Sabtu, 28 November 2015

Sebab Datang dan Hilangnya Hidayah Allah

Sebab Datang dan Hilangnya Hidayah Allah
Sebab Datang dan Hilangnya Hidayah AllahBerbicara tentang hidayah berarti membahas perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling besar dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya.
Allah berfirman:
{مَنْيَهْدِاللَّهُفَهُوَالْمُهْتَدِيوَمَنْيُضْلِلْفَأُولَئِكَهُمُالْخَاسِرُونَ}
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).
 Dalam ayat lain, Dia  juga berfirman:
{مَنيَهْدِاللَّهُفَهُوَالْمُهْتَدِوَمَنْيُضْلِلْفَلَنْتَجِدَلَهُوَلِيًّامُرْشِدًا}
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (QS al-Kahf:17).
 Kebutuhan manusia kepada hidayah Allah
 Allah  memerintahkan kepada kita dalam setiap rakaat shalat untuk selalu memohon kepada-Nya hidayah ke jalan yang lurus di dalam surah al-Fatihah yang merupakan surah yang paling agung dalam al-Qur-an[1], karena sangat besar dan mendesaknya kebutuhan manusia terhadap hidayah Allah Subhanahu wa ta'ala. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
{اهْدِنَاالصِّرَاطَالْمُسْتَقِيمَ}
Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.
 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Seorang hamba senantiasa kebutuhannya sangat mendesak terhadap kandungan doa (dalam ayat) ini, karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa (Neraka) dan pencapaian kebahagiaan (yang abadi di Surga) kecuali dengan hidayah (dari Allah ) ini. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan hidayah ini berarti dia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah (seperti orang-orang Yahudi) atau orang-orang yang tersesat (seperti orang-orang Nashrani)”[2].
 Lebih lanjut, Imam Ibnul Qayyim memaparkan hal ini dengan lebih terperinci, beliau berkata: “Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah di setiap waktu dan tarikan nafasnya, dalam semua (perbuatan)yang dilakukan maupun yang ditinggalkannya. Karena hamba tersebut berada di dalam beberapa perkara yang dia tidak bisa lepas darinya:
  Yang pertama; perkara-perkara yang dilakukannya (dengan cara) yang tidak sesuai dengan hidayah (petunjuk Allah ) karena kebodohannya, maka dia butuh untuk memohon hidayah Allah kepada kebenaran dalam perkara-perkara tersebut.
  Atau dia telah mengetahui hidayah (kebenaran) dalam perkara-perkara tersebut, akan tetapi dia mengerjakannya (dengan cara) yang tidak sesuai dengan hidayah secara sengaja, maka dia butuh untuk bertaubat dari (kesalahan) tersebut.
  Atau perkara-perkara yang dia tidak mengetahui segi hidayah (kebenaran) padanya, baik dalam ilmu dan amal, sehingga luput darinya hidayah untuk mengenal dan mengetahui perkara-perkara tersebut (secara benar), serta untuk meniatkan dan mengerjakannya.
  Atau perkara-perkara yang dia telah mendapat hidayah (kebenaran) padanya dari satu sisi, tapi tidak dari sisi lain, maka dia butuh kesempurnaan hidayah padanya.
  Atau perkara-perkara yang dia telah mendapat hidayah (kebenaran) padanya secara asal (garis besar), tapi tidak secara detail, sehingga dia butuh hidayah (pada) perincian (perkara-perkara tersebut).
  Atau jalan (kebenaran) yang dia telah mendapat hidayah kepadanya, tapi dia membutuhkan hidayah lain di dalam (menempuh) jalan tersebut. Karena hidayah (petunjuk) untuk mengetahui suatu jalan berbeda dengan petunjuk untuk menempuh jalan tersebut. Bukankah anda pernah mendapati seorang yang mengetahui jalan (menuju) kota tertentu yaitu jalur ini dan itu, akan tetapi dia tidak bisa menempuh jalan tersebut (tidak bisa sampai pada tujuan)? Karena untuk menempuh perjalanan itu sendiri membutuhkan hidayah (petunjuk) yang khusus, contohnya (memilih) perjalanan di waktu tertentu dan tidak di waktu lain, mengambil (persediaan) di tempat tertentu dengan kadar yang tertentu, serta singgah di tempat tertentu (untuk beristirahat) dan tidak di tempat lain. Petunjuk untuk menempuh perjalanan ini terkadang diabaikan oleh orang yang telah mengetahui jalur suatu perjalanan, sehingga (akibatnya) diapun binasa dan tidak bisa mencapai tempat yang dituju.
  Demikian pula perkara-perkara yang dia butuh untuk mendapatkan hidayah dalam mengerjakannya di waktu mendatang sebagaimana dia telah mendapatkannya di waktu yang lalu.
  Dan perkara-perkara yang dia tidak memiliki keyakinan benar atau salahnya (perkara-perkara tersebut), maka dia membutuhkan hidayah (untuk mengetahui mana yang) benar dalam perkara-perkara tersebut.
  Dan perkara-perkara yang dia yakini bahwa dirinya berada di atas petunjuk (kebenaran) padanya, padahal dia berada dalam kesesatan tanpa disadarinya, sehingga dia membutuhkan hidayah dari Allah untuk meninggalkan keyakinan salah tersebut.
  Dan perkara-perkara yang telah dikerjakannya sesuai dengan hidayah (kebenaran), tapi dia butuh untuk memberi bimbingan, petunjuk dan nasehat kepada orang lain untuk mengerjakan perkara-perkara tersebut (dengan benar). Maka ketidakperduliannya terhadap hal ini akan menjadikannya terhalang mendapatkan hidayah sesuai dengan (kadar) ketidakperduliannya, sebagaimana petunjuk, bimbingan dan nasehatnya kepada orang lain akan membukakan baginya pintu hidayah, karena balasan (yang Allah berikan kepada hamba-Nya) sesuai dengan jenis perbuatannya”[3].
 Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir ketika menjawab pertanyaan sehubungan dengan makna ayat di atas: bagaimana mungkin seorang mukmin selalu meminta hidayah di setiap waktu, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, padahal dia telah mendapatkan hidayah, apakah ini termasuk meminta sesuatu yang telah ada pada dirinya atau tidak demikian?
