator) orang gila adalah tidak takut dan malu. Orang yang ingin terlepas dari jeratan hukum dengan berpura-pura gila juga memiliki rasa takut. Jika seseorang berani menjalankan agama dan tidak mengenal rasa malu dengan orang lain maka orang tersebut adalah orang yang berani mengambil resiko dianggap gila.

Sekarang ini banyak orang salah kaprah, tidak meletakkan rasa malu pada tempat sebenarnya yakni merasa malu melakukan kebaikan atau menegakkan kebenaran. Sedangkan dalam urusan kejahatan tidak merasa malu lagi. Meski sudah mengenakan baju tahanan KPK, penampilannya masih percaya diri (PeDe). Manusia banyak yang gila dunia, jabatan, harta, sanjungan, tapi anehnya mereka dianggap hebat.

Supaya benar-benar beribadah, banyak menyebut Nama Allah dan mengaplikasikan kesadaran kita dengan menjalankan ketetapan Allah walau berbeda dengan kebanyakan manusia, Allah akan memberikan tanda kegilaan kepada Allah berupa rasa berani dan tidak malu kepada manusia. Tidak ada kekhawatiran atasnya dan tidak merasa sedih dicaci maki orang dalam menjalankan kebenaran.

Orang yang melakukan kebenaran itu tidak hanya disebut gila, tapi juga akan mengalami keterasingan atau terpinggirkan (ter-marginal-kan). Mereka yang jujur dan bertanggungjawab sering terpinggirkan oleh sistem yang ada. Firman Allah menyatakan,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿يونس: ٦٢﴾
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Orang waras dianggap gila itu ternyata termasuk Awliya Allah. Karena mereka tidak peduli dengan keberadaan orang di sekelilingnya yang berbeda dengan dirinya. Mereka tidak mengenal rasa takut dan bersedih kepada selain-Nya.

Gaya hidup dan tradisi orang awam sekarang sama dengan kebanyakan manusia. Anak muda zaman sekarang tidak cukup mengidolakan artis luar, hingga didatangkan artis luar negeri. Meski harga tiketnya yang mahal pun dibeli. Cara joget dan berpakaian diikuti, karena terseret arus gelombang besar orang-orang yang jauh dari kebenaran. Mereka tidak mampu melawan arus tersebut. Dan hanya orang-orang yang jiwanya belajar cinta kepada Allah.

Dalam menjalankan agamanya telah melampaui batas kecintaan. Jika ibadah sholat, puasa hanya sebatas fiqih (tidak menembus relung jiwanya) sehingga merasa Allah terus mengawasi jiwanya, berarti belum dikatakan cinta kepada Allah. Orang yang belum cinta kepada Allah masih takut kepada manusia. Ia takut disebut gila, takut terpinggirkan, takut tidak bisa makan.

Orang yang belajar cinta kepada Allah akan diberikan jiwa yang tangguh. Dalam menjalankan agama, mereka sudah masuk ke dalam penghayatan (memasuki alam rasa)[3]. Terjadi komunikasi antara dirinya dengan Allah sehingga jiwanya terus menyambung . Inilah awal seorang hamba mencintai Allah.

Dalam konteks cinta, seseorang yang mencintai akan menyatu jiwanya dengan yang dicintainya. Ke manapun ia melangkah akan selalu terbayang yang dicintainya. Saat makan, bekerja, hingga terbawa ke alam mimpi. Semestinya dalam menjalankan ajaran keagamaan tidak hanya sebatas fisiknya semata, tapi menyentuh aspek penghayatan jiwa (tasawuf). Ia selalu menjiwai berbagai pelaksanaan ibadahnya.

Kita mesti terus belajar menghayati agama dengan penuh kesadaran. Caranya adalah melalui media majelis dzikir dan ilmu. Melalui media tersebut lisan dilatih untuk berdzikir. Lidah yang basah menyebut Nama Allah karena banyaknya akan menyebabkan makna Asma tersebut masuk ke dalam jiwanya. Jiwanya akan bergerak menangkap sesuatu yang ghaib. Ia merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya. Inilah jalan awal mencintai Allah.

