Selasa, 09 Februari 2016

Kitab Sirrur Asrar ( Kejadian Alam Semesta | Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam Bagian 4 )

Kitab Sirrur Asrar ( Kejadian Alam Semesta | Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam Bagian 4 )


Assalamu'alaikum wr, wb.
Illustrasi Kehidupan "Nenek & Cucu"
Puji Syukur terhadap Alloh Robbul'amin yang telah menjadikan Makhluk-Nya dan memberikan Ilmu dan Bimbingan-Nya bagi makhluk-Nya yang Ia kehendaki, semoga kita mendapat taufiq dan hidayah agar kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT serta kita mendapat Rahmat dan syafaat Rosululloh saw.
Mari kita mempelajari Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam dan bagaimana pertama tama Alloh SWt menciptakan Alam semsta beserta isinya ini, mudah mudahan kita mendapat taufik dan hidayah agar tetap beramal dan beribadah thd Alloh Ta'ala..aamiin.
 itu ada dua macam, yaitu Ma'rifat Shifat Allah dan Ma'rifat Dzat Allah. Makrifat sifat menjadi tugas setiap jasad di dunia dan akhirat.! Sedangkan, Makrifat Dzat menjadi tugas Ruh Al-Qudsi di akhirat saja. Sebagaimana firman Allah,
"Ku-perkuat manusia dengan ruh Al-Qudsi." 
(QS. Al-Baqarah [2]: 87)
Mak'ifat Shifat dan Ma'rifat Dzat hanya dapat dikuasai dengan
memadukan antara ilmu lahir dan ilmu batin. Rasulullah SAW bersabda,
"Ilmu itu ada dua macam. Pertama, ilmu lisan, sebagai hujjah Allah kepada hambanya. Kedua, ilmu batin yang bersumber di lubuk kalbu, ilmu inilah yang berguna untuk mencapai tujuan pokok dalam ibadah." 
(HR. Ad-Darimi)


Akhirat di kalangan ahli makrifat bukanlah penghujung waktu melainkan ujung ruang. Seseorang bisa saja badannya di bumi tapi ruh yang paling dalamnya bisa tembus ke akhirat. Atau, akhirat adalah Alam Lahut. (Penerjemah)


Pada mulanya, manusia membutuhkan ilmu syariat agar dengan usaha fisiknya-sesuai dengan kadar pengetahuannya terhadap Makrifat Sifat-ia mendapatkan derajat atau pahala. Pada tahap selanjutnya, manusia akan butuh ilmu batin sehingga dengan kemampuan Ruh AI-Qudsinya ia sampai pada Alam Makrifat. Adapun untuk mencapai tujuan ini, manusia harus meninggalkan segala sesuatu yang menyalahi syariat dan tar~kat. Ini akan dapat dicapai dengan melatih diri meninggalkan hawa nafsu dan berbagai kegiatan ruhaniyah-meskipun sangat berat-dengan tujuan mendapat ridha Allah tanpai riya' (ingin dipuji orang lain) dan sum'ah (mencari kemasyhuran). 
Allah SWT berfirman,
"Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." 
(QS. AI-Kahf[18]: 110)
bersambung bagian 5
sumber : http://alalamuliman.blogspot.co.id/

Senin, 08 Februari 2016

Kitab Sirrur Asrar ( Kejadian Alam Semesta | Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam Bagian 3 )

Kejadian Alam Semesta | Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam Bagian 3




Illustrasi : Google
Assalamu'alaikum wr, wb.

Puji Syukur terhadap Alloh Robbul'amin yang telah menjadikan Makhluk-Nya dan memberikan Ilmu dan Bimbingan-Nya bagi makhluk-Nya yang Ia kehendaki, semoga kita mendapat taufiq dan hidayah agar kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT serta kita mendapat Rahmat dan syafaat Rosululloh saw.

Mari kita mempelajari Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam dan bagaimana pertama tama Alloh SWt menciptakan Alam semsta beserta isinya ini, mudah mudahan kita mendapat taufik dan hidayah agar tetap beramal dan beribadah thd Alloh Ta'ala..aamiin.

Nabi kalian selalu menunggu dan sangat khawatir memikirkan kalian. Sebagaimana sabda Nabi SAW,
“Aku mengkhawatirkan umatku yang hidup di akhir zaman."