 Imam Ibnu Katsir berkata: “Jawabannya: tidak demikian, kalaulah bukan karena kebutuhan seorang mukmin di siang dan malam untuk memohon hidayah maka Allah tidak akan memerintahkan hal itu kepadanya. Karena sesungguhnya seorang hamba di setiap waktu dan keadaan sangat membutuhkan (pertolongan) Allah Subhanahu wa ta'ala untuk menetapkan dan meneguhkan dirinya di atas hidayah-Nya, juga membukakan mata hatinya, menambahkan kesempurnaan dan keistiqamahan dirinya di atas hidayah-Nya. Sungguh seorang hamba tidak memiliki (kemampuan memberi) kebaikan atau keburukan bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak-Nya, maka Allah membimbingnya untuk (selalu) memohon kepada-Nya di setiap waktu untuk menganugerahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan taufik-Nya. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang diberi taufik oleh Allah untuk (selalu) memohon kepadanya, karena Allah  telah menjamin pengabulan bagi orang yang berdoa jika dia memohon kepada-Nya, terutama seorang yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya (dengan selalu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya) di waktu-waktu malam dan di tepi-tepi siang”[4].
 Makna, hakikat dan macam-macam hidayah               
 Hidayah secara bahasa berarti ar-rasyaad (bimbingan) dan ad-dalaalah (dalil/petunjuk)[5].
Adapun secara syar’i, maka Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah  menjadi empat macam:
 1. Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:
{قَالَرَبُّنَاالَّذِيأَعْطَىكُلَّشَيْءٍخَلْقَهُثُمَّهَدَى}
Musa berkata: “Rabb kami (Allah ) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).
 Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah  berikan kepada semua makhluk dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia.
 2. Hidayah (yang berupa) penjelasan dan keterangan tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini tidak berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat, tapi tidak mesti melahirkan (hidayah Allah Subhanahu wa ta'ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:
{وَأَمَّاثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى}
Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS Fushshilat: 17).
 Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran) tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.
 Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memperingatkan jalan yang salah, akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya ada di tangan Allah Subhanahu wa ta'ala, meskipun tentu saja hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia agar mau mengikuti petunjuk Allah  dengan taufik-Nya. Allah  berfirman tentang Rasul-Nya:
{وَإِنَّكَلَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).
 3. Hidayah taufik, ilham (dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa ta'ala. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:
{فإن الله يُضِلُّ مَنْيَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلاتَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}
Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8).
 Dan firman-Nya:
{إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّاللَّهَ لا يَهْدِي مَنْيُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْنَاصِرِينَ}
Jika engkau (wahai Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak mempunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).
 Juga firman-Nya:
{إِنَّكَلا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَوَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْيَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}
Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS al-Qashash: 56).
 Maka dalam ayat ini Allah menafikan hidayah ini (taufik) dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan menetapkan bagi beliau Shallallahu'alaihi wa sallam hidayah dakwah (bimbingan/ajakan kepada kebaikan) dan penjelasan dalam firman-Nya:
{وَإِنَّكَلَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).
 4. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka ketika penghuninya digiring kepadanya.
 Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:
{وَقَالُواالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَالِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَلَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَابِالْحَقِّ}
Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43).
 Adapun  tentang penghuni Neraka, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
{احْشُرُواالَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ. مِنْ دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْإِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}
Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka” (QS ash-Shaaffaat: 22-23)”[6].
 Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi hidayah menjadi dua:
Hidayah yang bersifat mujmal (garis besar/global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.
Hidayah yang bersifat rinci dan detail, yaitu hidayah untuk mengetahui perincian cabang-cabang imam dan islam, serta pertolongan-Nya untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang dan malam”[7].
 Sebab datang dan hilangnya hidayah Allah
 Dikarenakan inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah Subhanahu wa ta'ala, sebagaimana penjelasan di atas, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah  merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah-Nya.