Jika terus belajar mencintai Allah maka Allah akan memberikan tanda kegilaan. Begitu besar cinta menyebabkan tergila-gila. Dalam Al-Quran disebut dengan Asyaddu Hubbal lillaah. Orang-orang yang beriman itu tidak sebatas cinta, tapi tergila-gila kepada Allah. Tergila-gila itu melampaui sekedar cinta.

Tanda kegilaan adalah laa khoufu ’alayhim, jiwanya tidak dilanda rasa takut. Yakni takut miskin, difitnah dan dihinakan orang. Tapi takut akan ancaman (murka) Allah, takut menjalankan sesuatu yang dilarang Allah. Ia menghindar dan memutus rantai media yang akan menyebabkan dirinya terperosok ke jurang kehinaan dan siksa akibat melakukan dosa atau larangan Allah.

Sebaliknya Orang yang tergila-gila dengan dunia dan kehidupannya takut tidak makan padahal ia sedang makan, takut tidak menjabat padahal ia sedang menjabat. Para Hakim kalah dengan suap, para politisi takut tidak mendapat jabatan. Manusia semakin serakah, tamak, dan takut ditinggalkan dunia. Inilah yang menyebabkan negara bahkan dunia porakporanda (hancur).

Allah mengisyaratkan jika ingin dibukakan barokah dari langit dan bumi, mesti diisi dengan orang-orang yang gila kepada Allah.

Kita lihat diri kita apakah sudah laa khoufun sebagaimana karakter para kekasih Allah atau masih dihinggapi ketakutan dan kekhawatiran hidup. Allah mencabut rasa takut dan kekhawatiran dalam hati orang beriman, sehingga timbullah keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan tampil beda karena kebenaran. Inilah yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan yang besar, diawali melalui diri dan keluarga.

Indikator kedua adalah walaa hum yahzanuun, jiwanya tidak merasa sedih, galau, bingung, gundah gulana dalam urusan dunia. Tenang, tenteram dan penuh kepastian selalu menyelimuti jiwanya. Ini merupakan deskripsi jiwa yang mencicipi kebahagiaan hakiki sebelum datangnya akhirat. Hidupnya terasa nikmat, karena jiwanya senantiasa menghadap dan mengabdi kepada Allah.

Kesimpulan

Fungsi agama adalah sebagai perubahan, yakni merubah sikap, pikiran, dan tindakan, baik secara individu maupun kolektif. Resiko menjalankannya adalah dituding gila (tapi bukan gila sebenarnya), karena mereka adalah kelompok minoritas yang berani tampil beda demi kebenaran. Mereka yang mampu melakukannya adalah orang-orang yang tidak mengenal rasa takut dan khawatir dalam urusan dunia ini, karena jiwanya selalu menghadap kepadaNya.


[1] Q.S. Al-Qalam: 51, Asy-Syu’ara: 27.

[2] Q.S. As-Saba: 28.

[3] Jiwanya merasakan bahwa Allah selalu mengawasi.

http://www.al-idrisiyyah.com/

Selasa, 22 Desember 2015

Dunia Ibarat Bayangan, Maka Inilah Kunci Sukses Dunia !

Dunia Ibarat Bayangan, Maka Inilah Kunci Sukses Dunia !
Dunia Ibarat Bayangan, Maka Inilah Kunci Sukses Dunia !

Dunia Ibarat Bayangan, Maka Inilah Kunci Sukses Dunia !

Dunia Ibarat Bayangan, Maka Inilah Kunci Sukses Dunia !