Adapun ilmu yang diturunkan kepada kita, ada dua yaitu ilmu lahir, yakni syariat dan ilmu batin yakni makrifat. Syariat untuk jasad kita dan makrifat untuk batin kita. Keduanya harus dipadukan, yang dari perpaduannya membuahkan ilmu hakikat. Seperti perpaduan antara pohon dan dedaunan yang menghasilkan buah. Sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah SWT,
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing." 
(QS. Ar-Rahman [55]: 19-20)
Jika tidak dipadukan, maka dengan ilmu lahir saja, manusia tidak akan mencapai ilmu hakikat dan tidak akan sampai pada tujuan inti ibadah (wushul ilallah). Ibadah yang sempurna hanya

 diwujudkan dengan perpaduan ilmu lahir dan ilmu batin. Sebagaimana firman Allah SWT,
"Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku." 
(QS. Dzariyat [51]: 56)
Adapun yang dimaksud "Agar beribadah kepada-Ku," adalah
makrifat (kenal) terhadap-Ku. Sebab, bagaimana orang bisa ber­ibadah kepada-Nya jika tidak mengenal-Nya? Tapi, makrifat dapat dicapai setelah tirai hawa nafsu yang menghalangi cermin kalbu dibuka yaitu dengan sering-sering membersihkannya. Setelah bersih, manusia akan melihat indahnya al-kanzu al-makhfiyu (Allah SWT) pada rasa terdalam di lubuk kalbu. Sebagaimana firman Allah dalam Hadis Qudsi,
"Aku adalah Kanzan Makhfiyya (perbendaharaan yang terpendam dan tertutup). Aku ingin dikenali. Kuciptakan makhluk pun agar mereka mengenal-Ku."
Dari sini, dapat disimpulkan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia makrifat kepada Allah.

lihat sebelumnya;
bersambung bagian 4
sumber : http://alalamuliman.blogspot.co.id/

Kitab Sirrur Asrar ( Kejadian Alam Semesta | Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam Bagian 2 )

Kejadian Alam Semesta | Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam Bagian 2



Assalamu'alaikum wr, wb.
Puji Syukur terhadap Alloh Robbul'amin yang telah menjadikan Makhluk-Nya dan memberikan Ilmu dan Bimbingan-Nya bagi makhluk-Nya yang Ia kehendaki, semoga kita mendapat taufiq dan hidayah agar kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT serta kita mendapat Rahmat dan syafaat Rosululloh saw.

Mari kita mempelajari Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alamdan bagaimana pertama tama Alloh SWt menciptakan Alam semsta beserta isinya ini, mudah mudahan kita mendapat taufik dan hidayah agar tetap beramal dan beribadah thd Alloh Ta'ala..aamiin.
Maka kenabian dilimpahkan kepada Ruh Muhammad yang agung, penutup risalah dan penyelamat dari ketersesatan. Lalu, Allah SWT memberi tugas risalah pada Ruh Agung, Muhammad SAW. Allah SWT mengutus beliau untuk mengingatkan manusia-manusia yang lalai sehingga terbuka mata bashirah-nya dari lelap yang melalaikan. Maka, Nabi SAW pun mengajak mereka agar kembali dan bisa bertemu dengan Jamalullah yang azali. Sebagaimana firman-Nya,
"Katakanlah (Muhammad), 'Inilah jalanku, aku dan orang­orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan (bashirah) yakin,''' 
(QS. Yusuf [12]: 108)
Nabi SAW juga bersabda,
"Para sahabatku seperti bintang-bintang, mengikuti yang mana pun, kalian akan mendapat petunjuk." 
(HR. AI-Qurthubi)

 (Pada ayat tadi dijelaskan bahwa Nabi mengajak manusia kembali kepada Allah SWT dengan yakin, yang di dalam AI­Qur' an dibahasakan dengan bashirah) Bashirah adalah Inti Ruh yang terbuka bagi mata hati para aulia. Bashirah ini tidak akan terbuka bagi mereka yang hanya mendalami ilmu lahir saja. Untuk membukanya harus dengan ilmu Ladunni Batin (ilmu yang langsung dari Allah setelah melakukan mujahadah). Sesuai dengan firman Allah,
"Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu (Ladunni) dari sisi Kami." 
(QS. AI-Kahf[18]: 65).
Oleh sebab itu, orang yang ingin membuka Inti Ruhnya harus berguru pada ahli-ahli bashirah dengan mengambil talqin dari seorang wali mursyid yang memberi petunjuk lang~ung dariAlam Lahut.
Wahai saudaraku! Perhatikanlah akan hal ini dan cepat-cepatlah memohon ampun pada Tuhan kalian dengan segera bertobat. Allah SWT berfirman,
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa," 
(QS. Ali 'Imran [3]: 133)
Dan, masuklah pada ath-thariq Galan kembali kepada Allah) dan kembalilah kepada Tuhan kalian bersama golongan ahli ruhani. Waktu sangat sempit, sedang jalan hampir tertutup. Dan, sungguh sulit mencari teman yang dapat mengajak kembali ke Negeri Asal (Alam Lahut). Kita berada di bumi yang hina dan akan hancur ini, tidak hanya untuk berpangku tangan lalu makan, minum dan memenuhi hawa nafsu belaka. Seorang ahli sya'ir berkata:
 "Sekarang bangkitlah dan mabukkan hati mu dengan anggur suci Kita duduk diam di tempat gelap ini (dunia) tak akan berarti apa-apa"