Dalam hadits Qudsi yang shahih, Allah  berirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian”[8].
 Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta'ala yang maha sempurna rahmat dan kebaikanNya, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah al-Fatihah:
{اهْدِنَاالصِّرَاطَالْمُسْتَقِيمَ}
Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.
 Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut”[9].
 Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah  mengajarkan kepada kita doa memohon hidayah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat witir:
(( اللَّهُمَّاهْدِنَافِيمَنْهَدَيْت))
Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah”[10].
 Juga doa beliau :
(( اللَّهُمَّإِنِّيأَسْأَلُكَالْهُدَىوَالتُّقَى،وَالْعِفَّةَوَالْغِنَى))
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu)”[11].
 Sebaliknya, keengganan atau ketidak sungguhan untuk berdoa kepada Allah memohon hidayah-Nya merupakan sebab besar yang menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayah-Nya.
 Oleh karena itu, Allah  sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan memohon kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah : “Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya”[12].
 Hal-hal lain yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah  selain yang dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:
 1. Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan.
Artinya selalu bergantung dan bersandar kepada Allah  dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang hamba, serta tidak bergantung kepada kemampuan diri sendiri.
 Ini merupakan sebab utama untuk meraih taufik dari Allah Subhanahu wa ta'ala yang merupakan hidayah yang sempurna, bahkan inilah makna taufik yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah.
 Coba renungkan pemaparan Imam Ibnul Qayyim berikut ini: “Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.
 Telah bersepakat al ‘Aarifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah Subhanahu wa ta'ala kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan adalah khidzlaan (berpalingnya) Allah Subhanahu wa ta'ala dari hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (makna) taufik itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan kebaikan/keburukan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) al khidzlaan (berpalingnya Allah  dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah )”[13].
 Inilah yang terungkap dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah : “(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata”[14].
 Oleh karena inilah makna dan hakikat taufik, maka kunci untuk mendapatkannya adalah dengan selalu bersandar dan bergantung kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dalam meraihnya dan bukan bersandar kepada kemampuan diri sendiri.
 Imam Ibnul Qayyim berkata: “Kalau semua kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah (selalu) berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepada-Nya). Maka ketika Allah telah memberikan kunci (taufik) ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan (pintu taufik) kepadanya. Dan ketika Allah memalingkan kunci (taufik) ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan (taufik) akan selalu tertutup baginya”[15].
 2. Selalu mengikuti dan berpegang teguh dengan agama Allah secara keseluruhan lahir dan batin.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
{فَإِمَّايَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِاتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّوَلا يَشْقَى}
Maka jika datang kepadamu (wahai manuia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara (dalam hidupnya)” (QS Thaahaa: 123).
 Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang yang mengikuti dan berpegang teguh dengan petunjuk Allah Subhanahu wa ta'ala yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Shallallahu'alaihi wa sallam, dengan mengikuti semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia tidak akan tersesat dan sengsara di Dunia dan Akhirat, bahkan dia selalu mendapat bimbingan petunjuk-Nya, kebahagiaan dan ketentraman di Dunia dan Akhirat[16].
 Dalam ayat lain, Allah  berfirman:
{وَالَّذِينَاهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ}
Dan orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk (agama Allah ) maka Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya” (QS Muhammad: 17).
 3. Membaca al-Qur-an dan merenungkan kandungan maknanya.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
{إِنَّهَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَأَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًاكَبِيرًا}
Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS al-Israa’: 9).
 Imam Ibnu Katsir berkata: “(Dalam ayat ini) Allah  memuji kitab-Nya yang mulia yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Shallallahu'alaihi wa sallam, yaitu al-Qur-an, bahwa kitab ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan jelas”[17].
 Maksudnya: yang paling lurus dalam tuntunan berkeyakinan, beramal dan bertingkah laku, maka orang yang selalu membaca dan mengikuti petunjuk al-Qur-an, dialah yang paling sempurna kebaikannya dan paling lurus petunjuknya dalam semua keadaannya[18].
