Senin, 19 April 2010

Psikologi perkembangan remaja menurut Sarwono

Menurut Sarwono dalam bukunya psikologi perkembangan remaja dapat digolongkan menjadi:
1) Masa Pra Pubertas (usia 12-13 tahun)
Peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas cirinya:
a) Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
b) Anak mulai bersikap kritis
2) Masa Pubertas (usia 14-16 tahun)
Merupakan masa awal, cirinya:
a) Mulai cemar dan bingung tentang perubahan
fisiknya
b) Memperhatikan penampilan
c) Sikapnya tidak menentu/ plin plan
d) Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
3) Masa Akhir Pubertas (usia 17-18 tahun)
Peralihan dari masa pubertas ke masa adolensen, cirinya:
a) Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya.
b) Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.
4) Periode Remaja Adolesen (usia 19-21 tahun)
Merupakan masa akhir remaja, beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
a) Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
b) Mulai menyadari akan realitas
c) Sikapnya mulai jelas tentang hidup
d) Mulai nampak dan minatnya

Minggu, 18 April 2010

Aktifitas seksual dalam kehamilan

Sejak zaman dahulu hingga paruh pertama abad ini coitus pada kehamilan, terutama pada trimester terakhir dilarang dalam berbagai komunitas sosial. Risiko yang ditakutkan termasuk infeksi dan persalinan prematur. Penelitian mengenai hal ini selama 40 tahun terakhir tenyata membuahkan hasil-hasil yang saling bertentangan. Beberapa peneliti berpendapat bahwa coitus pada masa kehamilan bisa menyebabkan KPD, persalinan prematur dan chorioamnionitis. Sementara peneliiti lain tidak menemukan hubungan antara coitus selama kehamilan dengan komplikasi yang terjadi (Klebanoff, 1993).
Penelitian untuk mengetahui efek coitus pada kehamilan lanjut, pertama kali dilakukan oleh Pugh dan Fernandez (1953) dengan subyek 200 wanita hamil, dan mereka menyimpulkan bahwa coitus tidak menyebabkan suatu komplikasi apapun terhadap kehamilan. Dengan demikian tidak dianjurkan untuk menghindari coitus pada saat hamil bahwa coitus selama kehamilan tidak meningkatkan risiko terjadinya persalinan prematur, KPD, perdarahan ataupun infeksi (Rynerson BC, 1993).
Peneliti lain mempertimbangkan adanya faktor cairan seminal dan stimulasi pada mammae sebagai salah satu yang menginduksi persalinan prematur. Sebagaimana diketahui cairan seminal kaya dengan prostaglandin dan enzim yang potensial menyebabkan inisiasi persalinan. Sementara stimulasi pada mammae akan menyebabkan diproduksinya oksitosin sehingga juga akan merangsang terjadinya kontraksi uterus. (Klebanoff, 1993).
Belum terbuktinya coitus sebagai faktor risiko terjadinya persalinan prematur menyebkan rekomendasi yang berbeda-beda pula. Sebagian praktisioner kebidanan menyatakan tidak ada alasan untuk membatasi kegiatan seksual selama kehamilan (Thrope, 1992). Sementara sebagian yang lain menyarankan pembatasan hubungan seksual pada 4 minggu terakhir kehamilan dan kapan saja bila terdapat indikasi ancaman abortus atau persalinan prematur (Cunningham, 1997). Menurut penelitian Palakathodi dkk (2000) di Denmark frekuensi koitus yang sering tanpa pemakaian kondom berpengaruh terhadap kolonisasi Streptokokus Grup B. Pada ibu hamil dengan frekuensi koitus yang sering (≥7x/4 minggu) tanpa kondom didapatkan prevalensi beberapa mikroorganisma vagina yang lebih tinggi, termasuk kolonisasi Streptokokus Grup B dibandingkan dengan ibu hamil yang jarang melakukan koitus (frekuensi < 3x/4 minggu) (Irianti, 2002).

Definisi/Pengertian Kehamilan Kembar

Kehamilan kembar ialah suatu kehamilan dua janin (kembar), 3 triplet dan seterusnya. Kehamilan ini dapat meningkatkan risiko persalinan prematur. Dilaporkan dari 121 juta persalinan didapatkan sebagai berikut: kembar l: 85, triplet I : 7,6 (Sastrawinata, 1984).

Kehamilan kembar seringkali menimbulkan komplikasi kehamilan seperti hidramnion, eklampsia, preeklampsia, anemia sehingga menyebabkan over distensi uterus (Reeder, 1996). Sebanyak 10% pasien dengan partus prematur ialah kehamilan kembar dan secara umum kehamilan kembar mempunyai panjang usia gestasi lebih pendek (Wiknjosastro, 1994).





Keuntungan memakai alat kontrasepsi jangka panjang

Alat kontrasepsi sebaiknya mengetahui keuntungan dan kerugian yang mungkin akan terjadi. Dengan demikian, efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi ini dapat diminimallisirkan. Menurut Prawirohardjo (2005) pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang seperti AKDR/IUD, Implant, MOW dan MOP memiliki banyak keuntungan, yakni:
a. Memiliki efektivitas yang tinggi, dari 1000 kehamilan hanya ditemukan 6 akibat dari kegagalan pemakaian metode KB jangka panjang.
b. Sangat efektif karena tingkat kegagalan dalam penggunaannya sangat kecil.
c. Tidak akan mengganggu dalam melakukan hubungan seksual.
d. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI karena tidak bersifat hormonal.
e. Lebih aman karena keluhan/efek samping dalam pemakaian kontrasepsi jangka panjang ini lebih sedikit.