bersambung bagian ke 3
sumber : http://alalamuliman.blogspot.co.id/


Kitab Sirrur Asrar ( Kejadian Alam Semesta | Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam )

Kejadian Alam Semesta | Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam


Assalamu'alaikum wr, wb.
Puji Syukur terhadap Alloh Robbul'amin yang telah menjadikan Makhluk-Nya dan memberikan Ilmu dan Bimbingan-Nya bagi makhluk-Nya yang Ia kehendaki, semoga kita mendapat taufiq dan hidayah agar kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT serta kita mendapat Rahmat dan syafaat Rosululloh saw.
Illustrasi Jagat Raya


Mari kita mempelajari Asal muasal Kejadian Allah SWT menciptakan Seluruh Alam dan bagaimana pertama tama Alloh SWt menciptakan Alam semsta beserta isinya ini, mudah mudahan kita mendapat taufik dan hidayah agar tetap beramal dan beribadah thd Alloh Ta,ala..aamiin.


Ketahuilah-semoga engkau diberi taufik pada segala yang dicintai dan diridhai Allah SWT -makhluk pertama yang diciptakan Allah SWT adalah ruh Muhammad SAW. Ia diciptakan dari cahaya
jamalullah. Sebagaimana firman Allah dalam Hadis Qudsi,
"Pertama kali yang Aku ciptakan adalah ruh Muhammad dari cahaya-Ku."
Nabi SAW juga bersabda, 
"Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah ruhku. Dan, yang pertama diciptakan oleh Allah ialah cahayaku. Dan, yang pertama diciptakan oleh Allah ialah AI-Qalam. Dan, yang pertama diciptakan oleh Allah ialah akal." 
(HR. Abu Daud).
Artinya bahwa ruh, cahaya, al-qalam, dan akal pada dasarnya adalah satu, yaitu Hakikat Muhammad.


Hakikat Muhammad kemudian disebut nur karena bersih dari segala kegelapan yang menghalangi jalalullah. Sebagaimana firman Allah,
"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang meryelaskan." 
(QS. Al-Ma'idah [5]: 15)
Hakikat Muhammad disebut juga akal karena ia yang
menemukan dan memahami segala sesuatu. Hakikat Muhammad disebut juga al-qalam (pena) karena ia menjadi sebab perpindahan ilmu seperti halnya mata pena sebagai penoreh ilmu di hamparan alam huruf (pengetahuan yang tertulis). Ruh Muhammad adalah ruh yang termurni, sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,
“Aku dari Allah dan orang-orang beriman berasal dari diriku."


Dan, dari ruh Muhammad itulah Allah SWT menciptakan semua ruh di Alam Lahut dalam bentuk yang terbaik dan hakiki. Dan, Muhammad adalah nama bagi seluruh manusia di Alam Lahut. Alam Lahut adalah Negeri Asal. Setelah 4.000 tahun dari penciptaan Ruh Muhammad, Allah SWT kemudian menciptakan 'Arasy dari Nur Muhammad. Begitu pula, seluruh makhluk lainnya diciptakan dari Nur Muhammad.


 Kemudian, ruh-ruh itu diturunkan ke alam yang terendah maksud saya (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani) ke dalam jasad-jasad manusia. Sebagaimana firman Allah,
"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah­rendahnya." 
(QS. At-TIn [95]: 5)
Proses turunnya adalah setelah ruh diciptakan di Alam Lahutkemudian ia diturunkan ke Alam Jabarut. Lalu, di sana ia dibalut dengan Cahaya Jabarut sebagai pakaian antara dua haram (dua tempat antara dimensi ketuhanan dan dimensi makhluk, di Alam Kabir). Ruh di lapisan kedua ini disebut Ruh Sulthani. Selanjutnya, diturunkan lagi ke Alam Malakut dan dibalut dengan Cahaya Malakut yang kemudian disebut dengan Ruh Ruwani. Kemudian, diturunkan lagi ke Alam Mulki dan dibalut dengar Cahaya Mulki. Ruh di lapisan keempat inilah yang disebut dengan Ruh Jismani.