 4.Mentaati dan meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa ta'ala menamakan wahyu yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sebagai al-huda (petunjuk) dan dinul haq (agama yang benar) dalam firman-Nya:
{هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُبِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ وَكَفَىبِاللَّهِ شَهِيدًا}
Dialah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS al-Fath: 28).
 Para ulama Ahli Tafsir menafsirkan al-huda (petunjuk) dalam ayat ini dengan ilmu yang bermanfaat dan dinul haq(agama yang benar) dengan amal shaleh[19].
 Ini menunjukkan bahwa sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk yang akan selalu membimbing manusia untuk menetapi jalan yang lurus dalam ilmu dan amal.
 Dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitab Allah (al-Qur-an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (baru dalam agama)”[20].
 Inilah makna firman Allah :
{لَقَدْكَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِاللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُواللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَكَثِيرًا}
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).
 5. Mengikuti pemahaman dan pengamalan para Shahabat dalam beragama.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
{فَإِنْآمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِفَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَاهُمْ فِي شِقَاقٍ}
Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan” (QS al-Baqarah: 137).
 Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman para Shahabat dalam keimanan, ibadah, akhlak dan semua perkara agama lainnya, karena inilah sebab untuk mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Para Shahabat y adalah yang pertama kali masuk dalam makna ayat ini, karena merekalah orang-orang yang pertama kali memiliki keimanan yang sempurna setelah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.[21].
 6. Meneladani tingkah laku dan akhlak orang-orang yang shaleh sebelum kita.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
{أُولَئِكَالَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُاقْتَدِهِ}
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (QS al-An’aam: 90).
 Dalam ayat ini Allah  memerintahkan kepada Nabi Muhammad Subhanahu wa ta'ala untuk meneladani petunjuk para Nabi u yang diutus sebelum beliau, dan ini juga berlaku bagi umat Nabi Muhammad Subhanahu wa ta'ala [22].
 7. Mengimani takdir Allah  dengan benar.
{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍإِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْبِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ}
Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS at-Taghaabun:11).
 Imam Ibnu Katsir berkata: “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya”[23].
 8. Berlapang dada menerima keindahan Islam serta meyakini kebutuhan manusia lahir dan batin terhadap petunjuknya yang sempurna.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
{فَمَنْيُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُيَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْيُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُفِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَىالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ}
Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk Allah berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS al-An’aam: 125).
 Ayat ini menunjukkan bahwa tanda kebaikan dan petunjuk Allah  bagi seorang hamba adalah dengan Allah Subhanahu wa ta'ala menjadikan dadanya lapang dan lega menerima Islam, maka hatinya akan diterangi cahaya iman, hidup dengan sinar keyakinan, sehingga jiwanya akan tentram, hatinya akan mencintai amal shaleh dan jiwanya akan senang mengamalkan ketaatan, bahkan merasakan kelezatannya dan tidak merasakannya sebagai beban yang memberatkan[24].
 9. Bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah  dan selalu berusaha mengamalkan sebab-sebab yang mendatangkan dan meneguhkan hidayah Allah Subhanahu wa ta'ala.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
{وَالَّذِينَجَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاوَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}
Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS al-‘Ankabuut: 69).
 Imam Ibnu Qayyimil Jauziyah berkata: “(Dalam ayat ini) Allah  menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya”[25].
 Demikianlah pemaparan ringkas tentang sebab-sebab datangnya hidayah Allah Subhanahu wa ta'ala, dan tentu saja kebalikan dari hal-hal tersebut di atas itulah yang merupakan sebab-sebab hilangnya/tercabutnya hidayah Allah Subhanahu wa ta'ala, semoga Allah  melindungi kita dari segala keburukan dan fitnah.
 Penutup
Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih semangat mengusahakan sebab-sebab datangnya hidayah dari Allah Subhanahu wa ta'ala.
 Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah  dengan semua nama-Nya yang maha indah dan sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia senantiasa melimpahkan, menyempurnakan dan menjaga taufik-Nya kepada kita semua sampai kita berjumpa dengan-Nya di surga-Nya kelak, sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha mengabulkan doa.
 وصلى الله وسلم وباركعلى نبينا محمد وآلهوصحبه أجمعين، وآخر دعواناأن الحمد لله ربالعالمين Kota Kendari, 1 Muharram 1435 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni
http://manisnyaiman.com/