Saudaraku, salah satu permasalahan pokok yang terus-menerus menggerucut dalam kehidupan masyarakat khususnya umat islam di negara kita, yakni seringkali pokok permasalahannya adalah “keuangan (rezeki)”.
Mungkin bagi anda yang masih memiliki orang  tua yang relatif cukup mampu (atau ekonomi diatasstandart), hal tersebut tentunya tidak akan menjadi persoalan yang serius. Akan tetapi bagi mereka yang merasa dibawah standart (miskin), atau bagi anda dikala lepas dari pelukan mereka (orang tua) dan anda bergelut dengan kemandirian didalam mencari nafkah atau rezeki sendiri, maka hal tersebut pastinya akan menjadi permasalah baru yang akan anda hadapi.
Saudaraku, jika masalah itu yang terjadi maka kita pastinya akan berpikir, Apa yang kita makan atau konsumsi pada saat esok hari ?. sangat wajar pertanyaan ini terus berkecambuk dipikiran kita sebagai manusia, sejatinya hidup haruslah ikhtiar dalam mencari rezeki.
Masalahnya yang sekarang terjadi adalah terkadang orang-orang/ kita sampai lupa pada waktu dan tidak ingat pada Allah SWT (yang Maha Memberi) dari saking sibuknya kita mencari harta Dunia. Padahal jika kita ini bertaqwa kepada-Nya, niscaya Allah SWT akan penuhi permasalah keuangan atau rezeki kita, baik itu dari jalan yang tidak disangka-sangkakan oleh kita, dan niscaya kita akan menggenggam kunci sukses dunia.
Saudaraku, mana yang harus kita pilih ? Kita dikejar Dunia ? atau kita mengejar Dunia ?!!!!
Banyak diantara (orang-orang yang berpengalaman dan sudah sukses) mereka bilang bahwa Dunia ini ibarat “bayangan”. Dalam artian, Jika Dunia ini kita kejar-kejar maka otomatis dia akan lari, Namun jika kita ini hanya berdiam diri saja, maka dunia ini pun akan ikut diam.
Nah.. Saudaraku, yang perlu kita ketahui, pahami, renungi, dan kita kaji disini ialah : {“ bahwa bayangan yang terjadi tersebut, disebabkan adanya cahaya yang mengenai benda “}.
Contohnya : jika kita berjalan pada saat pagi hari, maka otomatis bayangan kita ini akan berada atau terletak di sebelah barat, kan… ? Lantas Mengapa… ? Karena, matahari tersebut berada di sebelah timur. Dan apabila kita ini berjalan ke arah barat, maka otomatis bayangan kita pun akan berjalan ke arah barat. Jika langkah kita berhenti disitu, maka bayangan kita otomatis akan berhenti disitu juga, terdiam tidak kemana- mana. Kita maju satu langkah atau dua langkah, maka otomatis bayangan kita pun juga akan ikut maju satu atau dua langkah.
Lalu yang jadi pertanyaannya, Kapankah Kita bisa mencapai bayangan kita tersebut ? Dan bagaimana supaya dia (bayangan kita) itu tunduk untuk mengikuti Kita, sehingga kita pun tidak dibuat capek olehnya (bayangan) ?
Jawabannya yakni Kita harus berbalik arah (berbalik menuju matahari atau sumber dari cahaya tersesbut). Maka tentunya otomatis bayangan kita itu akan mengejar kita, dalam artian “selama Kita berjalan terus menuju sang Matahari tersebut”.
Saudaraku, sungguh perumpamaan ini erat sekali dengan kunci sukses dunia atau cara kita menghadapi dunia ini, contoh seperti halnya diatas tersebut yang berkaitan erat, antara “Dunia, Kita (seorang hamba), dan Sang Pencipta Allah SWT”, Dialah yang merupakan sumber dari segalanya.
Dalam “analogi “ di atas tersebut Dunia adalah bayangan sedangkan Allah SWT merupakan Sumber Cahaya. Maka, jika kita menginginkan Dunia ini supaya tunduk dan mengejar-ngejar kita, maka jurus jitu dan ampuh yang harus kita ambil adalah dengan mengejar “Nur Illahi” (Sumber Cahaya).
Kejarlah Allah SWT dengan mencintai-Nya, Utamakan Allah SWT, dan harapkan Cintan-Nya !. Maka niscaya kita akan menggenggam Dunia.
sumber : http://www.mutiarapublic.com

Sabtu, 19 Desember 2015

Motivasi Terdahsyat dari "La Tahzan (Jangan Bersedih)" | Sering Galau & Pilu?

Motivasi Terdahsyat dari "La Tahzan (Jangan Bersedih)" | Sering Galau & Pilu?


Mungkin agan sudah pernah mendengar ataupun membaca salah satu buku best seller motivasi terbaik karyaDr. Aidh al-Qarni, yaitu La Tahzan (Jangan Bersedih). Jika agan sudah bosan dengan yang namanya buku motivasi, sebaiknya agan tidak bosan dengan yg satu ini. Menurut TS buku fenomenal ini benar2 sebuah lembaran2 dahsyat yg dapat meningkatkan gairah positifisme seseorang dalam menjalani kerasnya hidup, seperti keinginan penulisnya agar pembaca senantiasa "Jangan Bersedih" dalam tiap keadaan dunia. 