 Selanjutnya, Allah SWT menciptakan jasad-jasad. Sebagaimana firman Allah, 
"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain." 
(QS. Thaha [20]: 55)
Setelah tercipta jasad-jasad, Allah SWT memerintahkan ruh
(di Alam Mulki tadi) agar masuk ke dalam jasad-jasad itu dan ruh pun masuk ke dalamnya. Sebagaimana firman Allah,
"Dan Aku tiupkan ruh ciptaan-Ku dari-Ku." 
(QS. AI-Hijr [15]: 29)


Ketika ruh berada di dalam jasad dan merasa senang di dalamnya, ruh lupa akan perjanjian awal di Alam Lahut, yaitu hari perjanjian ketika Allah SWT bertanya,
"Bukankah Aku ini Tuhan kalian?"
'Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi:
(QS. AI-A'raf[7]: 172)
Akibat ruh lupa pada perjanjian awalnya maka ia tidak dapat
kembali ke Alam Lahut sebagai Negeri Asal. Dengan kasihnya, maka Allah SWT pun menolong ruh-ruh itu dengan menurunkan kitab-kitab samawi yang mengingatkan mereka tentang Negeri Asal. Sebagaimana firman Allah,
"Dan ingatkanlah mereka pada hari-hari Allah." 
(QS. Ibrahim [14]: 5)
Maksud "hari-hari Allah" adalah hari saat pertemuan antara
Allah SWT dengan seluruh arwah di Alam Lahut. Adapun para nabi, mereka datang ke bumi dan kembali ke akhirat. Badan mereka di bumi, sedangkan ruh intinya berada di Negeri Asal karena adanya peringatan ini. Sangat sedikit orang yang sadar, berkeinginan, dan berkeinginan sampai ke Negeri Asal.

bersambung bagian ke 2
sumber : http://alalamuliman.blogspot.co.id/

Senin, 01 Februari 2016

DAHSYATNYA DOA DIANTARA DUA SUJUD


DAHSYATNYA DOA DIANTARA DUA SUJUD



Inilah Ternyata Dahsyatnya Doa Diantara Dua Sujud yang Banyak Tidak Diketahui Oleh Umat Islam Allah SWT tidak akan pernah menyuruh umatNya mengerjakan sesuatu yang tak memiliki makna, begitu juga dengan doa yang dibaca diantara dua sujud ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah shalat. Bayangkan saja, shalat sendiri memiliki amat banyak fungsi untuk kesehatan tubuh dan mental, hal yang sama juga pasti dimiliki oleh bacaan yang harus dilafalkan ketika melakukan kegiatan shalat tersebut. Jika kita nilai sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT tidak ada artinya, itu berarti kita tidak lagi percaya kepada hitungan yang sudah dilakukan Allah SWT terhadap makhluk-makhluk yang sudah memutuskan untuk menjadi umatNya. Jika ada pertanyaan doa apa yang paling sering dibaca oleh umat Islam, pasti akan banyak orang yang salah jawab, karena sesungguhnya doa terbanyak dibaca adalah doa antara dua sujud. Jika kita hanya melakukan shalat lima waktu, kita paling tidak sudah membaca doa tersebut sebanyak 17 kali setiap harinya. Itu hanyalah hitungan setiap harinya, dan jika kita kalikan seminggu saja maka kita paling tidak sudah membaca doa tersebut sebanyak 119 kali. Ulangi sebanyak 1 bulan, maka kita sudah membacanya sebanyak hampir 500 kali, tepatnya 476 kali. Bayangkan dengan doa-doa lain yang mungkin bahkan hanya kita panjatkan satu kali tiap harinya. Apa yang Membuat Doa Diantara Dua Sujud Amat Istimewa? Dahsyatnya doa diantara dua sujud mungkin sering terlewatkan oleh banyak umat Islam di dunia ini karena mereka terlalu sering membacanya hingga tidak tahu bahwa yang dibaca adalah sebuah doa yang manfaatnya akan diberikan kepada orang yang membacanya. Terlebih lagi dengan betapa seringnya doa ini dibacakan maka akan memberikan kemungkinan untuk dikabulkan jauh lebih besar dibandingkan doa-doa lainnya yang hanya dibaca hanya satu kali sehari. Adapula efek positif yang diberikan oleh doa ini, antara lain adalah sebagai berikut ini: • Robighfirlii Robighfirli bisa diartikan sebagai kita yang meminta kepada Allah SWT untuk mengampuni dosa-dosa yang dimiliki. Dosa merupakan beban hidup yang bisa menjadi penghalang kita masuk ke dalam surga milik Allah SWT.
• Warhamnii Khasiat doa diantara dua sujud yang kedua adalah warhamnii bermakna meminta kasih sayang dari Allah. • Wajburnii Wajburnii menyatakan kita minta tolong kepada Allah SWT untuk menutup kekurangan yang kita miliki sebagai manusia. • Warfa’ni Bagian ini adalah bagian kita yang meminta bantuan Allah untuk meninggikan derajat kita agar tak ada manusia yang sanggup menghina. • Warzuqni Ini adalah permintaan akan rezeki dari Allah SWT. • Wahdini Ini adalah doa yang dipanjatkan ketika kita butuh petunjuk dan bimbingan mengenai hidup. • Wa’afinii Adalah doa peminta kesehatan. • Wa’fuannii Bagian terakhir adalah bagian yang menyempurnakan segalanya. Di sini kita meminta seluruh catatan negatif kita dihapuskan. Sungguh, betapa dahsyatnya doa diantara dua sujud.