 [1] Sebagaimana dalamHR Ahmad (2/357) dari Abu Hurairah t dengan sanad yang shahih.
[2] Kitab “Majmuu’ul fata-wa” (14/37).
[3] Kitab “Risaalatu Ibnil Qayyim” (hal. 8-9).
[4] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/50).
[5] Lihat kitab “al-Qaamuushul muhiith” (hal. 1733).
[6] Lihat kitab “Bada-i’ul fawa-id” (2/271-273) dengan ringkasan dan tambahan.
[7] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 225).
[8] HSR Muslim (no. 2577).
[9] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 39).
[10] HR Abu Dawud (no. 1425), at-Tirmidzi (no. 464) dan an-Nasa-i (3/248), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.
[11] HSR Muslim (no. 2721).
[12] HR at-Tirmidzi (no. 3373) dan al-Hakim (1/667), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.
[13] Kitab “Al Fawa-id” (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir 1424 H).
[14] HR an-Nasa-i (6/147) dan al-Hakim (no. 2000), dishahihkan oleh Imam al-Hakim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (1/449, no. 227).
[15] Kitab “Al Fawa-id” (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir 1424 H).
[16]Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 515).
[17]Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/39).
[18]Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 454).
[19]Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/209) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 335).
[20]HSR Muslim (no. 867).
[21]Demikian makna penjelasan yang penulis pernah dengar dari salah seorang syaikh di kota Madinah, Arab Saudi.
[22]Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (2/208).
[23]Tafsir Ibnu Katsir (8/137).
[24]Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 272).
[25] Kitab “al-Fawa-id” (hal. 59).
 Menggapai Hidayah Allah
 Ustadz Ramli bin Haya  Al-Kandary
 Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam, amma ba’du:
 Setiap orang yang memiliki fitrah yang bersih pastilah dia senantiasa mengharapkan hidayah itu ada pada dirinya.  Banyak orang yang ingin mendapatkan hidayah, tetapi hidayah itu jauh darinya, disebabkan karena dia tidak mengetahui hidayah yang sebenarnya dan cara untuk mendapatkannya. Sebagian orang mencari hidayah dengan melakukan amalan yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan amalannya itu sesuai dengan sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak, sebagian lagi orang menganggap jika dia berada dalam kelompok/golongan tertentu berarti dia telah berada diatas hidayah, sebagian yang lain lagi mereka meremehkan dalam masalah usaha untuk mendapatkan hidayah. Mereka menganggap bahwa walaupun tidak melakukan usaha, jika AllahSubhanahu wa Ta’ala menghendaki hidayah, maka Allah akan memberikannya.  Maka ketiganya adalah anggapan yang salah.
 Ketahuilah bahwa hidayah itu ada dua, yang pertama yaitu hidayah Rasul, berupa bimbingan dan penjelasan menuju jalan yang lurus, dan yang kedua hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala yakni berupa taufiq pada hati untuk menerima dan mengamalkan kebenaran, hidayah taufiq inilah yang hanya dimiliki oleh Allah dan Allah yang akan memberikannya kepada siapa saja dari hambaNya yang dikehendaki-Nya.
 Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan tentang perkataan orang-orang penghuni surga yang telah mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala dalam surat Al-A’raf :43:
 Mereka berkata: segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah ini kepada kami dan tidaklah kami mendapatkan hidayah jika seandainya Allah tidak memberikan hidayah kepada kami”
 Dalam tafsir As-Sa’di rahimahullah dijelaskan makna ayat di atas : Jiwa-jiwa kami tidak dapat menerima hidayah kalau bukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memberi karunia kepada kami dengan hidayah-Nya dan mengikuti Rasul-Nya
 Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa hidayah itu adalah milik Allah dan Allah yang berkehendak untuk memberikan atau menahan hidayah itu kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.  Ini juga menunjukkan bahwa hidayah itu bukanlah didapatkan dari warisan orang tua, atau hubungan nasab dan kekerabatan dengan seorang yang sholeh atau hidayah itu diperoleh dengan kekuasaan dan kepandaian seseorang atau dengan kecintaan orang sholeh kepadanya.  Beberapa bukti yang menunjukkan hal ini diantaranya ;
 1. Nabi Nuh ‘alaihis salam tidak bisa memberikan hidayah taufik kepada anaknya sebagaiman firman-Nya:
 Dan Nuh memanggil anaknya yang berada ditempat yang jauh “wahai anakku, naiklah( ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir!…. dan dia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan” (QS. Hud : 42-43)
 2. Kisah seorang anak yang mendapatkan hidayah tapi bapaknya tidak mendapatkannya
 Yaitu kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan bapaknya : “Dan tatkala Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar, apakah engkau telah menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan? Sungguh aku memandang kamu dan kaummu di dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al-An’am :74)
 Demikian pula kisah Abdullah seorang anak yang mendapat hidayah sementara ayahnya Abdullah bin Ubay bin Salul adalah gembong munafiq di madinah.
 Demikian pula Ikrimah bin Abu Jahal radhiyallahu ‘anhu mendapatkan hidayah Islam dan menjadi seorang sahabat yang mulia sementara bapaknya adalah seorang tokoh musyrikin Quraisiy.