Nah, berbeda dengan buku motivasi lain yg lebih menekankan materi pada sisi duniawi, Buku ini sangat padat dengan nuansa rabbani tanpa mengesampingkan sisi2 duniawi pula. Kita seakan diajak untuk menatap dunia ini dengan pandangan yang seimbang: menjadi idealis dengan tetap realistis, fokus pada duniawi dan ukhrawi sekaligus, diajak bekerja dengan keras dan diajak pula beristirahat, dan akhirnya menunjukkan kepada kita bagaimana harus meniti jalan kehidupan dan membangun diri yang bahagia dengan berpedoman pada satu kata: La Tahzan, Jangan Bersedih

Dibalut dengan bahasa syair yang halus, buku ini dengan mudah menembus pikiran sesak seseorang dan mengisinya dengan kejernian bak ventilasi disebuah atap rumah. Dan mengingat bahasa motivator Mario Teguh, TS yakin motivasi2 pak Mario banyak terinspirasi dari buku ini. Bahkan TS pun sempat meneteskan air mata ketika menghayati beberapa kutipan dari buku ini. 



Sebelum mengutip beberapa uraian bukunya, berikut beberapa potongan pengantar dari penulis Dr. Al-Qarnimengenai La Tahzan:


Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah ke haribaan Rasulullah s.a.w., keluarganya serta para shahabatnya. Wa Ba'du.

Berikut ini buku La Tahzan. Semoga Anda senang membacanya dan dapat mengambil manfaat darinya. Namun sebelum membaca, telitilah dahulu buku ini dengan nalar yang sehat, logika yang jernih dan, di atas itu semua, dengan ayat-ayat Allah yang senantiasa terjaga dari kekeliruan.

Saya menulis buku ini untuk siapa saja yang senantiasa merasa hidup dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, atau orang yang selalu sulit tidur dikarenakan beban duka dan kegundahan yang semakin berat menerpa. Dan tentu saja, siapa di antara kita yang tidak pernah mengalami semua itu?

Buku ini akan mengatakan kepada Anda, "Bergembiralah dan berbahagialah!" atau "Optimislah dan tenanglah!" Bahkan, mungkin pula ia akan berkata, "Jalani hidup ini apa adanya dengan penuh ketulusan dan keriangan!

Lebih dari itu, buku ini mengajak Anda agar merasa yakin dengan semua potensi dalam diri diri Anda dan menyimpan semua energi positif yang ada. Buku ini menggiring Anda untuk melupakan tekanan hidup, sesaknya perjalanan usia dan beban perjalanan hidup.

Ada beberapa hal penting dari buku ini yang perlu saya ingatkan sebelum kita melangkah lebih jauh. Diantaranya adalah:
Pertama, buku ini ditulis untuk mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, kelapangan hati, membuka pintu optimisme dan menyingkirkan segala kesulitan demi meraih masa depan yang lebih indah. Buku ini merupakan pengetuk hati agar selalu ingat akan rahmat dan ampunan Allah, bertawakal dan berbaik sangka kepada-Nya, mengimani qadha' dan qadar-Nya, menjalani hidup sesuai apa adanya, melepaskan kegundahan tentang masa depan, dan mengingat nikmat Allah. 
Kedua, buku ini mencoba memberikan resep-resep bagaimana mengusir rasa duka, cemas, sedih, tertekan, dan putus asa.
Ketiga, saya berusaha menyertakan dalil-dalil dari al-Qur'an dan hadits yang sesuai dengan tema setiap bahasan. Selain itu, tak jarang saya nukilkan pula pelbagai permisalan yang bagus, kisah yang penuh 'ibrah dan mengandung pelajaran berharga, serta bait-bait syair yang memiliki kekuatan. Dalam banyak tempat, para pembaca juga akan menjumpai kutipan-kutipan dari perkataan para bijak bestari, dokter dan sastrawan. Demikianlah, semua hal yang ada dalam buku ini hanya ingin mengajak Anda untuk senantiasa berbahagia.
Keempat, buku ini bersifat umum, alias untuk siapa saja. Singkatnya, untuk kaum muslim maupun non-muslim. Pasalnya, pembicaraan dalam buku ini secara umum adalah berkaitan watak dan sifat naluriah dan persoalan-persoalan umum kejiwaan manusia. Namun begitu, buku ini tetap menempatkan Manhaj Rabbani sebagai penyuluh. Karena memang manhaj itulah yang menjadi agama fitrah kita.