Subhanallah Walhamdullilah walailaahaillallah Allahhuakbar walahaulawalaaquatailabillahi aliyyil adhiim Maa Alimallahu Waziinata Maa Aalimallahu Wamil-amaa Alimallah Allahumma salli ala sayidiina muhammadin Waala alihi wasabbihii wasaliim,,اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ 
(Astaghfirullah).



Minggu, 17 Januari 2016

SYA'IR YANG MEMBUAT IMAM AHMAD MENANGIS


SYA'IR YANG MEMBUAT IMAM AHMAD MENANGIS

Berikut ini adalah sebuah kutipan syair yang diriwayatkan di dalam buku karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah membuat Imam Ahmad menangis tersedu-sedu hingga hampir pingsan. Hal ini menunjukkan betapa lembut dan pekanya hati Imam Ahmad terhadap hal-hal yang mengingatkan manusia kepada Rabbnya, dosa-dosanya, dan kehidupan akhirat.

إذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أمَا استحييتَ تَعصينِي … وتُخفي الذَّنبَ عن خَلْقي وبالعصيان تأتيني
فكيف أجيب يا ويحي ومن ذا سوف يحميني … أسلي النفس بالآمال من حين إلى حينِ
وأنسى ما وراء الموتِ ماذا بعدُ تكفيني … كأني قد ضمِنْتُ العيشَ ليس الموت يأتيني
وجاءت سكرة الموتِ الشديدةُ من سيَحْميني … نظرتُ إلى الوجوهِ أليسَ منهم من سيفديني
سأُسْأَل ما الذي قدَّمتُ في دنيايَ يُنجيني … فكيف إجابتي من بعدُ ما فرَّطتُ في ديني
ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني … ألم أسمع بما قد جاء في قافٍ وياسينِ
ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع والديني … ألم أسمع منادي الموتِ يدعوني يناديني
فيَا ربَّاه عبدٌ تائبٌ من ذا سيأويني … سوى ربٍّ غفورٍ واسعٍ للحقِّ يهديني
أتيتُ إليك فارحمني وثقِّل فِي موازينِي … وخفف في جزائي أنت أرجى من يُجازيني

Jika Rabb-ku mengatakan kepadaku: “Tidak malukah kau bermaksiat kepada-Ku?!
Engkau menutupi dosa dari para makhluk-Ku, tapi malah dengan kemaksiatan kau mendatangi-Ku!”
 
Maka bagaimana aku menjawabnya, dan siapa yang mampu melindungiku…
Aku terus menghibur diri dengan angan-angan (dunia) dari waktu ke waktu…
 
Tetapi aku lalai dengan perihal setelah kematian, tentang apa yang dapat mencukupiku setelah itu…
Seolah aku akan hidup terus, dan maut tidak akan menghampiriku…

Saat sakaratulmaut yang dahsyat itu benar-benar datang, siapakah yang mampu melindungiku…
Aku melihat wajah orang-orang… Tidakkah ada diantara mereka yang mau menebusku?!