 3. Istri-istri Nabi tidak mendapat hidayah seperti istri Nabi Nuh ‘alaihis salam dan Nabi Luth ‘alaihis salam.
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya):”Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.( QS. At-Tahrim :10)
 Dalam tafsir Ibnu Katsir rahimahullah dijelaskan bahwa istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihima salam senantiasa menemani suaminya siang dan malam, makan, tidur, dan hidup bersama suaminya. Namun keadaan keduanya (istrinya) tidak mengikuti dan membenarkan risalah yang dibawa oleh suaminya.
 4. Seorang istri yang mendapat hidayah tetapi suaminya tidak mendapatkannya seperti Asiah istri Fir’aun.
 Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang yang beriman, ketika ia berkata:“Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”. (QS At-Tahrim:11)
 5. Seorang yang diberikan hidayah tapi pamannya yang sangat dicintainya tidak diberikan hidayah sebagaimana paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Tholib tidak mendapatkan hidayah untuk masuk kedalam agama Islam .
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashas : 56)
 Dalam shahih Bukhari dan Muslim telah dijelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kisah Abu Tholib tatkala menjelang kematiannya, Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam mendatanginya untuk mangajak mengucapkan kalimat tauhid “laa illaha Illallah”,  namun dia enggan mengucapkannya, maka pada akhirnya dia mengatakan bahwa dia berada diatas agamanya Abdul Mutholib [1]
 6.  Seorang raja yang mendapatkan hidayah Islam namun orang-orang dekatnya dari pembesar-pembesar kerajaan dan para uskup dan penasehatnya tidak mendapatkan hidayah seperti Raja Najasy
 7.  Seorang budak mendapatkan hidayah tetapi majikannya tidak mendapatkannya, yaitu Bilal bin Robah radhiyallahu ‘anhu budak dari Umayyah bin Kholaf
 Dari kisah-kisah di atas menunjukkan bahwasanya hidayah taufik berada ditangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.   Untuk mendapatkannya kita perlu mujahadah (bersungguh-sungguh) dalam melakukan sebab-sebab yang telah dituntunkan oleh syariat agar Allah mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita.
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS.Al-Ankabut:69)
 Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah tatkala mengomentari ayat tersebut dengan berkata : Allah Ta’ala telah menggandengkan antara hidayah dengan jihad (kesungguhan), maka manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah manusia yang paling besar kesungguhannya.
 Jihad yang paling wajib adalah jihad melawan diri sendiri, jihad melawan keinginan hawa nafsu, jihad melawan syetan dan berjihad terhadap keinginan dunia. Maka siapa yang telah berjihad melawan empat perkara ini di jalan Allah, maka Allah memberikan kepadanya berupa jalan-jalan keridhoanNya yang mengantarkan kepada surga[2]
 Diantara cara dan sebab untuk mendapatkan hidayah tersebut adalah
 1. Bersungguh-sungguh mempelajari tauhid dan mengamalkannya.
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. At-Thaghobun : 11)
 Allah Ta’ala berfirman: orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs.  Al-An’am : 82
 2. Bersungguh-sungguh mempelajari dan mentadaburi serta mengamalkan Al qur’an
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan,[3] dengan kitab Itulah Allah Ta’ala menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Qs. Al-Maidah :15 16)
 3. Berkeinginan kuat untuk selalu kembali dan bertobat kepada Allah
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan[4] siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya” (Qs. Ar-Ra’du : 27)
 Dan dalam sebuah hadits yang shohih yang diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim tentang kisah pembunuh seratus nyawa yang dia bersungguh-sungguh ingin bertobat dari dosanya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepadanya dengan mempertemukannya dengan seorang alim yang memberikan arahan kepadanya agar tobatnya diterima, maka pembunuh 100 nyawa tersebut bersungguh-sungguh melakukan arahan orang alim tersebut agar dia meninggalkan kampung halamannya menuju ke tempat yang baik.  Dan akhirnya, Allah menerima tobat orang tersebut.
 4. Bersungguh-sungguh dalam berdoa meminta hidayah
 Ya Allah, aku memohon kepadaMu petunjuk, ketakwa’an, penjagaan diri dan kecukupan (HR Muslim)
 Demikian pula kisah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau mendoakan ibunya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepadanya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya, hingga berkat doa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam , ibu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengucapkan kalimat syahadat (HR. Muslim 2491)
 Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wa sallam
 Penulis: Ustadz Ramli bin Haya  Al-Kandary (Pengasuh Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari)
 Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com
 Catatan Kaki:
[1] Syarhul muyassar li kitaabit tauhid :124 Abdul Malik bin Muhammad Qasimy
[2] Mukhtasar al-fawaid:30 ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah
[3] Cahaya Maksudnya: Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kitab Maksudnya: Al Quran
[4] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