Buku, La Tahzan, ini, setidaknya, saya tulis untuk konsumsi pribadi saya sendiri dan mereka yang bernasib sama dengan saya. Sayalah orang yang pertama kali mengambil manfaat dari buku ini. Setiap kali membaca ulang buku ini, selalu terasa seakan baru membacanya. Setiap kali merasa tertekan, marah atau sedih, selalu saya katakan pada diri ini, "Bukankah Anda penulis buku La Tahzan?" Dan, sesaat setelah itu, api kemarahan pun meredup, dan hati saya kembali menjadi tenang.

Demikianlah; dalam buku ini saya mencoba berbicara kepada dan untuk semua orang; bukan untuk segolongan orang, generasi, dan penduduk negeri tertentu. Buku ini adalah untuk semua orang, yakni siapa saja yang ingin hidup bahagia!
'Aidh al-Qarni

Hari itu telah berlalu

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam 'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan selamanya. Letakkan dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali.

Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.

Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam al-Qur'an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, "Itu adalah umat yang lalu."Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.

Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu.

Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan!

Hari ini adalah milikmu 

Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya menyapa Anda, inilah hari Anda.

Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dllahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.
Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan!

Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda hari dengan penuh keridhaan. Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.
Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati Anda satu kalimat: Harimu adalah hari ini. Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin itu akan merugikan Anda? Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi? Jika Anda percaya dengan semangat dan tekad yang kuat, maka Anda akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini.
Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati, "Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku."

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada al-Qur'an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat. Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya', dan buruk sangka.
Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, "Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi."

"Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan."
Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan. "Hari ini milik Anda", adalah ungkapan yang paling indah dalam "kamus kebahagiaan". Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.


Bagimu pemilik waktu luang

Orang-orang yang banyak menganggur dalam hidup ini, biasanya akan menjadi penebar isu dan desas desus yang tak bermanfaat. Itu karena akal pikiran mereka selalu melayang-layang tak tahu arah. Bila pada suatu hari Anda mendapatkan diri Anda menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah untuk bersedih, gundah, dan cemas! mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu Anda alami. Singkatnya, membiarkan diri dalam kekosongan itu sama halnya dengan bunuh diri dan merusak tubuh dengan narkoba.

Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong adalah pencuri yang culas. Adapun akal Anda, tak lain merupakan mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi; kelengahan dan si "pencuri". Berhentinya seorang mukmin dari beraktivitas adalah kelalaian. Kekosongan adalah musuh yang mematikan, dan kesenggangan adalah sebuah kemalasan. Dan, kebanyakan orang yang selalu gundah dan hidup dalam kecemasan adalah mereka yang terlalu banyak waktu senggangnya dan sedikit aktivitasnya.
Karena itu bangkitlah sekarang juga! Kerjakan shalat, baca buku, bertasbih, mengkaji, menulis, merapikan meja kerja, merapikan kamar, atau berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain untuk mengusir kekosongan itu!

Usirlah setiap kegalauan! Bunuhlah setiap waktu kosong dengan pisau kesibukan!
Dengan cara itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa Anda telah mencapai 50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan, dan para kuli bangunan! Mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung di alam bebas. Mereka tidak seperti Anda yang tidur di atas ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan.


Bagimu dirundung takdir ketentuan

Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. Maka, Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami."

Jika keyakinan tersebut tertanam kuat pada jiwa Anda dan kukuh bersemayam dalam hati Anda, maka setiap bencana akan menjadi karunia, setiap ujian menjadi anugerah, dan setiap peristiwa menjadi penghargaan dan pahala.
Karena itu, jangan pernah merasa gundah dan bersedih dikarenakan suatu penyakit, kematian yang semakin dekat, kerugian harta, atau rumah terbakar. Betapapun, sesungguhnya Sang Maha Pencipta telah menentukan segala sesuatunya dan takdir telah bicara. Usaha dan upaya dapat sedemikian rupa, tetapi hak untuk menentukan tetap mutlak milik Allah. Pahala telah tercapai, dan dosa sudah terhapus. Maka, berbahagialah orang-orang yang tertimpa musibah atas kesabaran dan kerelaan mereka terhadap Yang Maha Mengambil, Maha Pemberi, Maha Mengekang lagi Maha Lapang.

Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan Anda temui. Maka, jangan biarkan diri Anda larut kesedihan. Jangan mengira diri Anda sanggup melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang akan runtuh, membendung air yang akan meluap, menahan angin agar tak bertiup, atau memelihara kaca agar tak pecah. Adalah tak benar bila semua itu dapat terjadi dengan paksaanku dan paksaanmu, karena apa yang telah digariskan akan terjadi. Setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusan akan terlaksana.
{Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan dia telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.}
(QS. Al-Hadid: 22)

Anda harus menyerahkan semua hal kepada takdir agar tak ditindas oleh bala tentara kebencian, penyesalan dan kebinasaan. Dan, percayalah dengan kebenaran qadha' sebelum Anda dilanda banjir penyesalan! Dengan begitu, jiwa Anda akan tetap tenang menjalani segala daya upaya dan cara yang memang harus ditempuh.

Dan bila kemudian terjadi hal-hal yang tidak Anda inginkan, maka itu pun merupakan bagian dari ketentuan yang memang harus terjadi. Jangan pula pernah berandai, "Seandainya saja aku melakukan seperti ini, niscaya akan begini dan begini jadinya." Tapi katakanlah, "Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan."
sumber : http://duniasegalailmu.blogspot.co.id/

Senin, 14 Desember 2015

Makna Dua Kalimah Syahadat

Makna dua kalimah syahadah



Ahli Makrifat itu tidak memiliki makrifat jika ia tidak mengenal Allah dari segala sudut dan dari segala arah mana saja ia menghadap. Ahli Hakikat hanya ada satu arah yaitu ke arah Yang Hakiki itu sendiri.
“Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah Allah” (Al-Qur-an)
“Ke mana saja kamu memandang”, apakah dengan indera atau akal atau khayalan, maka di situ ada Wajah Allah “. Karena itu dalam segala ain [di mana] ada ain (Zat Ilahi) dan semuanya adalah” La ilaha illallah ” (Tidak ada Tuhan kecuali Allah).
Dalam “La ilaha illallah” semua ada ada terkandung, yaitu Wujud Semesta Raya dan Wujud secara khusus; atau Wujud atau apa yang dianggap Wujud; atau wujud Hakiki dan Wujud makhluk.
Wujud makhluk tunduk kepada kepada “La ilaha” yang berarti bahwa segala-galanya kecuali Allah adalah kosong (batil), yaitu dinafikan bukan diisbatkan. Wujud Hakiki termasuk dalam “illallah”. Oleh itu semua kejahatan tunduk di bawah “La ilaha” dan semua yang dipuji tunduk di bawah “illallah”.
Semua ada terkandung dalam mengisbatkan Keesaan (La ilaha illallah) dan  harus memasukan nya juga dalam menamakan hamba yang paling mulia (dalam mengatakan Muhammadun Rasulullah).
“Muhammadun Rasulullah” ini mengandung tiga alam.
  • Muhammad itu menunjukkan Alam Nyata (Alam Nasut); yaitu alam yang bisa dipandang dengan indera (senses).

  • Rasul itu menunjukkan Alam Perintah (Alam Malakut); yaitu Alam batin tentang rahasia-rahasia tanggapan yang mujarad; dan ini terletak antara yang muhaddas dengan Yang Qadim.