Aku akan ditanya, tentang apa -yang kukerjakan di dunia ini- yang dapat menyelamatkanku…
Maka bagaimanakah jawabanku setelah aku lupakan agamaku…

Sungguh celaka aku… Tidakkah ku dengar firman Alloh yang menyeruku?!
Tidakkah pula kudengar ayat-ayat yang ada di Surat Qoof dan Yasin itu?!
 
Bukankah kudengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkan, dan hari pembalasan itu?!
Bukankah kudengar pula panggilan kematian yang terus melayangkan panggilan dan seruan kepadaku?!

Maka ya Robb… akulah hambamu yang bertaubat… Tidak ada yang dapat melindungiku,
Melainkan Robb yang Maha Pengampun, lagi Maha Luas Karunianya… Dia-lah yang menunjukkan hidayah kepadaku

Aku telah datang kepada-Mu… maka rahmatilah aku, dan beratkanlah timbanganku…
Ringankanlah hukumanku… Sungguh Engkaulah yang paling kuharapkan pahalanya untukku
http://sufismenews.blogspot.co.id/

Jumat, 15 Januari 2016

Dianggap Orang Gila

Dianggap Orang Gila


Rasulullah Saw dalam suatu hadits menyebutkan,

إِنَّ الْإسْلَامَ بَدَأَ غَرِيْبًـا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا, فَطُوْبَا لِلْغُرَبَآءِ. قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْغُرَبَآءُ؟ قَالَ: الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ.{رواه مسلم}

 “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka berbahagialah bagi mereka yang dianggap asing itu. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah! Siapakah al-Guraba (yakni orang yang dianggap asing) itu? Rasul menjawab: Merekalah yang berbuat baik di kala orang-orang sedang rusak.”

Disebut asing (aneh) karena melakukan perubahan terhadap tradisi jahiliyyah yang telah berkembang sejak lama. Kaum jahiliyyah yang mayoritas bertahan atas keyakinannya itu, alias tidak mau berubah.

Di kemudian hari orang-orang yang menjalankan Islam dengan sesungguhnya akan dianggap asing kembali. Rasulullah Saw mengapresiasi kemunculan mereka, ‘Beruntunglah mereka yang dianggap asing!’ [Dianggap asing itu bukan berarti asing sebenarnya]

Dianggap asingnya ajaran Islam disebabkan sudah banyaknya kezhaliman dan kemungkaran. Sehingga kejahatan yang dilakukan oleh banyak pelaku menjadi suatu perbuatan yang biasa saja. Merokok di tempat umum jika sudah menjadi biasa tidak akan dianggap kesalahan. Padahal telah menzhalimi diri sendiri dan orang lain. Jika kebanyakan orang berbuat kejahatan di suatu tempat maka orang yang berbuat kebaikan dianggap salah. Ini adalah suatu resiko dalam menyampaikan kebenaran.

Para Nabi dan Rasul seperti yang diutarakan dalam Al-Quran disebut sebagai ‘orang gila’ [majnun] oleh kaumnya.[1]  Karena mereka hendak melakukan perubahan di tengah kehidupan yang sudah statis dan dianggap tidak akan berubah meskipun satu orang. Meskipun minoritas, tapi mereka tidak takut menyampaikan kebenaran dan berani ‘tampil beda’.

Dalam istilah tasawuf disebut Jununul Uqala’ yakni orang-orang yang berakal (menjalankan agama dengan benar) tapi dianggap tidak waras. Kebanyakan manusia di setiap masa memilih menjadi orang gila tapi dianggap waras. Sedikit yang memilih sebaliknya. Hal demikian terjadi di setiap generasi.

Rasulullah Saw memerintahkan,

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ حَتىّ يَقُوْلُوْا مَجْنُوْنَ
“Hendaklah kalian berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya sehingga orang-orang mengatakan gila”. (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Hakim)

Berdzikir itu tidak sebatas menyebut. Berdzikir yang komprehensif (menyeluruh) adalah jiwanya selalu menghadap kepada Allah. Jika jiwa sudah menghadap kepada Allah, segala pekerjaan akan dijalankan dengan baik. Usahanya mencari rizki dilakukan dengan cara yang halal walaupun kebanyakan orang sudah tidak mempedulikan cara mendapatkannya, apakah halal atau haram. Inilah yang disebut banyak dzikir kepada Allah (dzikron katsiiroo).