17 Amalan Penghapus Dosa

17 Amalan Penghapus Dosa

Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hambaNya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam Al Qur’an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Diantaranya sebagai berikut:

1. Menyempurnakan wudhu dan berjalan ke masjid, sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya wahai rasululloh. Beliau berkata: menyempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu shalat satu ke shalat yang lain, karena hal itu adalah ribath” (HR Muslim dan Al Tirmidzi).

Juga dalam sabda beliau yang lain:
“Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa” (HR. Al Tirmidzi).

2. Puasa hari Arafah dan A’syura’, dalilnya:
“Nabi Bersabda Shallallahu’alaihi Wasallam: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yang sebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu” (HR. At Tirmidzi dan di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no. 3853)

3. Shalat Tarawih di bulan Ramadhan, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Siapa yang menegakkan romadhon (shalat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘Alaihi)

4. Haji yang mabrur, dengan dalil:
“Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya” (HR. Al Bukhari)

dan sabda beliau:
“Haji mabrur balasannya hanyalah surga” (HR. Ahmad).

5. Memaafkan hutang orang yang sulit membayar, dengan dalil:
“Dari Hudzaifah beliau berkata Allah memanggil seorang hambaNya yang Allah karuniai harta. Maka Allah berkata kepadanya: Apa yang kamu kerjakan didunia? Ia menjawab: Wahai Rabb kamu telah menganugerahkanku hartaMu lalu aku bermuamalah dengan orang-orang. Dan dahulu akhlakku adalah memaafkan, sehingga aku dahulu mempermudah orang yang mampu dan menunda pembayaran hutang orang yang sulit membayar. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak darimu maka maafkanlah hambaKu ini” (HR. Muslim).

6. Melakukan kebaikan setelah berbuat dosa, dengan dalil:
“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia” (HR Al Tirmidzi dan Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 97.)

7. Memberi salam dan berkata baik, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik” (HR Al Kharaithi dalam Makarim Al Akhlak dan di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, no. 1035)

8. Sabar atas musibah, sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Sungguh Aku bila menguji seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia memujiku atas ujian yang aku timpakan kepadanya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya” (HR Ahmad, dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 144).

9. Menjaga shalat lima waktu dan jum’at serta puasa Ramadhan, dengan dalil sabda Rasulullah:
“Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar” (HR Muslim)

10. Mengumandangkan adzan, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Seorang Muadzin diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya” (HR Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shahih AL Jaami’ no. 1929)

11.  Shalat wajib, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
”Apa pendapat kalian sekiranya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, dia mandi setiap hari 5 kali, apakah tersisa kotorannya? Mereka (para Sahabat) berkata:”Tidak tersisa dari kotorannya sedikit pun.”Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ”itu seperti shalat lima waktu, menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa.”(HR.al-Bukihari dan Muslim. Lihat Fathul Bari 2/11)

12. Memperbanyak sujuddengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa)” (HR Muslim).

13. Shalat malam, dengan dalil:
“Hendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa” (HR Al Haakim, dan dihasankan Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil 2/199).

14. Berjihad dijalan Allah, dengan dalil:
“Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang” (HR Muslim)

15. Mengiringi haji dengan umrah, dengan dalil:
“Iringi haji dengan umroh, karena mengiringi antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana Al Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besi” (HR Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2899)

16. Shadaqah, dengan dalil:
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah: 271)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun bersabda:
“Shadaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api” (HR Ahmad, Al Tirmidzi dan selainnya dan di-shahih-kan Al Al Bani dalam Takhrij Musykilat Al faqr no. 117)

17. Menegakkan hukum pidana sesuai syariat Islamdengan dalil:
“Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut” (HR Al Haakim dan dishohihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no,2732)

Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel UstadzKholid.Com

Tambahan:

18. Membaca dzikir-dzikir penghapus dosa,
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , beliau bersabda:

« مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ ».
”Barang siapa yang ketika mendengar adzan membaca:


أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا
maka akan diampuni dosanya.(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 4/331)

Dan barang siapa yang membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
dalam sehari 100 kali, dihapuskan kesalahannya walaupun seperti buih di lautan. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 17/20)

Dan dalam Shahih Muslim juga dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

« مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ».

“Barang siapa yang bertasbih selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali maka itu 99 kali dan menggenapkannya seratus dengan kalimat:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di laut.”(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 5/99)

Dari Mu’adz bin Anas (dari bapaknya) radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa yang makan lalu membaca:
الحمد لله الذي أطعمني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة
(Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan aku dan memberi rizki tanpa daya dan kekuatanku), diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR.at-Tirmidzi, dihasankan oleh al-Albani rahimahullah)
Dan barang siapa yang memakai pakaian lalu membaca:
لحمد لله الذي كساني هذا و رزقنيه من غير حول مني و لا قوة
(Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian kepadaaku dan memberi rizki tanpa daya dan kekuatanku), diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR.Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud) 

http://www.alsofwah.or.id/cetakhadits.php?id=203

Mutiara Kalam Ilahi

Mutiara Kalam Ilahi

Mutiara Kalam Ilahi

Prinsip Seorang Muslim
[1] Allah ta’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu [ya Allah] kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 4)

Kebutuhan Setiap Mukmin
[2] Allah ta’ala berfirman,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Nasihat Tidak Meresap
[3] Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka; apakah engkau berikan peringatan kepada mereka atau tidak engkau beri peringatan. Mereka tidak mau beriman.” (QS. Al-Baqarah: 6) 

Pengakuan Tanpa Bukti
[4] Allah ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

“Sebagian orang ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’ padahal sesungguhnya mereka bukan kaum beriman.” (QS. Al-Baqarah: 8) 