Kerugian dalam pemakaian kontrasepsi jangka panjang

a. Akseptor harus memiliki izin dan persetujuan dari suami atau istri tanpa ada paksaan dari orang lain
b. Dalam pemakaian kontrasepsi jangka panjang ini memerlukan waktu yang banyak saat pemasangannya
c. Setelah melakukan pemasangan alat kontrasepsi KB jangka panjang seperti AKDR/IUD, implant, MOW/MOP terkadang bisa meninggalkan bekas luka.
3. Persyaratan pemakain kontrasepsi jangka panjang
Adapun persyaratan yang harus diperhatikan oleh pasangan usia subur untuk pemakaian kontrasepsi jangka panjang ini untuk meminimalkan efek samping, yaitu klien menginginkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang, klien telah mempunyai cukup anak sesuai harapan, dan klien belum siap untuk hamil.


Sumber : buku kebidanan

Konsep Dasar Pengetahuan

a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu hasil yang diperoleh seseorang setelah melakukan penginderaan berupa melihat, mendengar, mencium, merasa dan meraba terhadap suatu objek tertentu sehingga orang tersebut menjadi tahu (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang di ketahui atau di sadari oleh oleh seseorang (kamus bahasa indonesia,1999).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Prilaku yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap positif, akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan berlangsung lama. (Rogers, 1974). (Notoatmodjo,2003) menyebutkan bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru akan terjadi suatu proses dalam diri orang tersebut yaitu :
1) Awarenees (kesadaran) : yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
2) Interest (tertarik) : yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
3) Evaluation (mempertimbangkan) : yakni baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap seseorang sudah lebih baik.
4) Trial (mencoba) : yakni orang telah mencoba perilaku baru.
5) Adoption (mengadaptasi) : yakni orang tersebut telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
b. Tingkatan Pengetahuan
Notoatmodjo (2003) mengatakan dalam bukunya, pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif dapat dibagi dalam enam tingkatan, yaitu :
1) Tahu
Pada tingkat ini seseorang mampu mengingat kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk hal-hal yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari.
2) Memahami
Pada tingkat ini seseorang mampu menjelaskan tentang objek yang diketahuinya dan dapat menginterpretasikan dengan benar.
3) Aplikasi
Pada tingkat ini seseorang mampu menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi nyata.
4) Analisa
Pada tingkat ini seseorang mampu menjabarkan materi suatu objek kedalam komponen-komponen yang saling berkaitan dalam suatu struktur organisasi.
5) Sintesis
Pada tingkat ini seseorang mampu menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.


6) Evaluasi
Pada tingkat ini seseorang mampu melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
c. Karakteristik individu yang kurang pengetahuan antara lain:
1) Mengungkapkan informasi yang tidak adequat
Informasi tidak di sampaikan lengkap sehingga maksudnya jadi biasa.
2) Adanya salah pengertian atau salah persepsi. Karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup biasanya terjadi makna yang di sampaikan menjadi salah.
3) Menanyakan kembali informasi yang telah di berikan, kemampuan menerima informasi lambat sehingga pertanyaan di ulang – ulang.
4) Tidak terampil dalam mendemonstrasikan sesuatu karena pengetahuan yang di terima tidak cukup biasanya kurang, mampu dalam mempergunakan sesuatu.
d. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain:
1) Intelegensi
Intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif, intelegensi mengandung unsur pengetahuan atau rasio, yang banyak di gunakan dalam suatu tindakan atau prilaku makin beintelegasi perilaku tersebut.
2) Emosi
Emosi atau perasaan yang timbul di sertai pekerjaan inttlect dapat memperkuat dorongan pengetahuan individu. Contohnya seperti individu mampu memahami atau tidak memahami suatu pekerjaan.
3) Kepercayaan
Kepercayaan merupakan dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang di harapkan dari objek tertentu. Kepercayaan datang dari apa yang telah di ketahui kemudian akan terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik suatu objek.
4) Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi adalah suatu yang dijalani, dirasakan dan ditanggung. Pengalaman pribadi dapat membentuk pengetahuan seseorang, pengalaman pribadi yang di generalisasikan akan membentuk streotif dan penghayatan seseorang.
5) Belajar
Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan setiap kegiatan belajar diharapkan akan ada perubahan pada diri individu, seperti tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti (Sunaryo, 2004).
6) Media Massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media masa seperti televisi, radio, surat kabar dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut.

Kamis, 15 April 2010

Berita Acara Penandatanganan MOU/Perjanjian Kerjasama

BERITA ACARA
PENANDATANGAN PERJANJIAN KERJASAMA
ANTARA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA IMPIAN
DENGAN
STIKES KESEHATAN BANDUNG



Bismillahirrahmaanirrahim
Pada hari ini ……………...... tanggal …………….. tahun .………... bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Impian, telah dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama antara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Impian dengan STIKES KESEHATAN BANDUNG, bukti penandatanganan adalah piagam kerjasama yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Demikian berita acara ini dibuat dengan sebenarnya.

Bandung, …………………….2010
Direktur RSUD Direktur Stikes




dr. H.Arman Bajuri, Sp.PK Nining Wijaya,M.Kep
NIP : NIK :



Saksi-Saksi :
1………………………..(……………………)
2.………………………..(……………………)
3.………………………..(……………………)
4.………………………..(……………………)