Tandanya adalah banyak latihan dzikir di masjid, mendapatkan dampak psikologis jiwanya terus menghadap kepada Allah, memilih pekerjaan yang halal, ia bersikap jujur sementara banyak orang menyuarakan ketidakjujuran, ia tidak melakukan korupsi ketika banyak orang telah melakukannya. Resikonya adalah disebut gila.

Jabatan yang tidak naik-naik jika tidak kong kali kong (menyuap), ditekan bos agar mark-up anggaran, adalah resiko kehidupan. Semuanya memiliki konssekuensi yang mesti ditanggung. Pilihannya hanya 2 saja, menjadi orang gila dianggap waras atau menjadi orang waras tapi dianggap gila. Dan kebanyakan manusia memilih menjadi orang gila yang dianggap waras oleh kebanyakan manusia. Walaakinna aktsaron naasi laa ya’lamuun.[2] Manusia kebanyakan mengikuti aturan yang ada dan tidak mau mengambil resiko.

Agama bukan sekedar jargon dan platform. Agama adalah pengusung perubahan mikro dan makro. Perubahan sikap individu dan sosial. Perubahan dari skala kecil hingga kepada skala besar menuju cahaya Allah (An-Nur). Oleh karenanya mesti siap menanggung resiko. Bagi para Kekasih Allah menghadapi resiko adalah merupakan kebahagiaan tersendiri, lebih baik dianggap orang gila daripada gila sebenarnya (jununul ’uqala).

Inilah kelompok yang ditunggu-tunggu oleh Bangsa dan Negara ini sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa (founding fathers) dalam Undang-Undang ’45. Yakni mencapai bangsa yang penuh keadilan dan kesejahteraan. Melalui figur orang-orang yang berani ‘tampil beda’ (meski dianggap gila) inilah Bangsa dan Negara ini bisa terselamatkan.

Tanda (indikator) orang gila adalah tidak takut dan malu. Orang yang ingin terlepas dari jeratan hukum dengan berpura-pura gila juga memiliki rasa takut. Jika seseorang berani menjalankan agama dan tidak mengenal rasa malu dengan orang lain maka orang tersebut adalah orang yang berani mengambil resiko dianggap gila.

Sekarang ini banyak orang salah kaprah, tidak meletakkan rasa malu pada tempat sebenarnya yakni merasa malu melakukan kebaikan atau menegakkan kebenaran. Sedangkan dalam urusan kejahatan tidak merasa malu lagi. Meski sudah mengenakan baju tahanan KPK, penampilannya masih percaya diri (PeDe). Manusia banyak yang gila dunia, jabatan, harta, sanjungan, tapi anehnya mereka dianggap hebat.

Supaya benar-benar beribadah, banyak menyebut Nama Allah dan mengaplikasikan kesadaran kita dengan menjalankan ketetapan Allah walau berbeda dengan kebanyakan manusia, Allah akan memberikan tanda kegilaan kepada Allah berupa rasa berani dan tidak malu kepada manusia. Tidak ada kekhawatiran atasnya dan tidak merasa sedih dicaci maki orang dalam menjalankan kebenaran.

Orang yang melakukan kebenaran itu tidak hanya disebut gila, tapi juga akan mengalami keterasingan atau terpinggirkan (ter-marginal-kan). Mereka yang jujur dan bertanggungjawab sering terpinggirkan oleh sistem yang ada. Firman Allah menyatakan,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿يونس: ٦٢﴾
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Orang waras dianggap gila itu ternyata termasuk Awliya Allah. Karena mereka tidak peduli dengan keberadaan orang di sekelilingnya yang berbeda dengan dirinya. Mereka tidak mengenal rasa takut dan bersedih kepada selain-Nya.

Gaya hidup dan tradisi orang awam sekarang sama dengan kebanyakan manusia. Anak muda zaman sekarang tidak cukup mengidolakan artis luar, hingga didatangkan artis luar negeri. Meski harga tiketnya yang mahal pun dibeli. Cara joget dan berpakaian diikuti, karena terseret arus gelombang besar orang-orang yang jauh dari kebenaran. Mereka tidak mampu melawan arus tersebut. Dan hanya orang-orang yang jiwanya belajar cinta kepada Allah.

Dalam menjalankan agamanya telah melampaui batas kecintaan. Jika ibadah sholat, puasa hanya sebatas fiqih (tidak menembus relung jiwanya) sehingga merasa Allah terus mengawasi jiwanya, berarti belum dikatakan cinta kepada Allah. Orang yang belum cinta kepada Allah masih takut kepada manusia. Ia takut disebut gila, takut terpinggirkan, takut tidak bisa makan.