  • Nama Ilahi (Allah) itu menunjukkan Alam Pertuanan (Alam Jabarut). Lautan darinya terpancar pengertian dan tanggapan.
“Rasul” itu sebenarnya perantara yang muhaddas dengan Yang Qadim; karena tanpa dia tidak akan ada wujud, karena jika yang muhaddas bertemu dengan yang Qadim, maka binasalah yang muhaddas dan tinggallah Yang Qadim.
Ketika Rasul diletakkan pada tempatnya yang wajar pada kedua itu, maka barulah alam ini diperintahkan, karena pada zhohirnya ia adalah hanyalah seketul tanah liat, tetapi batinnya ia adalah khalifah Allah.
Pendeknya, maksud mengisbatkan Tauhid itu tidaklah sempurna dan tidaklah meliputi tanpa diisbatkan Keesaan atau Tauhid Zat, Sifat dan Lakuan. Pengisbatan itu dipahami dari “Muhammadun Rasulullah”.
Bila seorang ahli Makrifat berkata “La-ilaha illallah” maka ia ketahui pada hakikatnya bukan hanya pada majazi saja, yaitu tidak ada jalan lain kecuali Allah. 
Oleh itu wahai saudaraku, janganlah hanya mengucapkan dengan mulut saja syahadah yang mulia ini, karena dengan itu mulut sajalah yang akan mendapat manfaatnya. 
Dan ini bukanlah tujuan yang hendak dituju. Yang pentingnya adalah Mengenal Allah sebagaimana Ia sebenarnya.
“Allah itu dahulu seperti ini sekarang jua tanpa sekutu, dan ini sekarang seperti ini dulu jua”.
Pahamilah ini, dan kita tidak akan dibebankan lagi dengan penyangkalan, dan tidak ada yang tinggal untuk Anda lagi melainkan pengisbatan agar ketika kita  berkata kita akan berkata; “Allah, Allah, Allah”. Tetapi sekarang hati kita dibebankan dan pandangannya lemah. 
Sejak kita hanya berkata; La-ilaha …….. tetapi kapan penyangkalan itu akan efektif  ?. Bahkan ia tidak efisien karena penyangkalan itu hanya dengan lidah saja. 
 Jika Kita nafikan dengan Akal yaitu dengan Hati Kita dan rahasia Anda yang paling dalam, maka seluruh alam ini akan lenyap dari pandangan kita dan Kita akan lihat Allah sendiri, bukan diri Anda sendiri dan juga makhluk-makhluk lain.  
Kaum Sufi menafikan ada yang lain kecuali Allah. Maka mereka mencapai kedamaian dan istirahat dan terus memasuki KalamNya. Mereka tidak akan keluar lagi. Tetapi penyangkalan kita tidak ada langsung ujungnya …………
Ghirullah (selain Allah) tidak akan lenyap dengan hanya mengatakan “tidak” dengan lidah saja; dan belum sempurna ini lagi dengan mata keimanan dan keyakinan, tetapi akan lenyap dengan pandangan secara langsung dan berhadapan muka.
“Sesungguhnya Allah itulah tujuan Anda yang terakhir” (Al-Qur’an).
Dialah sumber segala-galanya. Maka kita tidak perlu lagi nafi dan tidak perlu isbat. Ini adalah karena Yang Wajib itu telah memangnya isbat meskipun belum kita isbatkan, dan yang ghairullah itu memang nafi meskipun sebelum kita nafikan.
Tidakkah kita ingin menemukan guru yang dapat mengajar kita bagaimana menafikan ghairullah dan membawa kita ke kedamaian di mana kita temukan tidak ada yang lain kecuali Allah   ?. 
Maka barulah kita hidup dengan Allah dan dapat menjadi penghuni “Di tempat tinggal orang-orang yang ikhlas di Dewan Tuhan Yang Maha Agung”, dan ini adalah semuanya hasil dari ingat Anda dan makrifat Anda bahwa “Tiada Tuhan selain Allah”.
Kita tahu kata-kata Syahadah itu saja dan yang paling dalam yang kita tahu  “Tidak ada yang patut disembah melainkan Allah”. Ini adalah pengetahuan orang-orang awam (biasa) tetapi apakah kaitannya dengan pengetahuan atau ilmu orang-orang Sufi?.
Pengetahuan kita yang sekarang itulah yang menghalangi kita memahami pengetahuan orang-orang pilihan (Sufi). Masihkan kita menafikan pengetahuan yang diperoleh dari bimbingan guru menuju Hakikat, padahal mereka yang dipimpin itu memandang tidak yang ada kecuali Allah? 
Mereka tidak hanya mengenal Allah dengan iman dan keyakinan saja, tetapi mereka memandang dengan cara pandang yang terus tanpa hambatan. Omong kosong tidak sama dengan melihat, bertemu muka.
sember : jiwa2 kegelapan