Perintah Tauhid Untuk Segenap Manusia
[5] Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian; Dzat yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21) 

Kabar Gembira Bagi Orang Beriman
[6] Allah ta’ala berfirman,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih, bahwasanya mereka akan mendapatkan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (QS. Al-Baqarah: 25) 

Tidak Pandai Berterima Kasih
[7] Allah ta’ala berfirman,

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ

“Bagaimana mungkin kalian justru kufur/ingkar kepada Allah sementara dahulu kalian adalah mati lalu Dia [Allah] yang menghidupkan kalian…” (QS. Al-Baqarah: 28) 

Para Malaikat Tidak Malu Untuk Berkata ‘Tidak Tahu’
[8] Allah ta’ala berfirman,

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا

“Mereka [malaikat] berkata: ‘Maha suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.’.” (QS. Al-Baqarah: 32) 

Tidak Perlu Sedih dan Khawatir
[9] Allah ta’ala berfirman,

فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka mereka tidak perlu khawatir dan tidak pula mereka harus bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 38) 

Jangan Campur Aduk Kebenaran dengan Kebatilan
[10] Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kalian menyembunyikan kebenaran itu, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Tegakkan Sholat
[11] Allah ta’ala berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’-lah [sholatlah] bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Allah Maha Tahu
[12] Allah ta’ala berfirman,

أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

“Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan.” (QS. Al-Baqarah: 77)

Penghuni Surga
[13] Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang beriman dan beramal salih, mereka itulah penduduk surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82) 

Dzikir dan Syukur
[14] Allah ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Inggatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152) 

Makan Yang Halal
[15] Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Wahai umat manusia, makanlah apa yang di bumi ini yang halal dan baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 168) 

Masuk Islam Secara Kaffah
[16] Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Orang Yang Mengharap Rahmat Allah
[17] Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218)

Kebaikan Yang Sangat Banyak
[18] Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

“Barangsiapa yang diberikan hikmah [ilmu dan kepahaman] maka sungguh dia telah mendapatkan kebaikan yang sangat banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Takutlah Dari Kiamat
[19] Allah ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ

“Takutlah kalian akan suatu hari yang pada hari itu kalian dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 281)

Tidak Ada Yang Tersembunyi Bagi-Nya
[20] Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya Allah tidaklah samar/tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” (QS. Ali ‘Imran: 5)


Hanya Islam Yang Benar[21] Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama [yang benar] di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)

Allah Pasti Mengetahui
[22] Allah ta’ala berfirman,

قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada kalian atau kalian menampakkannya Allah pasti mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 29)

Bukti Ketulusan Cinta
[23] Allah ta’ala berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah: Jika kalian mengaku mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Jalan Yang Lurus
[24] Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ

“Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran: 51)

Hanya Islam Yang Diterima
[25] Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima dan di akhirat dia akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Puncak Kebajikan
[26] Allah ta’ala berfirman,

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kalian tidak akan mencapai kebajikan sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai. Dan apa pun yang kalian infakkan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Mati di Atas Tauhid
[27] Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Jangan Berpecah Belah
[28] Allah ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Karakter Umat Terbaik
[29] Allah ta’ala berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, kalian memarintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan kalian beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Jalan Meraih Rahmat Allah
[30] Allah ta’ala berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Taatlah kepada Allah dan Rasul mudah-mudahan kalian mendapatkan rahmat.” (QS. Ali ‘Imran: 132) 

Hanya Allah Tumpuan Pertolongan
[31] Allah ta’ala berfirman,

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang beriman bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 160)

Setiap Orang Pasti Mati
[32] Allah ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Larangan Berbuat Syirik
[33] Allah ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Larangan Hasad
[34] Allah ta’ala berfirman,

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

“Apakah mereka merasa dengki terhadap karunia yang Allah berikan kepada mereka [orang lain] dari keutamaan-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 54)

Kembali Kepada al-Kitab dan as-Sunnah
[35] Allah ta’ala berfirman,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu hal maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Lemahnya Tipu Daya Setan
[36] Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisaa’: 76)

Ketaatan Kepada Allah
[37] Allah ta’ala berfirman,

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang taat kepada rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisaa’: 80) 

Musuh Yang Nyata
[38] Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا

“Sesungguhnya orang-orang kafir adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. An-Nisaa’: 101) 

Keunggulan Umat Islam
[39] Allah ta’ala berfirman,

إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

“Jika kalian terluka maka sesungguhnya mereka [musuh Islam] pun terluka sebagaimana kalian. Akan tetapi kalian mengharap dari Allah sesuatu [balasan] yang tidak mereka harapkan.” (QS. An-Nisaa’: 104) 

Kesesatan Yang Amat Jauh
[40] Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat jauh.” (QS. An-Nisaa’: 116)

____

Sumber: AbuMushlih.Com