Orang yang belajar cinta kepada Allah akan diberikan jiwa yang tangguh. Dalam menjalankan agama, mereka sudah masuk ke dalam penghayatan (memasuki alam rasa)[3]. Terjadi komunikasi antara dirinya dengan Allah sehingga jiwanya terus menyambung . Inilah awal seorang hamba mencintai Allah.

Dalam konteks cinta, seseorang yang mencintai akan menyatu jiwanya dengan yang dicintainya. Ke manapun ia melangkah akan selalu terbayang yang dicintainya. Saat makan, bekerja, hingga terbawa ke alam mimpi. Semestinya dalam menjalankan ajaran keagamaan tidak hanya sebatas fisiknya semata, tapi menyentuh aspek penghayatan jiwa (tasawuf). Ia selalu menjiwai berbagai pelaksanaan ibadahnya.

Kita mesti terus belajar menghayati agama dengan penuh kesadaran. Caranya adalah melalui media majelis dzikir dan ilmu. Melalui media tersebut lisan dilatih untuk berdzikir. Lidah yang basah menyebut Nama Allah karena banyaknya akan menyebabkan makna Asma tersebut masuk ke dalam jiwanya. Jiwanya akan bergerak menangkap sesuatu yang ghaib. Ia merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya. Inilah jalan awal mencintai Allah.

Jika terus belajar mencintai Allah maka Allah akan memberikan tanda kegilaan. Begitu besar cinta menyebabkan tergila-gila. Dalam Al-Quran disebut dengan Asyaddu Hubbal lillaah. Orang-orang yang beriman itu tidak sebatas cinta, tapi tergila-gila kepada Allah. Tergila-gila itu melampaui sekedar cinta.

Tanda kegilaan adalah laa khoufu ’alayhim, jiwanya tidak dilanda rasa takut. Yakni takut miskin, difitnah dan dihinakan orang. Tapi takut akan ancaman (murka) Allah, takut menjalankan sesuatu yang dilarang Allah. Ia menghindar dan memutus rantai media yang akan menyebabkan dirinya terperosok ke jurang kehinaan dan siksa akibat melakukan dosa atau larangan Allah.

Sebaliknya Orang yang tergila-gila dengan dunia dan kehidupannya takut tidak makan padahal ia sedang makan, takut tidak menjabat padahal ia sedang menjabat. Para Hakim kalah dengan suap, para politisi takut tidak mendapat jabatan. Manusia semakin serakah, tamak, dan takut ditinggalkan dunia. Inilah yang menyebabkan negara bahkan dunia porakporanda (hancur).

Allah mengisyaratkan jika ingin dibukakan barokah dari langit dan bumi, mesti diisi dengan orang-orang yang gila kepada Allah.

Kita lihat diri kita apakah sudah laa khoufun sebagaimana karakter para kekasih Allah atau masih dihinggapi ketakutan dan kekhawatiran hidup. Allah mencabut rasa takut dan kekhawatiran dalam hati orang beriman, sehingga timbullah keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan tampil beda karena kebenaran. Inilah yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan yang besar, diawali melalui diri dan keluarga.

Indikator kedua adalah walaa hum yahzanuun, jiwanya tidak merasa sedih, galau, bingung, gundah gulana dalam urusan dunia. Tenang, tenteram dan penuh kepastian selalu menyelimuti jiwanya. Ini merupakan deskripsi jiwa yang mencicipi kebahagiaan hakiki sebelum datangnya akhirat. Hidupnya terasa nikmat, karena jiwanya senantiasa menghadap dan mengabdi kepada Allah.

Kesimpulan

Fungsi agama adalah sebagai perubahan, yakni merubah sikap, pikiran, dan tindakan, baik secara individu maupun kolektif. Resiko menjalankannya adalah dituding gila (tapi bukan gila sebenarnya), karena mereka adalah kelompok minoritas yang berani tampil beda demi kebenaran. Mereka yang mampu melakukannya adalah orang-orang yang tidak mengenal rasa takut dan khawatir dalam urusan dunia ini, karena jiwanya selalu menghadap kepadaNya.


[1] Q.S. Al-Qalam: 51, Asy-Syu’ara: 27.

[2] Q.S. As-Saba: 28.

[3] Jiwanya merasakan bahwa Allah selalu mengawasi.

http://www.al-idrisiyyah.com/